Imigran Asal Tunisia Ini Buat Gaduh Prancis hingga Umat Muslim Dunia Ribut, Kini Italia Jadi Sasaran
Kepolisian Nice pada Jumat (30/10/2020) memberikan keterangan bahwa tersangka pelaku penyerangan di gereja adalah seorang pria imigran asal Tunisia.
Namun, komite keamanan parlemen meminta sesi untuk menanyai Lamorgese dan kepala polisi Franco Gabrielli tentang transit tersangka.
Seperti semua warga Tunisia yang memasuki Italia yang diklasifikasikan karena masalah ekonomi, Aouissaoui diminta untuk meninggalkan negara itu dalam waktu 7 hari mulai dari 8 Oktober.
Baca juga: Umat Muslim Belanda Marah Besar, Presiden Prancis Emmanuel Macron Disebut Teroris Terbesar di Bumi
Namun, alih-alih pulang ke rumah, dia menuju ke Perancis.
Lamorgese tidak memberikan perincian tentang tindakan apa, jika ada, untuk memastikan Aouissaoui mematuhi perintah tersebut.
Pria 21 tahun itu tiba di Nice dengan kereta pada Kamis dini hari (29/10/2020) sebelum memasuki Basilika Notre-Dame, di mana dia diduga melakukan serangan mematikan kepada 3 korban.
Memenggal kepala seorang wanita berusia 60 tahun, memotong tenggorokan seorang pria berusia 55 tahun, dan menikam wanita berusia 44 tahun, yang berhasil melarikan diri ke kafe terdekat sebelum meninggal karena luka parah.
Tersangka saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah ditembak berkali-kali oleh polisi dalam proses penangkapannya.
Menciptakan ketidakamanan
Salvini, mantan menteri dalam negeri, mengkritik pemerintah Italia sekarang karena "mengizinkan masuknya pembunuh berdarah dingin di Eropa", merujuk pada amandemen RUU kontroversial tentang imigran, pada awal Oktober.
Salvini mengkritik kebijakan itu “dibandingkan menghasilkan keamanan, justru menciptakan ketidakamanan".

Lamorgese kemudian menyoroti pihak Salvini sebagai oposisi yang meminta maaf kepada Perancis atas peristiwa pembunuhan yang terjadi di gereja kota Nice.
"Saya bertanya pada diri sendiri mengapa di sini pasukan oposisi, meminta maaf hari ini kepada Perancis," kata Lamorgese.
"Dari semua ungkapkan solidaritas, saya tidak berpikir untuk meminta maaf dalam kasus ini maupun kasus serius lainnya, seperti serangan terhadap London Underground, di Jembatan London pada 2017, dan di Rambla (Barcelona) pada 2017,” ujarnya.
Anna Simone, seorang profesor ilmu politik di Roma Tre University yang pekerjaannya berfokus pada penelitian kriminalisasi migran di media, mengatakan bahwa peristiwa seperti serangan di Nice “meningkatkan kebencian terhadap migran dengan cara yang tidak pandang bulu, dan mengaitkan sosok migran menjadi salah satu teroris dengan konsekuensi yang sangat berbahaya".
“Jelas episode seperti itu kemudian dipergunakan oleh sayap kanan untuk mengkritik kebijakan migrasi saat ini,” kata Simone.
