Astronom Temukan Galaxy Tertua , Berusia 13,4 miliar Tahun, Begini Cara Mereka Menghitungnya

Baru di jaman astronomi modern, kita hampir bisa menjawab pertanyaan itu dengan tingkat kepastian yang wajar.

Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
Caltech/Adi Zitrin)
Ilustrasi Galaksi 

TRIBUNAJMBI.COM - Para astronom berhasil menemukan galaksi tertua dan terjauh berusia 13,4 miliar tahun.

Seperti yang diketahui, sejak jaman dahulu kala, para filsuf dan cendikiawan telah merenungkan permulaan waktu dan bahkan mencoba untuk menentukan kapan segala sesuatu dimulai.

Baru di jaman astronomi modern, kita hampir bisa menjawab pertanyaan itu dengan tingkat kepastian yang wajar.

Menurut model Kosmologi yang diterima secara luas, alam semesta dimulai dengan ledakan Big Bang kira-kira 13,8 miliar tahun yang lalu.

Baca juga: 17 Remaja Diangkut Petugas Trantib Pasar Jambi Saat Asik Berada Dalam Kamar Hotel Malam Hari

Baca juga: Promo Giant Terbaru 8 Januari 2021, Harga Murah Popok Beras Susu Gula Udang Daging Alpukat Cake

Meski begitu, para astronom masih belum yakin tentang seperti apa alam semesta awal karena periode ini bertepatan dengan 'Jaman Kegelapan' kosmik.

Oleh karena itu, para astronom terus menerus mendorong batas instrumen mereka untuk melihat kapan galaksi paling awal terbentuk.

Melansir laman Science Alert, Kamis (7/1/2021), Berkat penelitian baru oleh tim astronom internasional, Galaksi tertua dan terjauh yang teramati di alam semesta kita hingga saat ini adalah GN-z11.

Tim yang penelitiannya baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy dipimpin oleh Linhua Liang dari Kavli Institute for Astronomy and Astrophysics dan Prof Nobunari Kashikawa dari University of Tokyo.

Mereka bergabung dengan para peneliti dari Observatorium Carnegie Institution for Science, Steward Observatory, Geneva Observatory, Peking University, dan University of Tokyo.

Sederhananya, jaman Kegelapan kosmik dimulai sekitar 370 ribu tahun setelah Big Bang dan berlanjut selama 1 miliar tahun lagi.

Pada saat ini, satu-satunya sumber cahaya adalah foton yang dilepaskan sebelumnya - yang masih dapat dideteksi hingga hari ini sebagai Cosmic Microwave Background (CMB) - dan yang dilepaskan oleh atom hidrogen netral.

Cahaya foton-foton ini bergeser karena perluasan Alam Semesta sehingga tidak terlihat oleh kita saat ini.

Efek ini dikenal sebagai 'pergeseran merah', di mana panjang gelombang cahaya memanjang (atau bergeser ke arah ujung merah spektrum) saat ia melewati kosmos yang terus mengembang dalam perjalanannya untuk mencapai kita.

Untuk objek yang bergerak lebih dekat ke galaksi Bima Sakti, efeknya terbalik, dengan panjang gelombang yang memendek dan bergeser ke arah ujung biru spektrum (alias pergeseran biru).

Selama hampir satu abad, para astronom telah menggunakan efek ini untuk menentukan jarak galaksi dan laju perluasan alam semesta.

Halaman
123
Sumber: Bangka Pos
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved