Selasa, 28 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Roh Kudus akan Menolong

Bacaan ayat: Yehezkiel 36:26-27 (TB) - "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu

Editor: Suci Rahayu PK
ist
Ilustrasi renungan harian 

Roh Kudus akan Menolong

Bacaan ayat: Yehezkiel 36:26-27 (TB) - "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya".

Oleh Pdt Feri Nuhroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Mungkinkah memahami Alkitab sesuai pesan sebagaimana Alkitab itu maksudkan?

Pertanyaan ini terlontar sebagai wujud kebingungan bahwa tidak mudah memahami Alkitab.

Dalam perkunjungan kepada seorang jemaat yang sudah lanjut usia, kedapatan beliau sedang membaca Alkitab.

Terbata-bata menyusun kata demi kata menjadi sebuah kalimat panjang.

Beberapa kali terlihat kehilangan bagian ayat yang dibaca. Kadang terhenti untuk mengatur nafas dan kembali mambaca ulang.

Luar biasanya, dalam perbincangan beliau menyatakan bahwa setiap harinya berhasil menyelesaikan dua atau tiga pasal.

Terlintas pertanyaan demikian, pahamkah beliau dengan yang dibaca?

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Hidup Untuk Berkarya

Merenung sejenak, jika yang muda saja seringkali mengeluh tidak paham, bagaimana mungkin seorang lanjut usia dapat mengerti?

Jika yang lancar membaca saja sering tidak percaya diri untuk mengerti, bagaimana mungkin yang tersendat menyambungkan kata bisa memahami?

Perlu dipahami, bahwa pergumulan tersebut terjadi di sepanjang sejarah.

Gereja pernah membatasi akses terhadap Alkitab, berangkat dari kekuatiran bahwa jemaat bisa tersesat.

Maka hanya para pejabat gereja tertentu yang diijinkan memberikan pengajaran tentang Alkitab.

Di era keterbukaan, dimana segala bisa diakses oleh siapa saja, rasanya tidak mungkin pembatasan itu dilakukan.

Semua orang memiliki hak yang sama untuk menginterpretasikan apa yang dibacanya sesuai pemahaman masing-masing.

Baru dalam hal mengerti dan memahami saja sudah muncul berbagai kebimbangan, belum lagi ketika berhadapan dengan tuntutan ketaatan.

Mengerti dan paham baru separuh, separuhnya lagi adalah melakukan firman Tuhan tersebut dalam kehidupan hari lepas hari.

Cerita Alkitab terhubung langsung dengan sejarah. Bersentuhan dengan pengalaman kehidupan yang nyata dari para penulisnya.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Indah Pada Waktu-Nya

Meskipun harus berhadapan dengan konteks bahasa, budaya dan zaman yang berbeda, nampaknya tetap ada keseragaman pengalaman.

Bahwa kehidupan itu sarat dengan pergumulan. Rasa ditinggalkan, terabaikan, terasing, kebingungan, ketakutan, kebimbangan, berada di persimpangan jalan; menjadi masalah nyata keseharian dalam kehidupan.

Yang dibutuhkan adalah kabar pengharapan, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan.

Itu sebabnya pembacaan utuh Alkitab sangat menolong seseorang memahami maknanya dengan benar.

Hanya mencomot kata atau kalimat, mengisolasi nya sedemikian rupa; akan sangat rentan bagi seseorang kehilangan pesan utuh yang tersirat didalamnya.

Dalam beberapa hal, memang penggalan kalimat dapat menjadi kata mutiara yang menghibur dan menguatkan, namun tidak selamanya itu terjadi.

Beberapa penggalan justru menjadi tidak bermakna dan rentan tersesat dalam memaknainya.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Percaya Itu Pilihan Dalam Kehidupan

Sejak masa umat Tuhan dalam Perjanjian Lama, persolan tersebut berulang kali terjadi.

Ketidaktaatan umat kepada kehendak Tuhan, tidak melulu karena mereka tidak tahu, namun terkadang sudah tahu namun memilih untuk tidak taat.

Kasus ketidaktaatan juga dapat bersumber dari ketidaktahuan umat terhadap kehendak Tuhan, karena tidak ada yang memberi tahu.

Yehezkiel berhadapan dengan umat yang berulang kali memberontak dan tidak taat.

Peringatan yang disampaikan Yehezkiel berulangkali terabaikan. Umat mengeraskan hati.

Meskipun demikian, Allah terus mengasihi. Berulang-ulang umat diajak untuk taat kepada Allah, dan berulang-ulang pula mereka tidak taat.

Sampai pada suatu titik dimana Allah hendak memperbaharui kehidupan umat melalui tindakan dengan memperbaharui melalui Roh-Nya.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Konsekuensi Menjadi Pengikut Yesus Kristus

Bahwa Allah akan mengutus Roh-Nya untuk hadir dalam kehidupan umat, untuk membuat umat taat, hidup sesuai dengan segala ketetapan dan peraturan yang telah Allah tetapkan.

Roh Allah akan mengubah hati umat menjadi baru dalam ketaatan.

Ide peristiwa Pentakosta dimana para murid Yesus mendapat pencurahan dari Roh Kudus, ternyata telah tersemat dalam kehidupan umat pada masa Yehezkiel melayani.

Allah adalah Roh, dan Roh tersebut adalah kekal, berkarya sejak penciptaan yang melayang-layang diatas permukaan air, terus berkarya memperbaharui hati umat pada masa Yehezkiel, kepada para murid Yesus, bahkan sampai pada masa kehidupan kita hari ini; adalah Roh yang sama, itu Roh Allah sendiri.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Konsekuensi Menjadi Pengikut Yesus Kristus

Maka dipastikan akan menuntun kita untuk memahami Alkitab pada hari ini.

Jika masih mengalami kesulitan, mungkin yang terjadi kita sedang mengandalkan intelektualitas semata.

Saatnya membaca Alkitab dalam kerendahan hati dan percaya bahwa Roh Kudus, yaitu Roh Allah sendiri, untuk menuntun kita agar mengerti dan memahami Alkitab.

Bahkan membimbing kita untuk taat dengan melakukannya dalam kehidupan hari lepas hari.

Tanpa pandang bulu, tua muda, siapapun pasti bisa mengerti dan memahami Alkitab jika memohon tuntunan dan pimpinan Tuhan dalam prosesnya. Yakin dan percayalah, Roh Kudus akan menolong. Amin

Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved