Sabtu, 9 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Kisah Kopassus

Kisah Kopassus, Duel Maut Sang Profesor Intelijen Hingga Senjata Melorot Kedalam Celana

Kala itu, Hendro dan Puspassus (sekarang Kopassus) dikirim untuk operasi penumpasan pemberontak di Kalimantan.

Tayang:
Editor: Muuhammad Ferry Fadly
ist
anggota Kopassus 

TRIBUNJAMBI.COM - Sosok pria yang mendapat julukan "The Master of Intelligence" ini pernah dididik di Kopassus.

Profesor intelijen dari Indonesia dan yang pertama di dunia adalah Jenderal (Purn) AM Hendropriyono.

Dia pernah menjabat Kepala Badan Intelijen Negara.

Jenderal yang memiliki latar belakang pasukan khusus TNI AD ini kenyang pengalaman lapangan.

Baca juga: Kisah Kopassus, Aksi Heroik Kopassus, Denjaka dan Paskhas Selesaikan Misi yang Melegenda

Baca juga: Kisah Kopassus, Baret Merah Terpaksa Lakukan Ini Kepada Teman Sendiri yang Berkhianatan

Baca juga: Kisah Kopassus, Cara Baret Merah Berlatih Beda dengan Pasukan Lainnya, Simak Tahapannya

Satu di antarnaya cerita saat masih berpangkat kapten, pada 1970-an.

Kala itu, Hendro dan Puspassus (sekarang Kopassus) dikirim untuk operasi penumpasan pemberontak di Kalimantan.

Di sana, pasukan elite TNI AD harus saling bunuh dengan gerilyawan Kalimantan.

Melansir Intisari, buku berjudul Operasi Sandi Yudha yang ditulis Jenderal Purn AM Hendropriyono mengisahkan cerita itu. Buku berjudul Menumpas Gerakan Klandestin, diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2013.

Dikisahkan, operasi militer Puspassus melawan gerombolan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) pada 1968-1974.

Satu di antara yang menarik, yaitu upaya penangkapan petinggi PGRS/Paraku dengan jabatan Sekretaris Wilayah III Mempawah Siauw Ah San.

11 prajurit berangkat

Tim Halilintar pimpinan Kapten Hendropriyono mendapatkan informasi tentang Ah San dari Tee Siat Moy, istri Ah San, yang berkhianat.

Siat Moy mau membantu TNI dengan syarat Ah San tak dibunuh.

Hendropriyono memimpin 11 prajurit Halilintar Prayudha Kopasandha (kini Kopassus) untuk meringkus Ah San hidup-hidup.

Mereka tidak membawa senjata api, hanya pisau komando sebagai senjata.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved