Pilpres Amerika Serikat
Merasa Dicurangi di Pilpres AS, Trump akan Ajukan Gugatan ke MA, Timses Biden: Sangat Keterlaluan
Namun, Presiden petahana Amerika Serikat, Donald Trump merasa dirinya dicurangi dalam Pemilu AS 2020 itu.
Bahkan, Biden memenangkan suara di Arizona, negara bagian yang dimenangkan Trump empat tahun lalu.
"Kami memenangkan segalanya, dan tiba-tiba itu tidak jadi," ucap Trump.
Meskipun begitu, ketatnya perolehan suara tidak membuat dirinya pesimis.
Dia tetap yakin bahwa dirinyalah yang telah memenangkan pemilihan, sebuah pernyataan yang terlalu awal untuk dideklarasikan.
Tak hanya itu, dalam pertemuan tersebut, Donald Trump juga menuduh Demokrat mencoba mencurangi dirinya dalam Pilpres Amerika Serikat ini.
Baca juga: Seperti Pilpres Indonesia, Pilpres AS Juga Ada Klaim Menang dan Ngomong Curang Meski Belum Selesai
Baca juga: Chord Kunci Gitar dan Lirik Lagu Walau Habis Terang - Peterpan, Tonton Juga Video Klipnya
Baca juga: Bawa Sabu, Oknum ASN di Merangin Diamankan Polisi, Terungkap Sudah Ditandai Warga Sekitar
Demokrat disebut mencoba 'mencabut hak pilih' para pemilihnya dan menyatakan kemenangan di Georgia.
Padahal, saat itu, belum ada pengumuman mengenai kandidat yang memenangkan negara bagian tesebut.
Selain itu, Trump juga memegang sedikit keunggulan dengan 93% suara telah dihitung.
"Mereka tahu mereka tidak bisa menang," ujarnya.
"Ini penipuan terhadap publik Amerika. Ini memalukan negara kita," tambahnya.
Merasa dicurangi, Donald Trump berjanji akan mengajukan petisi ke Mahkamah Agung.
Namun, dia tidak merinci lebih lanjut tentang rencananya itu.
"Jadi kami akan pergi ke Mahkamah Agung AS. Kami ingin semua pemungutan suara dihentikan."
"Kami tidak ingin mereka menemukan surat suara pada pukul empat pagi dan menambahkannya ke daftar," tutur Trump.
Trump meninggalkan tempat pada pukul 2.32 pagi dan menutupnya dengan acungan tinju kepada para pendukungnya.

Tak hanya kepada pendukungnya, Trump juga mengatakan tuduhan serupa melalui akun Twitter-nya, Rabu (4/11/2020).
Twit tersebut kemudian dilabeli oleh Twitter sebagai informasi yang 'menyesatkan' dan 'diperdebatkan'.