Pasar Batu Bara Masih Lesu, Harga Kontrak Oktober 2020 Turun 21,88 Persen
Harga batubara sepanjang tahun ini bergerak dalam tren melemah. Mengutip Bloomberg, Selasa (21/7), harga batu bara kontrak
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Harga batu bara sepanjang tahun ini bergerak dalam tren melemah. Mengutip Bloomberg, Selasa (21/7), harga batu bara kontrak pengiriman Oktober 2020 di ICE Future Exchange bertengger di level US$ 55,85 per metrik ton. Angka tersebut sudah turun 21,88% sejak penutupan akhir tahun lalu.
Turunnya permintaan batubara menjadi faktor utama penekan harga. Hal tersebut juga menjadi tantangan untuk kinerja emiten sektor batubara sepanjang tahun ini.
Juan Oktavianus, Analis Panin Sekuritas mengatakan, kebijakan lockdown atau pembatasan sosial selama pandemi Covid-19 di sejumlah negara memicu turunnya permintaan energi. Juan mencatat, volume impor global batu bara pada kuartal I 2020 turun 16,9% year on year (yoy) menjadi 136 juta ton. Di sisi lain, volume ekspor juga turun 13,9% yoy menjadi 205 juta ton.
Penurunan ekspor terutama untuk tujuan Korea Selatan, Taiwan dan India. Sementara, China yang masih menduduki peringkat pertama konsumen dan importir batu bara terbesar masih menghadapi tingginya persediaan dalam negeri. "Meski harga dalam negeri sudah mahal, tidak mungkin bagi China untuk membuka keran impor. Mereka sudah ada komitmen untuk memakai batu bara dalam negeri," papar Juan.
Sepanjang 2019, impor batu bara China mencapai 225 juta ton atau setara 21% dari total volume impor batubara global. Namun, angka impor China tahun lalu hanya tumbuh 4,2% yoy, di bawah rata-rata pertumbuhan lima tahun sebesar 9,9%. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya produksi domestik.
Konsumsi domestik
Analis NH Korindo Sekuritas, Meilki Darmawan mengatakan, secara global, demand batubara tahun 2020 berpotensi lebih kecil dibanding 2019. Harga batu bara yang sudah turun lebih dari 20% sepanjang tahun ini juga pada akhirnya akan sulit naik. "Namun, kami tetap meyakini konsumsi domestik batu bara tahun 2020 bisa naik tipis, dengan estimasi mencapai 140 juta metrik ton," papar Meilki.
Sebagai informasi, konsumsi batubara domestik tahun 2019 sebesar 138 juta ton. Sementara pemerintah menargetkan konsumsi tahun ini mencapai 155 juta ton.
Menurut Juan, produsen batu bara dalam negeri berharap dapat menurunkan produksi, mengingat permintaan sedang lemah. "Tetapi kita tidak bisa berharap dari situ karena 100% kewenangan pemerintah," imbuhnya.
Rekomendasi untuk Saham PTBA dan ADRO
Secara sektoral, Meilki memandang netral untuk saham batu bara. Namun demikian, investor masih bisa memilih emiten batu bara dengan penjualan mayoritas domestik dan valuasi yang atraktif.
Pertama, PTBA yang susah mengejar target lantaran permintaan turun.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan bisa memproduksi 30,3 juta ton batubara, naik tipis ketimbang produksi 2019 yang tercatat 29,1 juta ton. Sementara pada kuartal I-2020, PTBA hanya mampu memproduksi sekitar 5,5 juta ton batubara atau turun sekitar 2,8% year on year (yoy).
Namun, manajemen mengaku ada kemungkinan produksi batubara turun. Hal ini dikarenakan tren harga batubara global yang menurun akibat pandemi Covid 19. Apalagi, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) juga telah memangkas target produksi batubara di kisaran 15%-20% tahun ini.
Untuk itu, PTBA bakal menyesuaikan nilai belanja modal pada 2020. Awalnya, PTBA mengalokasikan belanja modal Rp4 triliun. Salah satu proyek yang sedang digarap adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel 8 berkapasitas 2 x 620 MW. Selain itu, PTBA bekerja sama dengan Pertamina untuk proyek hilirisasi batubara menjadi metanol.
Dalam kerjasama ini, PTBA akan mengolah batubara kalori rendah menjadi metanol, kemudian dipasok ke Pertamina untuk keperluan program Pertamina Gasoline A20. Manajemen mengaku proyek-proyek tersebut masih berjalan di tengah pandemi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/harga-batu-bara-masih-lesu.jpg)