Rabu, 6 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Selebritis

Myanmar Mencekam! Suster Ini Berlutut Menangis Depan Barikade Polisi, Sukses Selamatkan Demonstran

Bahkan hari Minggu kemarin, 28 Februari 2021 tersiar kabar paling berdarah akan bentrok militer dan sipil di negara tersebut.

Tayang:
Editor: Andreas Eko Prasetyo
TWITTER @CardinalMaungBo
Hari Paling Berdarah di Myanmar, Suster Ini Menangis Sambil Berlutut di Hadapan Barikade Polisi, Aksinya Berhasil Selamatkan Ratusan Pendemo 

TRIBUNJAMBI.COM - Kudeta di Myanmar masih jadi sorotan dunia saat ini.

Bahkan hari Minggu kemarin, 28 Februari 2021 tersiar kabar paling berdarah akan bentrok militer dan sipil di negara tersebut.

Seperti gambar dari sebuah foto seorang suster yang menangis sambil berlutut di depan barikade polisi ini menjadi viral.

Seperti yang diketahui, polisi sedang mengejar demonstran di Myanmar jadi perbincangan publik dunia internasional.

Baca juga: Myanmar Kian Memanas, Polisi Tembak Mati Tujuh Pengunjuk Rasa Anti-kudeta Hingga Banyak yang Terluka

Baca juga: Gegara Arogansi Junta Militer Myanmar yang Blokir Sosmed Warganya, Facebook Beri Serangan Balasan

Baca juga: Inggris Hukum Enam Jenderal Pemimpin Kudeta Myanmar, Kini Hidupnya Kini Berubah Drastis

Foto tersebut memperlihatkan sang suster yang terlihat berderai air mata dan berjalan menuju barikade polisi Myanmar.

Sesampainya di depan barikade polisi yang berpakaian lengkap tersebut, sang suster langsung pun mendadak bertindak membahayakan dirinya dengan berlutut dan terlihat memohon.

Foto ini sempat viral di media sosial Twitter saat demo penolakan kudeta pecah di Myanmar baru-baru ini.

Foto itu pertama kali dibagikan oleh Uskup Agung Katolik Roma di Yangon, Myanmar, Kardinal Charles Maung Bong melalui akun Twitter pribadinya.

Beberapa foto juga ikut diunggah oleh Maung Bo mengenai kejadian tersebut terjadi di negaranya tersebut.

Melansir dari Twitter, Minggu (28/2/2021) Sang Uskuo Agung, Maung Bo menyebutkan bahwa suster tersebut berlutut tepat di depan barisan polisi.

Suster itu diketahui bernama Ann Nu Thawng.

Sambil menangis suster itu berlutut, suster Ann Nu Thawng memohon pada para polisi agar berhenti dan menghentikan aksinya dengan menangkapi para pengunjuk rasa.

Terkait aksi yang dilakukan suster Ann Nu Thawng ini, membuat setidaknya ratusan demonstran tak jadi diamankan oleh pihak kepolisian saat demonstrasi itu terjadi.

“Hari ini (Minggu), kerusuhan parah melanda seluruh negeri. Polisi menangkap, memukuli, dan bahkan menembaki rakyat,” ungkap Maung Bo.

“Dengan berurai air mata, suster Ann Nu Thawng memohon dan menghentikan polisi untuk berhenti menangkap para pengunjuk rasa,” kata Maung Bo.

Baca juga: 53 Orang Pegawai Kejari Muarojambi Jalani Rapid Test Antigen, Ini Hasilnya

Baca juga: Gebyar Kimia Unja Diikuti Ribuan Peserta, Rektor Mendukung Himpunan Mahasiswa

Baca juga: BREAKING NEWS Pamit ke Isteri Mau BAB, Fajri Ditemukan Tewas Sejauh 50 Meter

Melansir dari Kompas.com, pada hari Minggu (28/2/2021) adalah hari yang paling berdarah dalam sejarah Myanmar dalam kudeta tersebut.

Hal itu dilaporkan setelah demo penolakan kudeta militer berubah mendadak menjadi sebuah kerusuhan.

Junta militer mengatakan, seorang polisi dinyatakan tewas dalam kerusuhan itu, seperti halnya yang dilansir dari Reuters.

Dunia internasional pun sampai mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak polisi di Myanmar untuk membubarkan aksi protes pada Minggu.

Pihak PBB yang mengetahui hal tersebut turut buka suara mengenai kudeta dan kekerasan pihak petugas ke sipil.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui Juru Bicara PBB Stephane Dujarric pada Minggu, mengecam tindakan junta militer sebagaimana dilansir Al Jazeera.

"Penggunaan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa damai dan penangkapan sewenang-wenang tidak dapat diterima," ujar Dujarric.

Mengutip dari AFP, Kepala Diplomatik Uni Eropa Josep Borrell sampai mengutuk tindakan kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar pada para demonstran.

Borrell juga mengkonfirmasi bahwa militer Myanmar juga wajib harus bertanggung jawab dan bakal menerima sanksi dari blok tersebut.

Pada 4 Februari, Kardinal Charles Maung Bo juga mengunggah pernyataan resminya yang menolak kudeta militer melalui Twitter .

Dalam pernyataan tersebut, Maung Bo juga mengatakan bahwa rakyat Myanmar sudah sangat lelah dengan janji-janji palsu.

Baca juga: Pernyataan Ayus Sabyan Bikin Tebe Bingung dan Lemas, Lebih Pilih Nissa dari Ririe Fairus?

Baca juga: BREAKING NEWS 2,2 Hektare Kebun Kelapa Hibrida Ludes Dilalap Si Jago Merah

Baca juga: Promo KFC Terbaru Periode 1-12 Maret 2021: Ada Kombo Hoki hingga Personal Box Special KFC

“Anda (militer Myanmar) juga berjanji untuk mengadakan pemilu multipartai setelah satu tahun. Bagaimana Anda akan mendapatkan kepercayaan dari rakyat?” kata Maung Bo.

Dia juga menambahkan bahwa rakyat hanya bisa percaya jika janji-janji yang ada diimbangi dengan tindakan yang tulus.

“Kedamaian bisa dicapai. Kedamaian adalah satu-satunya jalan. Demokrasi adalah satu-satunya cahaya yang menuntuk ke jalan itu,” ujar Maung Bo.

(*)

IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:

Artikel ini telah tayang di SOSOK.ID

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved