Kopassus Lawan Pasukan Elite Inggris, Kisah Pertempuran Di Kalimantan
Baik di medan terbuka maupun hutan belantara, meski berjumlah sedikit, pasukan elite TNI tetap mampu mengalahkan musuh yang lebih banyak dan berperala
TRIBUNJAMBI.COM - Sejumlah sejarah cukup banyak terjadi, satu diantaranya saat tim Kopassus melawan Special Air Service (SAS) dan kawan kawan.
Baik di medan terbuka maupun hutan belantara, meski berjumlah sedikit, pasukan elite TNI tetap mampu mengalahkan musuh yang lebih banyak dan berperalatan lebih canggih.
• Cara Alami Mengobati Mata Ikan, Kapalan, Penyebab Mata Ikan, Menghilangkan Mata Ikan Cara Medis
• Enam dari Tujuh Pelaku Perampokan Tauke Pinang di Tanjabbar Dibekuk Tim Petir Polres Tanjabbar
• Lima Tahun Jadi Buron, Pelaku Perampokan di Tanjab Barat Ditangkap
Kemampuan Kopassus:
Operasi Militer Perang (OMP):
- Direct Action serangan langsung untuk menghancurkan logistik musuh
- Combat SAR, Anti Teror
- Advance Combat Intelligence (Operasi Inteligen Khusus)
Operasi Militer Selain Perang (OMSP)
- Humanitarian Asistensi (bantuan kemanusiaan)
- AIRSO (operasi anti insurjensi, separatisme dan pemberontakan)
- Perbantuan terhadap kepolisian/pemerintah
- SAR Khusus serta Pengamanan VVIP
Pada 1964, Kopassus yang saat itu masih bernama RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) memberangkatkan tim kecil ke Kalimantan.
Tim kecil RPKAD itu dikirim dalam rangka Operasi Dwikora, konfrontasi dengan Malaysia.
Tak di sangka, dua pasukan elite bertemu di pedalaman rimba Kalimantan.
Akhirnya, RPKAD bertempur melawan pasukan elite Inggris.
RPKAD (Kopassus) mempunyai sejarah panjang dalam pertempuran.
Satu di antaranya saat 'bertemu' pasukan elite Inggris SAS, yang disebut-sebut terhebat di dunia.
SAS merupakan pasukan paling berbahaya, yang menempati peringkat pertama sebagai pasukan elite di dunia.
Namun siapa sangka, pasukan SAS dipencundangi Kopassus ( RPKAD) saat pertempuran di pedalaman hutan Kalimantan.
Konfrontasi, penyusupan dan gerilya
Pada 1961-1966, meletus konfrontasi Indonesia dan Malaysia. Kondisi itu memicu konflik bersenjata di perbatasan, baik berupa penyusupan pasukan gerilya maupun pasukan reguler.
Tindakan militer untuk menggempur Malaysia dikumandangkan Presiden Soekarno, di depan rapat raksasa di Jakarta pada 3 Mei 1964.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/anggota-kopassus-berada-di-rawa-rawa.jpg)