Selasa, 14 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Mutiara Ramadan

Siklus Rehat Alat Pencernaan Selama Satu Bulan Ramadan (2)

Seorang tabib diutus oleh Muqauqis, Raja Mesir kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai ungkapan solidaritas sosial

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/IST
Hasan Basri Husin Wakil Katib Syuriah PW Nahdlatul Ulama Provinsi Jambi 

Makan pagi pukul 07.00, system pencernaan bekerja menghaluskan, mencerna dan menyerap masuk ke dalam darah sampai terakhir kurang lebih pukul 15.00

Makan siang pukul 13.00, belum selesai pekerjaan memberesi makanan pagi, sistem pencernaan bekerja lagi memberesi makanan siang sampai kurang lebih pukul 21.00.

Makan malam pukul 19.30, belum selesai pekerjaan memberesi makanan siang plus pagi, sistem pencernaan bekerja lagi membereskan makanan malam sampai kurang lebih pukul 03.30, pagi.

Baca juga: Kisah Ramadan Mahasiswa Jambi dari Olak Kemang di Rusia, Puasa Hingga 19 Jam 

Baca juga: Mutiara Ramadan - Bulan Ramadan dan Dilema Pedagang Warteg

Baca juga: Standar Zakat Fitrah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Telah Ditetapkan, Segini Besaranya

Baca juga: Cerita Pilu Istri Letda Rhesa Saat Antar Suami ke KRI Nanggala, Aku Pasti Kangen Banget Sama Kamu

Ada kenyataan lain lagi yang makin memberatkan pekerjaan sistem pencernaan yaitu kebiasaan makan cemilan atau kudapan atau makanan selingan yang waktunya sangat tidak beraturan.

Sekarang mari kita lihat gambaran kondisi sistem pencernaan dalam keadaan berpuasa, yaitu makan sahur pukul 03.30 pagi, sistem pencernaan bekerja menghaluskan, mencerna dan menyerap masuk ke dalam darah sampai terakhir lebih kurang pukul 11.30.

Berbuka pukul 18.15, maka antara pukul 11.30 sampai 18.15 menjelang malam yaitu lebih kurang enam jam, tidak ada beban baru berupa makanan yang masuk, alat-alat pencernaan istirahat selama kurun waktu lebih kurang enam jam dan baru akan bekerja lagi dimulai sejak berbuka sampai lebih kurang pukul 01.30 dini hari, kemudian istirahat lagi lebih kurang 2 (dua) jam sampai dimulainya makan sahur.

Siklus rehat alat pencernaan selama satu bulan Ramadan ini memberikan dampak positif yang sangat luar biasa bagi kesehatan fisik manusia yang berpuasa karena memberikan interval yang sangat panjang bagi kerja organ-organ tubuh seperti lambung, ginjal dan liver.

Selama itu tubuh tidak menerima masukan makanan maupun minuman sehingga menimbulkan efek berupa rangsangan terhadap seluruh sel, jaringan, dan organ tubuh, efek rangsangan ini menghasilkan, memulihkan dan meningkatkan fungsi-fungsi organ sesuai dengan fungsi biologisnya, misalnya panca indera menjadi lebih tajam.

Dengan berpuasa, organ-organ tubuh mengalami interval terpelihara, daya tahan tubuh dan taraf kesehatan menjadi prima, gerak dan mekanisme tubuh dalam keadaan fresh dan rileks sehingga memberi kesempatan kepada sel-sel dan jaringan-jaringan tubuh untuk memperbarui diri setelah sekian lama terus-menerus bekerja .

Menurut hasil penelitian di universitas Osaka Jepang tahun 1930, setelah memasuki hari ketujuh berpuasa, jumlah sel darah putih dalam darah orang-orang yang berpuasa meningkat. Pada minggu pertama (hari kesatu sampai hari keenam) berpuasa, tidak ditemukan pertumbuhan sel darah putih namun pada hari ketujuh sampai hari kesepuluh penambahan jumlah sel darah putihnya pesat sekali.

Penambahan jumlah sel darah putih ini secara otomatis meningkatkan kekebalan tubuh, sel-sel darah putih ini berfungsi melawan peradangan yang ada dalam tubuh sehingga banyak penyakit radang yang dapat disembuhkan dengan berpuasa seperti radang tenggorokan, radang hidung, radang amandel, radang lambung yang kronis, radang usus kronis dan radang persendian.

Eksperimen para peneliti di Amerika terhadap tikus-tikus putih yang tubuhnya diinjeksi dengan sel-sel kanker membuktikan bahwa kelompok tikus yang diberi terapi puasa tidak terkena kanker, sebaliknya tikus yang tidak diberi terapi puasa terkena kanker.

Hasil penelitian pakar kedokteran Taiwan membuktikan bahwa pada tubuh manusia normal setiap hari di produksi sel-sel kanker, akan tetapi ternyata jumlah orang yang tidak terkena kanker jauh lebih banyak, ini bisa terjadi karena tubuh manusia memiliki zat yang berfungsi menetralisir racun.

Sel getah bening yang berada dalam sel darah putih memiliki keampuhan menghancurkan sel-sel kanker yang disebut vaksinasi sel, dan sekali lagi patut dipertegas bahwa puasa adalah media penghasil sel darah putih yang sangat luar biasa pesat.

Dengan demikian, pengaruh puasa terhadap Kesehatan jasmani selain aspek pengobatan yang sangat signifikan ialah aspek pencegahan dan aspek perlindungan. Jadi pantaslah jika sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Sayyidina Ali Bin Abi Tholib Karromallahu Wajhah menceritakan dengan semangat keyakinan yang sangat tinggi tentang jaminan kesehatan fisik jasmani bagi orang-orang yang berpuasa.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved