Mengungkap Kakek Suami Dian Sastro dan Sejarah Berdirinya Aqua di Indonesia, Kaya Raya
Lantas apa hubungannya dengan Aqua. Ada benang merah sejarah yang menghubungkan antara Ibnu Sutowo, Tirto Utomo, Aqua.
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Duanto AS
TRIBUNJAMBI.COM - Dian Sastrowardoyo menikah dengan Maulana Indraguna Sutowo.
Sosok keluarga Sutowo bukanlah keluarga orang biasa di Indonesia/
Indraguna merupakan cucu Ibnu Sutowo, mantan Direktur Utama Pertamina.
Lantas apa hubungannya dengan Aqua.
Ada benang merah sejarah yang menghubungkan antara Ibnu Sutowo, Tirto Utomo, Aqua.
Tapi, banyak orang tidak mengetahui hal ini.
Siapa sebenarnya Ibnu Sutowo?
Baca juga: 5 Artis Ini Jadi Janda Lebih dari 10 Tahun - Yuni Shara, Betharia Sonata hingga Desy Ratnasari
Ibnu Sutowo merupakan pendiri Permin, cikal bakal PT Pertamina.
Dia juga kakek dari Maulana Indraguna Sutowo, suami Dian Sastro.
Hubungan ini yang akan menjelaskan mengapa keluarga itu memiliki kekayaan melimpah.
Awalnya, Ibnu Sutowo merupakan tokoh pendiri PN Permina.
Saat itu, PN Permina merupakan cikal bakal Pertamina, sebelum dilebur dengan Pertamin.
Ibnu Sutowo lahir di Yogyakarta, 23 September 1914. Ini merupakan wilayah yang berdekatan dengan Soeharto lahir.
Ibnu Sutowo meninggal di Jakarta, 12 Januari 2001.
Seorang dokter
Awalnya, Ibnu Sutowo merupakan seorang dokter.
Selepas pendidikan kedokteran di Surabaya, pada 1940, Ibnu Sutowo bekerja sebagai dokter di Palembang dan Martapura.
Ia bertugas sebagai dokternya para tentara.
Baca juga: Fakta Baru Kasus Anggota Moge Aniaya Dua TNI, Rekaman CCTV Ungkap Peran Polisi dan Penjaga Warung
Setelah masa kemerdekaan, ia bertugas sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se-Sumatra Selatan (1946-1947).
Karier militernya dimulai sejak masa itu.
Pada 1955, Sutowo ditunjuk sebagai Panglima TT-II Sriwijaya.
Kariernya di perusahaan plat merah pun dimulai.
Ia melaju di tambang minyak alias dunia perminyakan.
Pada 1957, Jenderal AH Nasution yang saat itu KSAD menunjuk Sutowo untuk mengelola PT Tambang Minyak Sumatra Utara (PT Permina).
Kemudian pada 1968, perusahaan ini digabung dengan perusahaan minyak milik negara lainnya menjadi PT Pertamina.
Ibnu Sutowo menjadi direktur utama pada 1968-1976.
Kekayaan tiada tara
Pada zaman itu, Ibnu Sutowo merupakan satu di antara tokoh yang terpandang.
Baca juga: Isi Percakapan Presiden Prancis dan Putra Mahkota Abu Dhabi Bocor, Nabi Muhammad Disinggung Lagi
Namun ada hal mengejutkan.
Harian Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis, pada 30 Januari 1970 memberitakan bahwa simpanan Ibnu Sutowo pada saat itu mencapai Rp 90,48 miliar.
Perlu diketahui kurs rupiah saat itu Rp 400/dolar AS.
Pada tahun itu, uang Rp 90 miliar jumlahnya sangat besar.
Koran itu juga menuliskan kerugian negara akibat kongkalikong Ibnu dan pihak Jepang.
Penyelidikan oleh negara
Saat itu, pemerintah Indonesia di bawah Presiden Suharto membentuk tim yang bernama Komisi Empat untuk menyelidiki dugaan korupsi di Pertamina.
Tim ini menghasilkan laporan yang menyimpulkan terjadinya beberapa penyimpangan-penyimpangan.
Pada 1975, Pertamina jatuh krisis.
Pada 1976, Ibnu mengundurkan diri sebagai Dirut Pertamina.
Baca juga: Harga Spesial Realme November 2020 - Potongan Harga Rp 300 Ribu Smartphone dan Aksesoris
Saat ditinggalkan Ibnu, Pertamina dalam kondisi utang US$ 10,5 miliar.
Berdirinya Aqua di Indonesia
Setelah tidak menjadi Direktur Utama Pertamina, Ibnu Suwoto masuk ke PT Golden Mississippi.
Ini semua berawal dari hubungannya dengan Tirto Utomo.
Pada 1973, Tirto Utomo, yang merupakan bawahan Ibnu, sedang membuat produk air mineral kemasan dengan merek Aqua.
Tirto berkunjung ke Bangkok, Thailand.
Kala itu Ibnu juga diajak Tirto, untuk mempelajari cara pembuatan air mineral di pabrik air mineral Polaris di Thailand, karena di Indonesia sama sekali belum ada.
Suatu kali Ibnu berkata kepada Tirto:
"Aneh Tirto iki. Banyu banjir kok diobokke dalam botol".
Usaha itu berkembang pesat.
Pada perjalanannya Aqua semakin terkenal dan Ibnu Sutowo menjabat direktur utamanya.
Baca juga: ILC TV One Nanti Malam Seru, Karni Ilyas Kupas Tuntas UU ITE, Polri dan Nama Baik Presiden Jokowi
Saat pertandingan bulu tangkis Piala Thomas dan Piala Uber 1988 di Kuala Lumpur dan pertandingan golf, ia berpendapat Aqua harus dikelola oleh yang lebih muda
Kemudian Ibnu mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama PT Golden Mississippi, digantikan Willy Sidharta.
Sosok Tirto Utomo dan Aqua
Menelusuri sosok Tirto Utomo, teman yang dahulu bawahan Ibnu Sutowo, sangat menarik.
Melansir wikipedia, Tirto Utomo atau Kwa Sien Biauw lahir di Wonosobo, 9 Maret 1930.
Dia meninggal 16 Maret 1994.
Tirto merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Dia dikenal sebagai pendiri Aqua Golden Mississipi pada 1973.
Jejak bisnisnya cukup kuat.
Setelah lulus SMP, Tirto Utomo melanjutkan sekolah ke HBS (sekolah setingkat SMA di zaman Hindia Belanda) di Semarang, kemudian di SMAK St. Albertus, Malang.
Selama dua tahun, ia kuliah di Universitas Gajah Mada, tetapi akhirnya Tirto pindah ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Di Jakarta sambil kuliah, ia bekerja sebagai pimpinan redaksi harian "Sin Po" dan majalah "Pantja Warna".
Pada 1959, ia diberhentikan sebagai pemimpin redaksi "Sin Po".
Baca juga: Kisah Emmanuella dari Liverpool Cari Ibu Kandung Yang Tinggal di Sleman, Terpisah Selama 35 Tahun
Akibatnya sumber keuangan keluarga menjadi tidak jelas.
Setelah peristiwa itu, Tirto Utomo memiliki kemauan yang bulat untuk menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Perkenalan dengan Ibnu Sutowo
Setelah lulus, Tirto Utomo mengajukan surat lamaran kerja ke Permina (Perusahaan Minyak Nasional) yang merupakan cikal bakal Pertamina.
Setelah diterima, ia ditempatkan di Pangkalan Brandan.
Di situlah perkenalannya dengan Ibnu Sutowo.
Berkat ketekunannya, Tirto Utomo akhirnya menanjak kariernya sehingga diberi kepercayaan sebagai ujung tombak pemasaran minyak.
Pada usia 48 tahun, Tirto Utomo memilih pensiun dini untuk menangani beberapa perusahaan pribadinya, yakni PT Aqua, PT Baja Putih dan restoran Oasis.
Bersama adik iparnya, Slamet Utomo, mereka mendirikan Aqua dengan modal bersama Rp 150 juta.
Mereka mendirikan pabrik di Bekasi tahun 1973 dengan nama ' PT Golden Mississippi ' dan merek produksi Aqua.
Ide mendirikan perusahaan Aqua, awalnya timbul ketika Tirto bekerja sebagai pegawai Pertamina pada awal 1970-an dan pegawai Petronas pada awal dekade 1980-an.
Ketika itu, Tirto bertugas menjamu delegasi sebuah perusahaan Amerika Serikat.
Namun jamuan itu terganggu ketika istri ketua delegasi mengalami diare yang disebabkan karena mengonsumsi air yang tidak bersih.
Baca juga: Gunung Sinabung Erupsi Lagi, Tinggi Kolom Abu Capai 1.500 Meter, Warga Diminta Menjauh Radius 3 Km
Sosok cerdas Tirto Utomo kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya yang berasal dari negara Barat tidak terbiasa meminum air minum yang direbus, tetapi air yang telah disterilkan.
Berangkat dari situ, kemudian bersama adik iparnya, Slamet Utomo, mereka mendirikan Aqua dengan modal bersama Rp 150 juta.
Mereka mendirikan pabrik di Bekasi tahun 1973 dengan nama ' PT Aqua Golden Mississippi ' dan merek produksi Aqua.
Awalnya, karyawan mula-mula berjumlah 38 orang. Mereka menggali sumur di pabrik pertama yang dibangun di atas tanah 7.110 meter persegi di Bekasi.
Setelah bekerja keras lebih dari setahun, produk pertama Aqua diluncurkan pada 1 Oktober 1974.
Salah satu pelanggan Aqua, yaitu kontraktor pembangunan jalan tol Jagorawi, Hyundai.
Dari para insinyur Korea Selatan itu, kebiasaan minum air mineral pun menular kepada rekan pekerja lokal mereka.
Melalui penularan semacam itulah akhirnya air minum dalam kemasan diterima di masyarakat.
Seiring perjalanan bisnis di perusahaan, saat ini keluarga Tirto Utomo bukan lagi pemegang saham mayoritas Aqua.
Sejak 1996, perusahaan makanan asal Perancis Danone menguasai saham mayoritas.
Brand utama mereka, "Aqua" menjadi market leader di bisnis air minum dalam kemasan.
Itulah jejak bisnis Ibnu Sutowo, sejak cikal bakal Pertamina, menjadi direktur utama, mengundurkan diri, bergabung dengan temannya Tirto Utomo di PT Golden Mississippi ( Aqua ).
Baca juga: Perwira Pertama Ini Nekat Pacari Putri Cantik Kapolri Jenderal Idham Azis, Calon Dokter Pula
Menarik kan jejak bisnis dan kekayaan Ibnu Sutowo, kakek suami Dian Sastro. ( Heri Prihantono/ Tribunjambi.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/ibnu-sutowo-mantan-direktur-utama-pertamina-1968-1976.jpg)