Kasus Covid-19 Masih Tinggi, Komnas Perlindungan Anak tak Setuju Uji Coba Belajar Tatap Muka

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) tak setuju uji coba belajar tatap muka di sejumlah daerah.

Editor: Heri Prihartono
Tribunjambi/Darwin
Tim Gugus Tugas Covid-19 sebut belum ada Sekolah di Kabupaten Bungo yang memenuhi syarat untuk melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka.tr 

TRIBUNJAMBI.COM - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA)  tak setuju uji coba belajar tatap muka di sejumlah daerah.

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan uji coba tak seharusnya digelar selama status pandemi Covid-19 masih belum berakhir dan vaksin belum ditemukan.

Menurutnya hak tersebut tak berlebihan bila melihat penambahan kasus terkonfirmasi dan tingkat kepatuhan warga atas protokol kesehatan.

Dia mengibaratakan anak-anak yang mengikuti uji coba belajar tatap muka sebagai 'kelinci percobaan' atas kebijakan pemerintah daerah.

"Siapa yang bisa menjamin di zona hijau sekalipun virus corona tidak mewabah. Hari ini situasinya hijau, hitungan detik bisa berubah begitu cepat menjadi merah atau kuning," ujarnya.

Merujuk data Kementerian Kesehatan, Sirait menuturkan sebanyak 8,3 % kasus terkonfirmasi terjadi pada anak atau 9.390 kasus terkonfirmasi.

Sementara kasus anak terkonfirmasi secara nasional hingga 2 Agustus 2020 lalu angkanya fluktuatif, paling rendah 101 dan terbanyak 213 per hari.

Namun Sirait tak menampik pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga berdampak buruk bagi kesehatan jiwa karena harus berada terus di rumah.

"Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, 47% anak merasa bosan tinggal di rumah, 35% khawatir ketinggalan pelajaran, 15% merasa tidak aman," tuturnya.

Lalu 34% merasa takut terinfeksi Covid-19 19, 20% merindukan teman-temannya, dan 10% khawatir penghasilan orang tua yang mulai berkurang.

 

Sirait mengatakan pemerintah harus bisa menyediakan jaringan internet bebas biaya dan ketersediaan gawai untuk anak mengikuti PJJ.

Hingga membuat kurikulum yang sesuai agar anak tak bosan selama mengikuti PJJ dan para orangtua tak merasa stres sehingga melakukan kekerasan.

"Pemberian modul-modul pembelajaran yang sederhana yang dapat digunahan para orangtua untuk mendampingi anak-anaknya belajar dan sekolah di rumah, tidak sulit dan membosankan, kurikulim khusus covid 19," lanjut Sirait.

Pemkot Jambi Lanjutnya Belajar Daring

 Akibat terus bertambahnya pasien positif Covid-19 di Kota Jambi beberapa hari terkahir. Pemkot Jambi memutuskan kegiatan Belajar mengajar tingkat SD dan SMP dilakukan dengan sistem Pelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Khususnya di Kota Jambi, dua hari belakangan ini jumlah pasien positif bertambah 14 pasien, total menjadi 39 pasien per 5 Agustus 2020. Menyikapi itu, Pemkot Jambi pun mengambil sikap dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan agar pencegahan penyebaran Covid-19 dapat diantisipasi secara dini.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved