Kesehatan

Meski Sudah Diet Namun Berat Badan Belum Turun, Inilah Tiga Faktor yang Mempengaruhi Berat Badan

Dokter Gizi di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr Agnes Riyanti Inge Permadhi menjelaskan setidaknya ada tiga faktor yang memengaruh berat badan.

Editor: Nurlailis
Google
Kebiasaan untuk turunkan berat badan 

TRIBUNJAMBI.COM - Berat badan menjadi perkara sulit bagi sebagian orang.

Tidak semua orang yang sudah menjelani diet akan dengan mudah mendapatkan berat badan ideal.

Fakta di lapangan ditemui seseorang yang sudah berupaya makan dengan porsi berlebih namun tidak juga bertambah berat badannya.

Selain Tingkatkan Kebugaran, Bersepeda Bisa Turunkan Berat Badan

4 Minggu Bisa Turun Berat Badan 5 Kg, Begini Cara Diet Ketat Ala Nagita Slavina, Lihat Menu Makannya

Sebaliknya ada pula seseorang yang merasa hanya makan dengan porsi sedikit tapi cepat gemuk.

Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi?

Menjawab hal ini, Dokter Gizi di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr Agnes Riyanti Inge Permadhi menjelaskan setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi:

1. Genetika

Genetik adalah sesuatu yang sulit diubah, karena bawaan alami tubuh.

Diberitakan Kompas.com (6/3/2020), genetika adalah cabang biologi yang menyangkut dengan pewarisan sifat (hereditas) dan variasi.

Konsep genetika berkembang dari ilmu yang membahas tentang bagaimana sifat diturunkan menjadi lebih luas, yakni ilmu yang mempelajari tentang materi genetik.

Secara luas, genetika membahas mengenai: Strukturmateri genetik, meliputi gen, kromosom, DNA, RNA, plasmid, episom, dan elemen tranposabel.

Reproduksi materi genetik, meliputi reproduksi sel, replikasi DNA, dan lainnya. Kerja materi genetik, meliputi ruang lingkup materi genetik, transkripsi, kode genetik dan lainnya.

Perubahan materi genetik, meliputi mutasi dan rekombinasi Genetika dalam populasi Perekayasaan materi genetik.

2. Metabolisme

Faktor kedua yang memengaruhi berat badan seseorang yakni metabolisme.

Namun karena tidak terlihat maka hal ini sedikit sulit dikontrol.

Menurut Inge, makanan yang masuk ke dalam tubuh akan diproses menjadi energi yang berbentuk lemak.

Lemak itu akan keluar jika digunakan untuk beraktivitas, namun jika seseorang hanya sedikit melakukan aktivitas fisik, maka energi itu hanya akan tersimpan di dalam tubuh.

"Begini ada orang yang dikasih makan (makanan) langsung dimetabolisme oleh tubuhnya menjadi energi. Ada orang yang dikasih makanan, (makanan) dimetabolisme, (lalu hanya) disimpan. Beda-beda," ujar Inge, saat dihubungi Kompas.com, Minggu (19/7/2020) siang.

Proses metabolisme pun akan berbeda-beda pada setiap orang, tergantung dari faktor usia juga kegiatannya.

"Dengan bertambahnya usia itu biasanya metabolisme menjadi lebih rendah. Oleh karena itu, yang tadinya kurus, ketika jadi tua dia lebih gemuk. Secara umur, metabolisme menjadi lebih rendah, (asupan) makannya sama, makanya tumpukan lemaknya lebih banyak," jelas Inge.

Sebenarnya cara untuk meningkatkan metabolisme tubuh adalah dengan banyak beraktivitas fisik entah berolahraga, atau yang lainnya, sehingga energi itu terpakai dan tidak mengendap di dalam tubuh.

3. Asupan makanan

Faktor terakhir atau ketiga adalah asupan makanan.

Bukan banyak sedikitnya makanan yang diasup yang menjadi permasalahan dalam hal ini, namun kandungan energi tersembunyi di dalamnya.

"Misalnya sama-sama makan nasi, yang satu makan nasi goreng, yang satu makan nasi biasa. Nah pada nasi goreng itu ada energi tersembunyi. Walaupun sama-sama makan 100gr nasi, tapi satu digoreng itu ada kandungan minyak yang dia (pemakan) tidak berasa," papar dia.

Contoh lain adalah minuman bersoda dan air mineral.

Dalam minuman bersoda, terkandung kalori yang tinggi, sementara air mineral tidak demikian.

"Ketika kita makan bersama-sama, mungkin makanan saat itu semuanya sama, jadi kita ngeliatnya kok dia enggak gemuk-gemuk, tapi kok saya gemuk. Itu sebenernya kita makan lebih banyak makanan yang mengandung sumber energi tersembunyi," ungkap Inge.

Apalagi, jika asupan tinggi energi tersembunyi tersebut tidak diimbangi dengan olahraga yang bisa meningkatkan metabolisme tubuh.

Maka jangan heran ketika berat badan meningkat. Hal yang sama juga disampaikan oleh Ahli Gizi Komunitas, Dr dr Tan Shot Yen.

Saat dihubungi terpisah ia menegaskan ada baiknya tidak buru-buru menyalahkan sistem metabolisme tubuh kita, tapi perhatikan betul apa saja yang kita asup sehingga tambahan berat badan itu datang.

"Paling enak nuduh yang enggak kelihatan kan (metabolisme)? Setuju metabolisme tidak sama, tapi sebelum menyasar ke sana, lebih bijak bikin jurnal apa yang dimakan dan diminum tiap hari. Jangan lupa jurnal jujur," ujar Tan, Minggu (19/7/2020) pagi.

Jurnal jujur yang dimaksud Tan adalah catatan asupan makanan yang kita konsumsi dalam setiap harinya.

Jangan lupa sertakan pula minuman yang kita konsumsi, jangan hanya makanannya.

Minuman berasa, minuman mengandung boba, soda, gula, dan sebagainya, itu memiliki kandungan yang lebih banyak bagi tubuh, tapi seringkali kita abai.

"Makannya banyak dan sering, tapi tinggi serat dan kualitas, (itu) yang dibutuhkan tubuh. Ya aman dong? (Sementara) Makan dikit ya? Dikit tapi kalorinye gila?" sebutnya.

Soal metabolisme, Tan menyebut kerja tubuh seseorang akan berubah dan menurun ketika mendekai usia menopouse.

"Yang ngeluh-ngeluh tadi masih jauh dari menopause, kan? Metabolisme (mereka) turun karena rebahan, enggak olah raga. WFH beneran berteman dengan jok dan bantal," kata dia.

Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved