Investasi
Tujuh Hari Kedepan IHSG Diprediksi Cenderung Mendatar
Beberapa sentimen yang diperkirakan mempengaruhi pergerakan IHSG seminggu kedepan satu di antaranya kondisi kesehatan Trump dan istri
Keenam, ketegangan Uni Eropa (UE) dengan Inggris semakin meningkat ketika UE akan memulai tindakan hukum terhadap Inggris karena melanggar ketentuan perjanjian penarikan yang mengatur transisi pasca-Brexit.
Para pemimpin UE akan menolak untuk menyetujui posisi negosiasi Inggris saat ini tentang bantuan negara itu ketika masa transisi berakhir pada akhir tahun.
Inggris dan UE tetap terpecah karena masalah bantuan negara, yang menjadi poin penting dalam negosiasi perdagangan. UE akan mengambil langkah proses hukum terhadap Inggris karena melanggar ketentuan perjanjian penarikan dari blok tersebut.
Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan tidak memiliki terobosan untuk diumumkan dalam pembicaraan UE dengan Inggris.
Tetapi dia tetap optimis bahwa kesepakatan perdagangan baru masih mungkin dilakukan sebelum akhir tahun.
"Saat ini diperkirakan Investor akan lebih memperhatikan saham dan obligasi Asia dibandingkan pasar AS," jelas Hans.
Ketujuh, Amerika saat ini menghadapi risiko pemilu dan valuasi yang mahal. Pasar Asia terlihat lebih menarik karena pemulihan ekonomi dan pendapatan yang kuat dan valuasi yang jauh lebih murah.
Data ekonomi China yang baik di tambah virus Covid-19 terkendali di sebagian negara kawasan Asia seperti di Korea Selatan, Taiwan dan Hongkong.
Sedikit berbeda dengan sebagain kawasan Asia, Indonesia dan Filipina masih belum dapat menangani pandemi Covid-19.
Aaditya Mattoo Chief Economist for East Asia and Pacific Bank Dunia menyebut, Indonesia dan Filipina belum sukses menangani pandemi covid-19 sehingga tidak akan menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi dalam waktu dekat.

Sebelumnya Bank Dunia merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi -1,6 % dari 0,0% di tahun 2020 dan tumbuh 4,4% dari 4,8 % di tahun 2021.
Data yang keluar menunjukan selama tiga bulan berturut-turut sejak Juli, Agustus hingga September 2020 Indonesia mengalami deflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi pada September 2020 di level 0,05%, sehingga terjadi deflasi selama triwulan III 2020.
Pada Juli terjadi deflasi sebesar 0,10% dan Agustus 0,05%.
Tingkat inflasi dari tahun kalender berada di angka 0,89% dan secara tahunan (year on year) tingkat inflasi berada di level 1,42%. Deflasi merupakan tanda lemahnya daya beli masyarakat akibat pandemi.
Artikel ini telah tayangdi Kontan dengan judul: Pekan depan, IHSG diprediksi sideways, ini daftar sentimen yang mempengaruhi