Pemilihan Kapolri Kacau, Pengamat Sebut Komjen Listyo Pilihan Jokowi Tak Punya Rekam Jejak Istimewa
Komjen Listyo Sigit Prabowo menjadi calon tunggal yang diusulkan Presiden Joko Widodo untuk jadi Kapolri, menggantikan Jenderal Idham Aziz.
Pemilihan Kapolri Kacau, Pengamat Sebut Komjen Listyo Pilihan Jokowi Tak Punya Rekam Jejak Istimewa
TRIBUNJAMBI.COM -Komjen Listyo Sigit Prabowo menjadi calon tunggal yang diusulkan Presiden Joko Widodo untuk jadi Kapolri, menggantikan Jenderal Idham Aziz.
Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menilai, Komjen Listyo Sigit Prabowo tak terlalu memiliki rekam jejak istimewa.
Meski demikian, kata Bambang, Komjen Listyo Sigit memiliki kedekatan dengan Presiden Jokowi.
“Belum lagi tak ada yang terlalu istimewa dengan rekam jejak Listyo Sigit. Artinya apa? Upaya untuk membangun merit system dan profesionalisme dalam organisasi Polri sudah benar-benar dikacaukan dengan keputusan presiden yang menunjuk orang dekatnya,” ucap Bambang ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (15/1/2021).
Baca juga: IPW Bongkar Alasan Khusus Jokowi Pilih Listyo Prabowo Jadi Calon Tunggal Kapolri Gantikan Idham Azis
Baca juga: Guru Habib Rizieq Meninggal Dunia, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf Dikenal Ramah, Pejuang Islam
Baca juga: Kisah Sinaga Buat Harimau Sumatera Kabur Ketakutan, Jarak 3 Meter Dibentak Tiga Kali
Seperti diketahui, sebelum menjabat sebagai Kabareskrim, jenderal bintang tiga itu pernah menjabat sebagai Kapolres Surakarta pada tahun 2011. Pada saat yang sama, Jokowi ketika itu masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Sementara itu, setelah Jokowi terpilih sebagai presiden pada tahun 2014, Listyo turut menjadi ajudannnya.
Setelah menduduki posisi Kabareskrim, ada sejumlah kasus besar yang telah ditangani Listyo.

Misalnya, ditangkapnya dua polisi penyerang penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Sekalipun, tak sedikit pihak yang merasa kurang puas atas hasil pengusutan perkara tersebut.
Selain itu, Listyo dan timnya juga menangkap terpidana kasus korupsi hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra, yang sebelumnya telah dinyatakan buron selama 11 tahun. Dua perwira tinggi polisi pun turut terseret dan bahkan telah diputus bersalah pada pengadilan tingkat pertama karena diduga turut membantu pelarian Djoko Tjandra.
Meski demikian, Bambang berpandangan, berhasil atau tidaknya pengungkapan kedua kasus tersebut lebih tergantung pada kemauan Polri.
“Penangkapan Djoko Tjandra dan pelaku penyiraman air keras Novel Baswedan itu sejak awal tergantung good will kepolisian. Jadi bukan prestasi yang luar biasa. Biasa-biasa saja,” ungkapnya.
“Kasus Harun Masiku sampai sekarang juga belum terselesaikan,” imbuh dia.

Faktor kedekatan itu, menurut dia, dapat berdampak pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) Polri yang kompeten dan berintegritas.
Untuk itu, Bambang berharap, Listyo dapat melakukan terobosan apabila dilantik nantinya.