Sriwijaya Air Jatuh
BEGINI Cara Tim DVI Identifikasi Jenazah Korban Sriwijaya Air SJ 182, Meski Bagian Tubuh Tak Utuh
Upaya tim pencarian korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, sudah mendapatkan lebih dari 200-an kantong.
TRIBUNJAMBI.COM - Upaya tim pencarian korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, sudah mendapatkan lebih dari 200-an kantong.
Banyaknya kantong jenazah yang diserahkan ke tim Identifikasi Korban Bencana Nasional (DVI), dikarenakan beberapa korban ditemukan dengan kondisi tak utuh.
Oleh karena itu proses mengidentifikasi tubuh korban Sriwijaya udara tidak utuh dengan mencocokkan DNA.
Saat ini, tim Identifikasi Korban Bencana Nasional (DVI) menerima 155 kantong mayat korban kecelakaan udara Sriwijaya.
Baca juga: UPDATE Pencarian Korban Sriwijaya Air SJ 182, Tim Gabungan Kumpulkan Jasad di 239 Kantong Saat Ini
Baca juga: Analisis Data Sriwijaya Air SJ 182 Jatuh: Diduga Upaya Pindah Jalur, Pesawat Oleng dan Mesin Hidup
Baca juga: Salat Gaib untuk Pilot Sriwijaya Air SJ-182 , Keluarga Kapten Afwan Sudah Ikhlas Atas Tragedi Ini
Hal ini diungkapkan oleh Polri Divhumas Karopenmas, Brigadir Jenderal Rusdi Hartono, Jumat (15/1/2021) di Rumah Sakit Polisi Kramat Jati, Jakarta Timur.
Hingga saat ini, kata Rusdi, pihaknya sudah mendapatkan kantong jenazah sebanyak 155 kantong jenazah dan masih melakukan sejumlah proses untuk dapatkan data-data dari temuan tersebut,
Hingga saat ini tim DVI telah memasuki tahap rekonsiliasi atau pencocokan.
Mayoritas proses menggunakan korban DNA yang cocok dan DNA keluarga biologis.
Diharapkan dengan lebih banyak DNA diharapkan akan dicocokkan, maka semakin banyak identitas korban ditemukan diajukan kepada keluarga.
Sementara itu, Kepala Kepala DVI Kepolisian Nasional DVI Pusdokkes, Komisaris Pemeriksaan DNA Ahmad Fauzi memang membutuhkan lebih banyak waktu daripada pemeriksaan melalui gigi dan sidik jari.
Tetapi dia memastikan bahwa gigi, sidik jari, atau DNA adalah data inspeksi primer sehingga semua dapat dinyatakan akurat.
Pemeriksaan melalui DNA harus dilakukan jika tim DVI tidak menemukan benda tubuh dalam bentuk rahang atau sidik jari.
Baca juga: Tetap Waspada Potensi Banjir dan Longsor di Sarolangun, BPBD Beri Peringatan
Baca juga: Rasa Pra dan Pasca Divaksin Ala Apoteker, Bidan, dan Dokter di Kota Jambi
Baca juga: Ditodong Temannya Sendiri, Eka Disekap di Dalam Kontainer di Bukit Baling, Ribuan HP Bawaan Dirampas
"Jika tubuh tidak utuh, kita perlu DNA membutuhkan waktu lebih lama karena ada tahapan," jelas Fauzi.
Maka Fauzi berharap keluarga bersabar atas proses yang tengah berlangsung.
Sebab menurutnya proses DVI lebih baik lambat asal tepat dibanding pihak tim DVI terburu-buru sehingga salah identifikasi.