Breaking News:

Disbudpar akan Terapkan Wisatawan Gentala Arasy Bersarung dan Berkain Duo

Pemakaian kain sarung untuk laki-laki dan Tudung Lingkup untuk Perempuan sengaja digalakkan di kawasan wisata Jembatan Gentala Arasy Kota Jambi untuk

ist
Disbudpar akan Terapkan Wisatawan Gentala Arasy Bersarung dan Berkain Duo 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pemakaian sarung dan kain duo atau Tudung Lingkup yang merupakan tradisi masyarakat Seberang Kota Jambi yang terkenal religius, kembali diperkenalkan Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi Jambi.

Pemakaian kain sarung untuk laki-laki dan Tudung Lingkup untuk Perempuan sengaja digalakkan di kawasan wisata Jembatan Gentala Arasy Kota Jambi untuk memperkenalkan kearifan lokal masyaraat seberang Kota Jambi kepada wisatawan.

Menurut Plt Kepala Disbudpar Provinsi Jambi Sri Purnama Syam, budaya dan pariwisata adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, kali kita bicara pariwisata maka akan ada budaya di dalamnya.

Baca juga: 1 Hektare Kuburan Cina di Alam Barajo Terbakar, 3 Armada Damkar Dikerahkan, 1 Jam Api Dipadamkan

Baca juga: Kasus Pertama di Dunia, Rusia Laporkan Adanya Virus Flu Burung H5N8 Menginfeksi Manusia

Baca juga: Suami Istri Terima Penghasilan Perbulan Rp 2 Miliar, Tapi Anaknya Terancam Dikeluarkan dari Sekolah

Kearifan lokal atau budaya lokal sangat mendukung sebuah objek wisata, termasuk kawasan Gentala Arasy dan Kota Seberang yang terkenal dengan Kota Santri.

" Kita Ingin kembali mengenalkan tentang budaya kain duo atau tudung lingkup yg biasa digunakan oleh kaum wanita di kota seberang yg saat ini mulai ditinggalkan serta kain sarung bagi laki-laki. Di mana generasi muda sekarang bahkan banyak yg mulai meninggalkan budaya-budaya tinggalan warisan nenek moyang kita," kata wanita yang akrab disapa Mba Ema.

Selain itu, agar anak-anak muda merasakan kembali bagaimana unik dan indahnya budaya masa lalu.

Dijelaskan Ema Tudung Lingkup adalah budaya di Seberang kota Jambi yang berarti kain yang menutupi kepala dan wajah seorang wanita, bahkan ada orang-orang yang menafsirkannya sebagai kerudung ataupun cadar.

Meskipun saat ini jarang ditemui di Jambi seorang wanita memakai tudung lingkup untuk keluar rumah atau bepergian, tapi tradisi ini pernah ada dan dipraktekkan oleh nenek moyang kita orang Jambi.

Wanita Jambi dimasa lampau mempunyai tradisi untuk menutup kepalanya dengan menggunakan kain atau selendang lebar.

"Inikan sebenarnya nenek moyang kita telah meninggalkan budaya yang sangat berarti, dan memiliki nilai yang tinggi," kata Ema.

Ke depan, menurut Ema pemakaian sarung dan tudung lingkup ini akan diterapkan kepada para wisatawan yang berkunjung ke Jembatan Pedestrian dan Museum Gentala Arasy. Apalagi di Museum tersebut ada Al-Quran besar di sana.

Halaman
12
Penulis: Zulkipli
Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved