Berita Nasional

Kisah Ali Kalora Pimpinan MIT Paling Diburu Aparat, Terlibat Teror Sigi, Menyamar Jadi Warga Lokal

Ali Kalora, pimpinan kelompok Mujahidin Indonesia Timur ( MIT) diburu aparat karena terlibat terori Sigi.

Editor: Rahimin
(MANSUR TABONE)
Foto Dokumentasi Baliho DPO Teroris Jaringan MIT Pimpin Ali Kalora. Kisah Ali Kalora Pimpinan MIT Paling Diburu Aparat, Terlibat Teror Sigi, Menyamar Jadi Warga Lokal 

Diduga kuat Ali Kalora terlibat pada pembunuhan tersebut. Selain di Sigi, Ali Kalora juga terlibat pada penembakan aparat yang sedang membawa korban pembunuhan RB alias A (34) warga sipil korban mutilasi di kaawasa Desa Salubunga, Sausu, Parimo, Sulteng pada 31 Desember 2018.

Kala itu aparat ditembaki kelompok Ali Kalora ketika salah seorang petugas hendak menyingkirkan kayu dan ranting pohon yang menghalangi jalan.

Kontak tembak aparat dengan kelompok teroris tersebut menyebabkan dua petugas yakni Bripka Andrew dan Bripda Basi terluka.

Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar dalam Sapa Indonesia Pagi di Kompas TV, Selasa (1/12/2020) mengatakan MIT juga  terlibat dalam tindak pidana pembunuhan warga di sekitar Pegunungan Biru, Kabupaten Poso.

Korban antara lain adalah petani dan seorang purnawirawan TNI di periode antara Agstus-September 2020.

Menurut Boy Rafli MIT yang dipimpin Ali Kalora selama ini bergerak di sekitar lereng Pegunungan Biru.

Mereka kerap berpindah satu sama lain dari lereng pegunungan sisi utara ke selatan. Di lereng Pegunungan Biru ini terdapat Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Poso.

Dengan kondisi ini, pergerakan dan perpindahan mereka meliputi kawasan yang cukup luas.

"Jadi mereka mobile di kawasan yang begitu luas. Satuan tugas hari ini terus mobile untuk menyasar ke berbagai sektor di kawasan lereng itu," kata Boy Rafli.

Ia mengakui, lokasi pelarian MIT merupakan medan yang cukup menyulitkan.

Baca juga: Bos Tambang Emas Ilegal di Tebo Tewas Mengenaskan Tertimbun, Pekerja Sedang Lahap Makan

Baca juga: Rizieq Shihab Tak Penuhi Panggilan Polisi, Kuasa Hukum Beberkan Alasan dan Sebut Bukan Mangkir

Baca juga: Jadwal SIM Keliling Jakarta Hari Ini Rabu 2 Desember 2020, Simak Lokasi dan Waktu

"Sekali lagi, ini medan yang tidak ringan karena ini medan pegunungan dan mereka sudah bertahun-tahun di kawasan itu," kata Boy Rafli.

Menurut Boy sengaja membunuh satu keluarga di Sigi karena tak ingin tinggalkan jejak. "Mereka tidak ingin meninggalkan jejak dari tindakan yang dilakukan. Jadi mereka tidak ingin jejaknya diketahui dengan cara menghabiskan obyek yang mereka sasar," jelasnya.

Selain itu ia mengatakan, faktor kekurangan logistik menjadi alasan kelompok teroris MIT pimpinan Ali Kalora membunuh satu keluarga di Kabupaten Sigi.

"Saat ini mereka sudah dalam kondisi yang tidak memiliki logsitik yang cukup," ujar Boy Rafli Amar.

"Artinya dengan cara inilah, dengan cara merampok, dengan cara membunuh masyarakat, karena kita tahu bahwa kelompok ini adalah pengusung ideologi kekerasan. Jadi itulah salah satu untuk bertahan hidup," sambungnya.

Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar, menjelaskan, menyebut faktor kekurangan logistik menjadi alasan kelompok teroris MIT pimpinan Ali Kalora membunuh 4 orang dalam satu keluarga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (27/11/2020).
Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar, menjelaskan, menyebut faktor kekurangan logistik menjadi alasan kelompok teroris MIT pimpinan Ali Kalora membunuh 4 orang dalam satu keluarga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (27/11/2020). (net/wartakota)

Mereka juga mengincar harta benda milik warga di sekitar lereng Pegunungan Biru untuk menutupi logistik yang kian menipis.

Salah satu pemukiman warga yang pernah menjadi sasaran perampasan adalah Dusun Taman Jeka, sebuah wilayah yang terletak di Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso.

Boy meyakini MIT semakin tersudut karena masyarakat Kabupaten Poso dan sekitarnya sudah tidak lagi memberikan simpati dan dukungan terhadap eksistesi mereka.

"Jadi hari ini cara bertahan mereka untuk hidup di lereng-lereng Pegunungan Biru antara lain dengan mencari logistik, dengan merapok mengambil harta benda masyarakat," terang Boy Rafli.

"Jadi inilah yang terjadi sekaligus kita memang menunjukan mereka masih eksis dan inilah yang menjadi tantangan kita untuk melumpuhkan mereka dalam beberapa waktu ke depan," imbuh Boy Rafli.

Setia pasda ISIS

Dilansir dari BBC Indonesia, pengamat teroris, Ridlwan Habib, menyarankan pemerintah beserta aparat keamanan agar menggunakan strategi baru untuk menangkap Ali Kalora.

Baca juga: 11 Orang Teroris Jaringan MIT Pimpinan Ali Kelora Diburu, Foto-fotonya Disebar Polisi, Simak Ini Dia

Baca juga: Postingan IG Baim Wong Monyet Dikejutkan Ular Tuai Kecaman, Richard Kyle Komentar Pedas

Baca juga: Masih Kerap Dipanggil Dirut, Helmy Yahya Ungkap Kekecewaan Dicopot dari Direktur Utama TVRI

Berdasarkan pengamatannya, Operasi Tinombala telah berjalan hampir lima tahun tetapi belum berhasil menangkap pimpinan Mujahidin Indonesia Timur tersebut. Padahal berbagai cara sudah dilakukan.

"Pernah coba pakai thermal drone untuk memotret suhu panas tubuh. Ternyata ada kekeliruan. Karena suhu tubuh manusia mirip dengan mamalia seperti kera atau monyet, sehingga ketika mau menyerang dan didekati ternyata segerombolan monyet besar," ujar Ridlwan Habib kepada BBC News Indonesia, Minggu (29/11/2020).

"Pernah dicoba pakai drone detector untuk mendeteksi gerak. Ternyata salah deteksi lagi," sambungnya.

Ridlwan berkata, Ali Kalora dan anggotanya yang diperkirakan berjumlah 11 orang diuntungkan secara geografis lantaran lokasi pergerakan mereka di pedalaman hutan yang sulit dijangkau orang.

Selain itu, kelompok tersebut juga tidak menggunakan telepon genggam untuk saling berkomunikasi sehingga sulit dilacak.

Sejauh pengamatannya, tindakan merampok bahan pangan dan membunuh warga setempat sudah dua kali dilakukan sepanjang tahun ini. Pada April lalu, seorang petani menjadi korban.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Hidup adalah Kesempatan untuk Berkarya

Baca juga: Rizieq Shihab Tak Penuhi Panggilan Polisi, Kuasa Hukum Beberkan Alasan dan Sebut Bukan Mangkir

Aksi itu direkam oleh kelompok Ali Kalora dan disebarkan ke kelompok jihadis di Indonesia dan luar negeri. 

Tujuannya untuk memberitahu kelompok teror di luar negeri tentang keberadaan mereka "dengan harapan akan mendapat bantuan logistik".

"Dan sebagai bukti mereka tetap setia kepada ISIS (kelompok yang menamakan diri Negara Islam)."

Karena itu baginya, tidak ada jalan lain selain menyiapkan pasukan khusus. "Ini bukan kelompok yang bisa digalang dengan lunak. Mereka ini prinsipnya membunuh atau terbunuh. Dialog juga tidak bisa."

SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Erna Dwi Lidiawati, Achmad Nasrudin Yahya,Devina Halim | Editor: Teuku Muhammad Valdy Arief, Bayu Galih, Diamanty Meiliana, Icha Rastika, Inggried Dwi Wedhaswary), BBC Indonesia, Kompas TV

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jejak Ali Kalora Pimpinan MIT yang Diduga Terlibat Teror di Sigi, Kerap Menyamar Jadi Warga Lokal", 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved