Fadli Zon Minta KPU Belajar Penghitungan Suara dari Pilpres AS: Tak Ada Sulap Atau Akrobat
Politisi Gerindra Fadli Zon menyarankan Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar belajar perhitungan sauara dari Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS).
Misalnya di California, negara bagian terbesar dengan 55 suara electoral.
Capres yang mendapat 28 suara electoral atau lebih di California, otomatis menyapu bersih 55 suara yang ada.
Aturan sapu bersih ini tidak berlaku di negara bagian Maine dan Nebraska.
Warga AS yang berhak memilih residen adalah yang sudah berusia minimal 18 tahun.
Sebagian besar pemungutan suara dilakukan di TPS, tapi sejumlah alternatif baru diperkenalkan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Pilpres 2016, 21% suara diberikan melalui pos.
Selain memilih Donald Trump atau Joe Biden, pemilu AS kali ini juga memilih anggota Kongres.
Ada 435 kursi DPR dan 33 kursi Senat yang direbutkan tahun ini.
Kongres Amerika terdiri dari dua kamar, DPR dan Senat.
Masa jabatan anggota DPR hanya dua tahun dan bisa dipilih lagi.
Sedangkan senator menjabat enam tahun dan terbagi dalam tiga kelompok.
Artinya, setiap dua tahun ada pemilihan untuk sepertiga dari anggota Senat.
Hasil pemilu AS biasanya sudah diketahui tak sampai 24 jam.
Namun, tahun ini penyelenggara pilpres mengingatkan hasilnya mungkin keluar lebih lama, bisa beberapa hari atau hitungan pekan/
Karena, kemungkinan meningkatnya pemberian suara lewat pos di tengah pandemi Covid-19.
Presiden terpilih akan dilantik pada 20 Januari, di anak tangga Gedung Capitol, Washington DC, sebelum berkantor di Gedung Putih. (CC)
Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Fadli Zon Minta KPU Belajar dari Penghitungan Hasil Pilpres AS: Tak Ada Sulap Atau Akrobat.