WAWANCARA EKSKLUSIF

M Fadhil Arief Bicara tentang Gebrakan Baru, Tawarkan 36 Program untuk Kemajuan Batanghari

Nama M Fadhil Arief telah diumumkan sebagai Bupati Batanghari terpilih periode 2021-2024.

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Nani Rachmaini
Musawira
M Fadhil Arief (kiri) 

Saya suka tantangan. Kalau Sekda itu kan, menjalankan visi-misi kepala daerah. Tapi kalau kita ada ide kreatif agak sulit menerapkannya, karena kita bukan mengambil keputusan. Dari sana, timbul-timbul keinginan, kalau saya punya ide seperti ini, bagus diterapkan di masyarakat.

Tribun: Kapan ide menjadi bupati itu muncul?

Fadhil: Bulan puasa 2019. Saya itu sebenarnya cita-citanya menjadi PNS di top level eselon satu. Niatnya begitu, awalnya. Seiring waktu, berjalan ketemu teman, saudara, kayaknya Batanghari ini butuh saya. Ini kata mereka.

Tribun: Dalam pencalonan bupati ini siapa yang paling berpengaruh di dalam kehidupan Anda?

Fadhil: Pertama, keluarga dekat. Izin orang tua, karena saya menyakini restu orang tua, ridho orang tua, akan memudahkan langkah kita. Kemudian juga yang pasti istri.

Tribun: Dari awal banyak yang meragukan kemampuan finansial Anda, bagaimana menanggapi itu?

Fadhil: Banyak yang meragukan, karena saya diingatkan dari keluarga saya ada beberapa orang dari aparat.

Untuk memenangkan pertarungan, pertama yang harus kita pegang yakni harus mengenali kekuatan dan kelemahan dari diri kita sendiri, bagaimana kita secara utuh mengenali kelebihan dan kelemahan lawan, dan jangan sampai lawan kita mengenali kekuatan dan kelemahan kita.

Tribun Jambi: Lalu ada 36 program lebih yang ditawarkan kepada masyarakat, yang menjadi unggulannya ini apa?

Fadhil: Yang paling menyangkut hajat hidup orang banyak adalah mengoptimalkan hasil pertanian. Di Batanghari, 82 persen masyarakatnya adalah petani dari berbagai sektor. Ada tanaman pangan, perkebunan, karet, sawit, perikanan, dan peternakan.

Tribun: Ada 82 persen masyarakat yang  bergantung di sektor pertanian. Menurut Anda, bagaimana kondisi mereka, sehingga perlu mengangkat sektor tersebut?

Fadhil: Hajat hidup begitu besar ini ternyata di Batanghari hasilnya belum maksimal. Kita masih ketemu kebun karet di Batanghari, yang satu hektare cuma dapat lima kilogram sekali panen. Apa lagi harganya tidak pasti. Bukan harga yang jadi masalah, namun produksinya yang masalah.

Kemudian sawit juga begitu. Ada kebun sawit satu hektarenya hanya tiga kuintal sebulan. Ini jauh dari idealnya.

Masalahnya bibitnya tidak jelas, sampai petani kita belum ada pemberdayaan, belum begitu mampu mengolah kebun. Itu yang harus kita perbaiki.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved