Gaya Minimalis Lagi Tren, Perajin Seni Ukir di Jambi Mulai Mengeluh Sepi Peminat

Jaswadi, pengrajin di Asih Seni Ukir merasa seni ukir di Kota Jambi mulai sepi peminat. Perkembangan mode yang kian beragam dianggap jadi musababnya.

Penulis: tribunjambi | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Widyoko
Jaswadi (45) bersama karya ukirnya di tempat usahanya Asih Seni Ukir Jambi, Kamis (17/9/2020). Ia mengatakan naiknya gaya bangunan minimalis, membuat orang-orang mulai meninggalkan seni ukir di bangunan. 

TRIBUNJAMBI, JAMBI -Jaswadi (45), perajin di Asih Seni Ukir merasa seni ukir di Kota Jambi mulai sepi peminat. Perkembangan mode yang kian beragam dianggap jadi musababnya.

"Semenjak perkantoran dan rumah-rumah mengusung gaya minimalis, sudah mulai sedikit yang datang ke sini meminta jasa ukir kami," kata Jaswadi (45), perajin di Asih Seni Ukir saat Tribunjambi.com temui pada Kamis (17/9/2020).

Jaswadi mengatakan, zaman dulu saat semua model bangunan kantor dan rumah masih menggunakan ukiran, mereka banyak mendapatkan proyek mengukir, terutama di instansi pemerintahan.

"Rata-rata ukiran yang ada di Jambi ini kami yang buat. Seperti di rumah sakit umum, kantor-kantor pemerintahan yang dulu, dan masih banyak lagi. Ya semenjak naik gaya bangunan minimalis itu, mulai turun permintaan ukir-ukiran. Padahal harusnya masih ada ukiran khas Jambi untuk menunjukan ini loh identitas Jambi," ungkap Jaswadi.

Untuk sekarang permintaan jasa ukir yang berlokasi di Jalan Sunan Ampel, Suka Karya, Kota Baru ini, kebanyakan berupa ventilasi, pintu, piala, dan papan nama di kantor.

Cek Endra Resmi Kukuhkan Posko dan Koalisi Jambi Cerah di Kabupaten Tanjabbar

Bupati Merangin Larang OPD Beli Kendaraan Dinas, Kecuali Berhubungan Langsung dengan Masyarakat

DLH Kota Jambi Pantau Kinerja Lalu Lintas dan Kualitas Udara Jalan Raya

"Ini sekarang saya sedang mengerjakan piala," katanya sambil menunjukan piala yang belum selesai.

"Semoga ini berlanjutlah dan nambah lagi pesanan," sambungnya.

Penurunan pemesan ukiran untuk di Jambi, Jaswadi mengatakan terjadi mulai 2010. "Biasa yang memberi proyek-proyek yang lumayan itu biasanya dari pemerintah. Terutama untuk tedeng layar dan lisplang. Dulu itu dalam sebulan bisa sampai 10 proyek dalam sebulan. Sekarang sebulan ya dua apa tiga proyek dan itu pun proyek kecil," jelasnya.

Semenjak penurunan permintaan ukiran, Asih Seni Ukir ini membuka semua jasa yang berhubungan dengan kayu. "Dulu kita fokusnya hanya ukiran saja. Tapi makin ke sini semakin sepi, jadi kita terima semua. Seperti pembuatan kursi, lemari, meja, pintu, dan lainnya," ungkap Jaswadi.

"Kalau untuk hitungan jasa ukiran kami tidak bisa menyebutkan angka pasti. Kami harus melihat dari per meter perseginya dan kerumitan ukirannya. Biasa untuk tedeng layar minimal Rp 2 jutaan lah," ujarnya.

"Kemudian untuk pembuatan piala dan papan nama, itu mulai dari Rp 300 ribu, dan untuk ventilasi mulai dari Rp 500 ribu," sambungnya.

Ia optimis nantinya seni ukir akan kembal diminati. "Saya yakin namanya tren ya kadang bisa kembali lagi ke yang dulu. Untuk ke depan pasti ada saatnya seni ukir ini kembali jaya seperti dulu lagi," tutup Jaswadi dengan mantap. (Tribun Jambi/Widyoko)

Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved