Pasar Batu Bara Masih Lesu, Harga Kontrak Oktober 2020 Turun 21,88 Persen
Harga batubara sepanjang tahun ini bergerak dalam tren melemah. Mengutip Bloomberg, Selasa (21/7), harga batu bara kontrak
"Ada kemungkinan China akan kembali membuka impor batu bara. Di dalam negeri, perusahaan batu bara juga sudah sepakat menurunkan produksi agar harga bisa kembali naik," papar Chris.
Mengacu pada laporan keuangan perusahaan, pendapatan ADRO kuartal I 2020 turun 11,34% yoy menjadi US$ 750,46 juta. Sedangkan laba bersihnya turun 17,36% yoy menjadi US$ 98,17 juta. Turunnya harga jual rata-rata batubara ADRO sebesar 17% yoy menjadi tekanan utama pada pendapatan.
Analis Panin Sekuritas, Juan Oktavianus memperkirakan kinerja ADRO masih akan tertekan hingga akhir tahun ini. Permintaan batu bara yang belum membaik disertai harga batu bara yang masih rendah menjadi tantangan bagi kinerja perusahaan. "Namun, jika investor memang ingin masuk ke sektor batu bara, ADRO masih menjadi top pick kami, karena memiliki diversifikasi bisnis yang lebih besar dibanding pesaingnya," papar Juan.
Hitungan Chris, valuasi price earning ratio (PE) ADRO berada pada angka 5,6 kali, dengan angka price to book value (PBV) 0,59 kali. Dengan angka return on equity (ROE) masih baik di kisaran 10 kali, Chris merekomendasikan buy saham ADRO, dengan target Rp1.400 per saham. Dengan catatan harga batubara saat ini berada pada area yang sangat rendah, di mana perusahaan masih mencatatkan kinerja baik.
"Jika harga batubara ke depannya nanti naik, ADRO tentu akan dapat meningkatkan laba bersih cukup besar sehingga rationya akan semakin murah," lanjut Chris.
Sementara, Juan merekomendasikan beli saham ADRO dengan target Rp 1.300 per saham.
Berita ini sudah tayang di laman Kontan.co.id dengan judul: Pasar Batubara Masih Lesu, Ini Rekomendasi untuk Saham PTBA dan ADRO
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/harga-batu-bara-masih-lesu.jpg)