China Mendadak Ngamuk Ingin Serang Rusia, Dendam Kuno Ini Buat Panas, Sejarah Vladivostok Terungkap
Sebuah catatan lama yang diterbitkan oleh WioNews mengatakan ada dendam lama yang belum terbayar oleh Rusia.
China Mendadak Ngamuk Ingin Serang Rusia, Dendam Kuno Ini Buat Panas, Sejarah Vladivostok Terungkap
TRIBUNJAMBI.COM - Rusia kini menjadi sekutu China yang tengah berseteru dengan Amerika Serikat.
Selama kepemimpinan Donald Trump, ketengahan AS dengan Tiongkok semakin meningkat, terutama konflik di Laut China Selatan.
Hal itu membuat beberapa negara menentukan sikap untuk memilih sekutunya. Hubungan Rusia yang juga tak harmonis dengan AS memilih bergabung dengan China.
Mungkin saat ini Rusia adalah teman terbaik China, sebagai sekutu untuk melawan Amerika.
Namun, bukan berarti China dan Rusia tidak akan menjadi musuh pada kemudian hari.
• Kesaksian Agen FBI Kejutkan Dunia, Ini Hasil Interogasi Lengkap Saddam Hussein Jelang Eksekusi Mati
• Amerika Panik, Kapal Induk AS Dibombardir Rudal Jet Tempur China, Laut China Selatan Kini Mencekam
• Malaysia Bongkar Sumber Kekayaan Timor Leste, Bukan Hanya Minyak, Sejarah Oecussi Akhirnya Terkuak
Karena menurut sebuah catatan lama yang diterbitkan oleh WioNews mengatakan ada dendam lama yang belum terbayar oleh Rusia.
Berdasarkan catatan sejarah itu, Rusia adalah negara terakhir yang akan menjadi musuh China.
Hal itu disebabkan oleh sengketa tanah sejak zaman kuno yang kini sedang dirangkai kembali oleh China, seperti unifikasi Taiwan, klaim laut China Selatan, kepulauan Spratly, dan kepulauan Diaoyu/Senkaku.
Sementara itu, salah satu kepingan yang hilang dari wilayah kuno China adalah di wilayah Rusia.
Wilayah itu adalah kota Vladivostok, kota Rusia yang sebelumnya adalah wilayah China milik dinasti Qing.

Rusia mengambil kendali wilayah itu sejak kekalahan kedua China dalam perang.
China menyerahkan wilayah itu ke Rusia di bawah perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1860.
Sejak itu, Vladivostok secara sah menjadi milik Rusia, tetapi China menolaknya karena perjanjian itu tidak sesuai.
Saat ini, China sudah melakukan kampanye propaganda untuk merebut wilayah Vladivostok.