Wawancara Eksklusif

Kisah Ramadan Mahasiswa Jambi dari Olak Kemang di Rusia, Puasa Hingga 19 Jam 

Pemuda asal Olak Kemang yang kini diamanahkan sebagai ketua Ikatan Diaspora Muda (IDM) Jambi ini, jauh-jauh kuliah di Rusia

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUN JAMBI/IST
Teguh Imanullah diaspora Indonesia asal Jambi di Rusia, ketua Ikatan Diaspora Muda (IDM) Jambi 

Melanjutkan studi di luar negeri memberikan pengalaman tersendiri bagi Teguh Imanullah, mahasiswa jurusan Nanoteknologi di Belgorod State National Research University. Sosok diaspora Indonesia dari Jambi.

Pemuda asal Olak Kemang yang kini diamanahkan sebagai ketua Ikatan Diaspora Muda (IDM) Jambi ini, jauh-jauh kuliah di Rusia yang berjarak 17 jam perjalanan via pesawat dari Jambi.

Bagaimana kisah pemuda kelahiran 10 Oktober 1998 yang sejak 2016 lalu domisili di Kota Belgorod? Apa saja perbedaan Ramadan di Jambi dengan di sana? Tribuners, berikut petikan wawancara Tribun Jambi bersama Teguh Imanullah.

Kenapa memilih kuliah di Rusia? Apa motivasinya?
Teguh: Sebenarnya dari kecil pengin kuliah di luar negeri. Waktu di MAN Insan Cendikia Jambi, kita dipadatkan dengan berbagai kegiatan, padahal sempat daftar beasiswa sana-sini, tapi karena memang mepet dan tidak terlalu fokus, akhirnya terbengkalai.

Alhamdulillah, sempat lulus di Undip (Universitas Diponegoro) dan sempat setahun di sana. Saya sempat juga cari beasiswa. Melihat Rusia, khususnya negara dengan kemajuan teknologi luar biasa, itu juga yang menjadi pertimbangan saya untuk ke Rusia. Perkembangan material, Rusia juga termasuk yang terdepan dibandingkan negara-negara lain juga. Itu juga yang memotivasi saya untuk belajar nanomaterial.

Saya belajar nanomaterial itu tahunya dari Undip. Awalnya saya pengin masuk kedokteran, tapi setelah saya kuliah di Kimia, Undip, saya pikir ternyata nanomaterial seru karena saya juga suka kimia. Akhirnya, oke, saya pilih di Rusia.

Info-info beasiswa dan sekolah di luar negeri terbuka atau kita sendiri yang harus rajin mencari?
Teguh: Beasiswa itu pada dasarnya banyak nian. Tapi sekarang kita sedang aktif di instagram. Kita bisa follow akun-akun (yang menginformasikan kuliah luar negeri). Sekarang yang menjadi sumber informasi selain berita, itu adalah instagram. Di sana banyak banget informasi.

Apakah itu ekslusif? Enggak juga. Kadang juga dari grup-grup WA kita saling share. Tapi satu di antara faktor terbesarnya saat ini lebih kepada alumni. Alumni di sini bisa mengarahkan, walau pun tidak bisa menggaransi.
Sebelum Covid-19, IDM Jambi bikin IDM Goes to School, juga ada IDM Goes to School and Campus, jadi teman-teman bisa langsung lihat bagaimana kuliah di negara-negara luar ini.

Ketika sampai di sana banyak hal baru diperoleh, termasuk budaya yang berbeda jauh dengan Jambi . Apa yang dirasakan berbeda?
Teguh: Ada dua hal yang masih terngiang-ngiang. Pertama, dingin, padahal sudah beli jaket. Kedua, bahasa di sini pakai bahasa Rusia semua. Saya cuma tahu huruf-hurufnya, karena sempat diajari senior sebelum berangkat.

Kalau makanan, saya termasuk orang yang tidak pilih makanan, ya. Di sini orang tidak familiar dengan makan nasi banyak. Di sini nasi secukupnya, cuma banyak lauk dan salad. Awalnya tidak ada rasanya, sampai akhirnya terbiasa.

Butuh berapa lama menyesuaikan diri?
Teguh: Adaptasi itu tergantung kita, ya. Ketika kita bisa menerima diri sendiri dan keadaan, itu akan mempermudah kita untuk beradaptasi.

Kemudian kita juga harus mau belajar. Misalnya standar sopan santun, karena ini kan beda negara. Kalau waktu itu, saya setahun pertama (sudah bisa beradaptasi).

Tidak terlintas niat kembali ke Indonesia, karena menghadapi tantangan itu?
Teguh: Kalau saya tidak, tapi teman-teman ada. Makanya, saya itu kalau Ramadan, di sini salat jumat karena tidak terlalu banyak jadwalnya, saya ke masjid.

Di sini kan pakai Bahasa Rusia semua, awalnya itu bikin saya pusing. Ini ngomong apa? Tapi dari sana saya belajar Bahasa Rusia yang dipakai komunikasi tiap hari. Alhamdulillah, sekarang saya pun bisa ngomong kayak mereka kalau diperlukan.

Apa yang tidak ditemukan saat Ramadan di Jambi, tapi ditemukan di Rusia?
Teguh: Keindahan Islam itu sendiri. Jaringan Islam, atau ukhwah Islam itu kental banget di sini. Kalau kita di sana kan biasa, kalau di sini itu beda.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved