Breaking News:

Berita Batanghari

Aktivitas PETI di Lahan Persawahan, Warga Maro Sebo Ulu Khawatir Soal Pertumbuhan Padi

Kepala Desa Sungai Ruan Ilir, Rudiono membenarkan kegiatan itu masih ada, pertama kali beraktivitas sejak Januari 2021

Istimewa
Aktivitas PETI di Lahan Persawahan, Warga Maro Sebo Ulu Khawatir Soal Pertumbuhan Padi 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN-Aktivitas pertambangan emas ilegal (PETI) masih terjadi di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.

Kali ini aktivitas itu telah menyasar di lingkungan persawahan di Desa Sungai Ruan Ilir, Maro Sebo Ulu.

Hal itu diakui oleh satu diantara warga Desa Sungai Ruan Ilir, Kecamatan Maro Sebo Ulu yang tak ingin namanya disebutkan, Kamis (22/4/2021).

Katanya, aktivitas itu memang sedang terjadi di desa, tepat dilingkungan sawah masyarakat desa.

"Memang sekarang tidak lagi musim tanam, tapi masyarakat khawatir akan kuantitas dan kualitas hasil padi nanti, jika masuk masa panen dan aktivitas itu tetap saja masih berlangsung, bagaimana dengan hasil panennya," kata warga Desa Sungai Ruan Ilir, Kamis (22/4/2021).

Dia mengaku setidaknya ada puluhan dompeng yang masih beraktivitas di sana, walaupun imabaun untuk melakukan aksi itu dilarang.

"Papan larangan yang dipasang disekitar desa agaknya kurang diperhatikan oleh pelaku
Peti, terkesan diabaikan saja," katanya.

Sejauh ini, aktivitas itu sering terjadi pada waktu siang dan malam setiap saat, memang dari pemukiman warga jika ingin ke lokasi memerlukan waktu 20 menit menggunakan perahu artinya kurang lebih 2 kilometer.

"Masyarakat tidak lagi komplein, karena percuma. Waktu itu pada Februari sekelompok masyarakat pernah audiensi bersama Camat, Polsek dan pemerintah desa namun belum ada solusi dan tindak lanjutnya," ucapnya.

Aktivitas itu pasti sangat berdampak dengan kerusakan lingkungan dan pencemaran sungai, apalagi dekat dengan sawah, pastilah akan mengganggu pertumbuhan padi.

"Saat ini masyarakat mau lihat dulu apakah dari kegiatan itu akan berdampak kepada pertumbuham padi dan hasil panen nanti, jika merugikan masyarakat akan menindaklanjuti aktivitas itu," sebutnya.

Kepala Desa Sungai Ruan Ilir, Rudiono membenarkan kegiatan itu masih ada, pertama kali beraktivitas sejak Januari 2021 ini. Pihak desa telah mengadakan audiensi bersama pelaku peti dan masyarakat desa, namun belum ada solusi mengatasi hal itu.

"Pada malam hari pun aktivitas itu masih berjalan, karena suara mesim dompeng itu masih terdengar dipemukiman warga," tutupnya.

Baca juga: Kasihan, Belasan Bayi di Desa Pungut Mudik Jambi Disinyalir Kehabisan Susu, Imbas Di-lockdown

Baca juga: Kejaksaan Negeri Sarolangun Berikan Takjil pada Masyarakat

Baca juga: Perangkat Desa di Kerinci Belum Bisa Gajian

Penulis: A Musawira
Editor: Nani Rachmaini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved