Cerita Demonstran Myanmar, Tinggalkan Pesan Mendalam Sebelum Akhirnya Menghembuskan Napas Terakhir

Dia ditangkap pada 15 Maret sekitar pukul 11.00 waktu setempat setelah meninggalkan rumah untuk bergabung dalam demonstrasi anti junta militer.

Editor: Muuhammad Ferry Fadly
kolase/tribunjambi.com
Unjukrasa di Myanmar antara warga sipil melawan junta militernya 

TRIBUNJAMBI.COM - PNS muda bernama Ko Tun Htet Aung.

Ia Tergabung dengan gerakan pembangkangan sipil (CDM) yang dilaporkan tewas diduga karena disiksa pasukan keamanan usai ditahan di Monywa, Wilayah Sagaing, Myanmar.

PNS yang bekerja di kehutanan tersebut akrab dipanggil Phoe Nge, alias bocah laki-laki.

Ia merupakan anggota termuda di keluarganya sebagaimana dilansir The Irrawaddy, Kamis (18/3/2021).

Dia ditangkap pada 15 Maret sekitar pukul 11.00 waktu setempat setelah meninggalkan rumah untuk bergabung dalam demonstrasi anti junta militer.

Baca juga: Perbaikan Tiang Jembatan Batanghari I Terkendala Tingginya Muka Air Sungai Batanghari

Baca juga: Kondom Sering Ditemukan di Sekitar Hotel Milik Artis Cynthiara Alona Jadi Hal Wajar Bagi Warga

Baca juga: Warga Sarolangun Bisa Mendaftar Penerimaan Anggota Polri 2021 Lewat Portal Panitia Polres Sarolangun

Dia meninggal karena pendarahan internal di kepalanya pada Kamis pukul 3:10 waktu setempat di Rumah Sakit Mandalay, kurang dari dua belas jam setelah dia dibebaskan dari tahanan.

Sebelum Ko Tun Htet Aung dibebaskan, pasukan keamanan telah menahannya di Rumah Sakit Umum Monywa.

Di sana, dia dikabarkan tidak mendapatkan perawatan medis yang layak, menurut keluarga Ko Tun Htet Aung.

Keluarganya juga tidak diizinkan untuk mengunjungi atau berkomunikasi dengannya.

Saudara Ko Tun Htet Aung mengatakan kepada The Irrawaddy bahwa mereka hanya diperbolehkan mengirim pakaian.

“Ibu kami memohon kepada mereka (pasukan keamanan) setidaknya mengizinkan kami berbicara dengannya melalui telepon untuk mengetahui kondisi aslinya,” kata saudara Ko Tun Htet Aung.

“Tetapi kami tidak diizinkan untuk berbicara dengannya dan diberi tahu bahwa kondisinya tidak buruk dan hanya mengalami sedikit memar,” imbuhnya.

Ko Tun Htet Aung lantas dibebaskan pada Rabu (17/3/2021) setelah mereka menandatangani pengakuan yang mengatakan bahwa dia akan kembali bekerja setelah pulih.

Namun, saat dibebaskan, Ko Tun Htet Aung tidak dapat berjalan, matanya berwarna ungu kebiruan, dan dia hanya sadar untuk waktu yang singkat.

Keluarga Ko Tun Htet Aung lantas membawanya ke Rumah Sakit Mandalay untuk diberi perawatan lebih lanjut.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved