Berita Bungo
Ratusan Rumah Warga Tanjung Belit Bungo Rusak, Dampak Pengeboman Tambang Batubara PT KIM
Diungkapkannya, hal itu sudah terjadi sedari awal, bahkan sejak pertama kali aktivitas pengeboman.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, MUARABUNGO - Aktivitas pengeboman atau blasting di tambang batubara PT Kuansing Inti Makmur (KIM) Kabupaten Bungo membuat ratusan rumah warga Tanjung Belit rusak.
Berdarkan data yang diterima Tribunjambi.com dari PT KIM tersebut setidaknya ada sekitar 170 rumah warga rusak. Kerusakan itu mulai dari retak-retak ringan hingga retak berat disejumlah bagian rumah, hingga fasilitas umum seperti masjid.
"Memang ada sekitar 170 rumah yang rusak, namun kita bertanggung jawab atas kerusakan tersebut, semuanya sudah kita perbaiki," ungkap Faried Setiawan selaku Humas PT. KIM dihubungi Tribunjambi.com, Kamis (1/10/2020).
Diungkapkannya, hal itu sudah terjadi sedari awal, bahkan sejak pertama kali aktivitas pengeboman.
• Ketahanan Pangan Menghadapi Pandemi, Polres Sarolangun Panen Sayuran di Kebun Hidroponik
• Line-Up Pebalap MotoGP 2021 - Valentino Rossi ke Tim Satelit, Andrea Dovizioso Kemana?
• Siap-siap, Ombudsman Akan Lalukan Ini Jika Ada Instansi Punya Pelayanan Buruk
"Sejak awal sudah kita sosialisasikan, bahkan pemda kita beritahu juga kala itu, namun apapun dampaknya kita prusahaan tetap bertanggung jawab," ungkapnya.
Dijelaskannya, rata-rata hampir setiap hari perusahaan melakukan aktivitas pengeboman ini, sejak adanya perusahaan.
Dia mengklaim bahwa aktivitas balsting itu telah mendapatkan ijin dari instansi terkait, seperti kementerian ESDM.
"Izin kita untuk melakukan aktivitas blasting ini semuanya lengkap, mulai dari bawah sampai ke tingkat kementrian, jadi tak ada alasan untuk menghentikan aktivitas kami," katanya lagi.
Meskipun begitu masyarakat sekitar tetap meminta pemerintah daerah dan pusat untuk mengevaluasi terkait izin blasting PT KIM. Sebab dari aktivitas itu berdampak pada kerusakan rumah mereka.
Seperti yang diungkapkan Jupri, warga sekitar perusahaan menyampaikan kekesalannya kepada perusahaan yang menambal dinding retak ala kadarnya. Dia tidak menginginkan sebagai penikmat dampak apabila perusahaan menghilang setelah mengeruk hasil bumi mereka.
"Rumah kami yang retak retak cuma di tambal ala kadarnya, bisa di pastikan kualitas bagunan kami jadi bobrok, nanti mereka hengkang dari sini, tinggal kami menikmati dampaknya," ujarnya.
"Makanya kami minta kepada pemerintah daerah, maupun pusat untuk mengevaluasi hal ini, karna kami disini sampai anak cucu yang terkena dampak negativnya," ungkap Jupri.
Dia mengungkapnya, bukan hanya rumah warga, sejumlah fasilitas umum juga terlihat rusak akibat aktivitas pengeboman ini seperti mushola dan lain-lain.