MUTIARA RAMADAN

Mutiara Ramadan - Mengukur Standar Puasa Kita

Tidak cukup dengan model berpuasa sekedar menggugurkan kewajiban saja, dan hanya bisa menahan lapar, dahaga dan hubungan suami istri di siang hari.

Editor: Duanto AS
Tribun Jambi
Mutiara Ramadan - Mengukur Standar Puasa Kita 

Saidina Usman El Quraisy
(Wakil Ketua STAI Ahsanta Jambi/Wakil Sekretaris PW GP Ansor Provinsi Jambi)

SEBAGAIMANA telah kita maklum bersama, tujuan utama pelaksanaan ibadah puasa ramadan adalah untuk terbentuknya pribadi-pribadi bertakwa. Dari situ, dengan sendirinya akan tercipta komunitas masyarakat yang bertakwa pula.

Jika masyarakat suatu negeri telah beriman dan bertakwa, maka Allah menjanjikan akan membuka pintu-pintu keberkahan dari penjuru langit dan bumi.

Lalu kita menerka, apakah negeri kita ini sudah diberkahi? Masyarakat kita sudah benar-benar menjadi masyarakat yang beriman dan bertakwa?

Apakah puasa ramadan yang saban tahun mengunjungi kita ini mampu membuat kita bertransformasi menjadi pribadi ideal yang diharapkan Allah dan rasulNya?

Puasa memang bertujuan untuk mewujudkan pribadi bertakwa, tapi tentu tidak cukup dengan puasa dengan standar biasa-biasa saja.

Tidak cukup dengan model berpuasa sekedar menggugurkan kewajiban saja, dan hanya bisa menahan lapar, dahaga dan hubungan suami istri di siang hari.

Tapi tidak mampu ‘mempuasakan’ panca indera, hati dan pikiran dari hal-hal yang merusak pahala puasa. Praktik puasa dengan standar ini telah dianulir oleh Rasulullah SAW: “Banyak dari ummat yang berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa (dari puasanya) kecuali lapar dan dahaga saja.”

Standar puasa yang (mudah-mudahan) dapat mengantarkan kita kepada ketakwaan adalah puasa yang dilandaskan atas dasar ruhiyah spritual yang tinggi (Syiam al-Ma’rifah).

Setidaknya ada tiga hal yang harus ada dalam standar puasa kita, untuk bisa mencapai maqam tersebut.

Pertama, mahabbah (landasan cinta). Perintah pelaksanaan puasa yang disambut denagn gegap gempita penuh suka cita dan bahagia.

Kita berpuasa bukan lagi karena merasa ini sebatas kewajiban saat ramadan menjelma menyapa kita, tapi lebih dari itu, puasa adalah kebutuhan sekaligus sebagai waktu yang ditunggu-tunggu untuk membuktikan kecintaan kepada Allah, yang selama ini telah sangat amat baik kepada kita.

Puasa kita adalah ungkapan syukur atas segala nikmat yang dicurahkan.

Puasa diamallaksanakan karena meluapkan rasa rindu kepada Allah yang telah lama mengharu biru dan menyesakkan dada kita. Sehingga muncul dalam diri sebuah tekad untuk tidak akan melewatkan walau satu detik dari bulan ramadan kecuali melaksanakan kebaikan-kebaikan.

Tidak ada lagi rasa berat yang bersangatan hanya sekedar melaksanakan tarawih 20 rakaat. Atau sekedar menyisihkan sebagaian dari rizki untuk berbagai dengan sesama.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved