Editorial

KLB Partai Demokrat, Hiburan Menyedihkan di Kala Pandemi

KLB Partai Demokrat Deliserdang yang kemudian mendapuk orang luar, yakni Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Ketum Partai Demokrat AHY, Minggu (7/3/2021) 

Dalam sebuah organisasi, kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan.

Inilah yang sesungguhnya bisa menjadi piranti pemersatu sebuah organisasi.

Menembus sekat-sekat senioritas juga usia sehingga membuat solid organiasai.

Persoalan kepemimpinan inilah yang oleh segelintir orang, memicu ketidakpuasan terhadap sosok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Ketidakpuasan yang memicu Kongres Luar Biasa (KLB) oleh mereka yang kontra-AHY.

KLB yang kemudian mendapuk orang luar, yakni Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB Deliserdang,Sumatera Utara.

Lepas dari soal kepemimpinan, namun sederet fakta yang muncul seakan kian menguatkan apa yang disampaikan AHY bahwa ada yang mencoba melakukan kudeta terhadap kepemimpinannya.

Bahkan, pengakuan dari mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo semakin mengejutkan.

Gatot, yang sempat digadang-gadang mengincar kontestasi pilpres, mengaku pernah diajak untuk menggulingkan AHY.

Dan apa yang disampaikannya, sejalan dengan apa yang kini sudah terjadi.

Etika dan moral Gatot akhirnya menolak bujukan menggiurkan itu. Ia masih menaruh hormat kepada mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Apa yang terjadi terhadap Partai Demokrat ini mengingatkan kita pada Machiavelli. Filsuf yang berpendapat bahwa kekuasaan harus direbut dengan berbagai cara. Apapun itu.

Baca Berita Jambi lainnya

klik:

Baca juga: Tolak Hasil KLB, Pengurus Demokrat Provinsi Jambi Antar Berkas Kepengurusan ke KemenkumHAM

Baca juga: Tolak KLB di Medan, Kader Demokrat Bungo Siap Ribut

Baca juga: Pagi Ini Sukandar Kumpulkan Forkopimda ke Kantor Bupati Bahas PETI

Baca juga: Dijemput Maut saat Bercinta, Kakek 70 Tahun Kejang lalu Tewas hingga PSK yang Melayani Syok

Tak peduli sekotor apapun caranya.

Begitulah kekuasaan.

Ia membuat haus yang sudah menggenggamnya. Ia menjadi candu.

Yang sudah ada dipertahankan, yang belum dimiliki diraih tak peduli bagaimana caranya.

Nafsu berkuasa, nafsu politik hari-hari mendatang kiranya akan menjadi sering jadi tontonan khalayak. Hiburan menyedihkan di tengah pandemi. (*)

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved