Breaking News:

Dua Perusahaan Batu Bara akan Beroperasi, Pendamping SAD Khawatir Timbulkan Konflik

Pendamping Masyarakat Hukum Adat (MHA) Suku Anak Dalam (SAD) Tebo, Ahmad Firdaus mengatakan, wilayah hidup SAD di desa Muara Kilis,

Hendro
Ketua Yayasan ORIK Tebo, Ahmad Firdaus 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARATEBO - Pendamping Masyarakat Hukum Adat (MHA) Suku Anak Dalam (SAD) Tebo, Ahmad Firdaus mengatakan, wilayah hidup SAD di desa Muara Kilis, Kacamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, saat ini semakin terancam.

Bukan saja dari rencana kegiatan pertambangan batu bara PT Bangun Energi Perkasa, namun ancaman yang sama juga dari rencana kegiatan tambang PT Batanghari Energi Prima.

"Ternyata ada dua perusahaan batu bara yang bakalan beraktivitas di desa itu. Potensi konflik bakal besar terjadi," ungkap Firdaus, Senin (5/4).

Firdaus menjelaskan, di Desa Muara Kilis Kacamatan Tengah Ilir Kabupaten Tebo terdapat MHA SAD Kelompok. Yakni dari Temenggung Apung dan kelompok Temenggung Tupang Besak.

MHA SAD ini diperkirakan sudah ratusan tahun berdomisili di wilayah desa Muara Kilis. Menurut dia, jika perusahaan tambang batu bara itu tetap beroperasi, bakal menimbulkan konflik yang berkepanjangan.

Diakui dia, jika kawasan MHA SAD dua kelompok temenggung tersebut belum masuk data Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) karena belum dilakukan pemetaan partisipatif. Namun secara sejarah mereka sudah ratusan tahun berada di wilayah itu, dan hal ini diakui oleh masyarakat desa Muara Kilis dan masyarakat desa sekitar.

"Ini juga diperkuat dengan Surat Keputusan Kepala Desa Muara Kilis Nomora: 05 Tahun 2021 tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Suku Anak Dalam Kelompok Temenggung Apung," katanya.

Penulis: HR Hendro Sandi
Editor: Fifi Suryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved