Berita Tanjab Barat
Permintaan Menurun, Sepekan Kedepan Pengiriman Udang Ketak dari Tanjabbar ke Jakarta Disetop
Terlebih lagi, dari hari ini hingga minggu kedepan, udang ketak tak lagi dikirim ke Jakarta sebagi tempat tujuan pengiriman. Lantaran pihak...
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, KUALATUNGKAL - Udang ketak menjadi salah satu hasil laut bagi nelayan yang ada di Kabupaten Tanjabbar. Saat ini harga udang ketak kian menuru dan menjadi lesu bagi pengusaha udang ketak.
Terlebih lagi, di Kabupaten Tanjabbar dari hari ini hingga minggu kedepan, udang ketak tak lagi dikirim ke Jakarta sebagi tempat tujuan pengiriman. Lantaran pihak penampung yang ada di Jakarta menyetop pengiriman udang ketak.
Indra, seorang pengusaha udang ketak menyebutkan bahwa terhitung hari ini hingga minggu depan, pengiriman udang ketak disetop. Ini berimbas pada tangkapan nelayan di Kuala Tungkal yang tidak bisa dibelinya seminggu ini.
• Proses Belajar Mengajar SMP dan SMA di Kabupaten Bungo Dimulai Senin Depan
• VIDEO Korban Tenggelam di Sungai Batang Tebo Berhasil Ditemukan
• EKSKLUSIF Jalan Terjal Startup Lokal Jambi, Target Pasar Jadi Tantangan
"Kondisi sekarang pihak Jakarta bilang udang ketak lagi banyak. Jadi selama kurang lebih seminggu inilah kita tidak ada kirim udang ke Jakarta," ujarnya, Senin (13/7/2020).
Indra menyebutkan bahwa soal harga jual dengan kondisi saat ini mengalami up dan down. Satu minggu yang lalu harga udang ketak berada dalam nilai jual Rp80 ribu per ekor dengan jenis udang ketak jumbo.
"Kalau sekarang lagi down, ukuran jumbo itu di jual Rp30 ribu. Harganya naik turun, karena tergantung dari banyaknya udang. Kalau lagi banjir harganya bisa turun, kalo lagi stabil bisa Rp80 ribu," sebutnya.
Ia menyebutkan bahwa Jika dalam kondisi normal harga udang ketak dengan ukuran jumbo bisa dijual dengan harga Rp120 ribu per ekor. Namun, saat ini harga tersebut terbilang jauh, terlebih sejak Pandemi ini.
Soal transportasi, kata Indra dengan kondisi Pandemi tidak terlalu berpengaruh. Meskipun memang beberapa kali untuk pengiriman Jakarta melalui Riau atau Palembang, yang tentunya menambah cost transportasi.
"Soal transportasi selama pandemi memang ada sekitar Maret itu dua mingguan tidak bisa kirim. Tapi setelah itu bisa kirim, kadang memang ada kendala," katanya.
Saat ini, pihaknya hanya tinggal menunggu kondisi harga udang ketak stabil. Ini melihat dari banyaknyanya permintaan dari Jakarta yang tergantung permintaan pasar luar negeri seperti Hongkong. Jika permintaan sedikit, maka otomatis berpengaruh terhadap harga.
"Intinya banyak atau tidaknya permintaan. Kalau permintaan banyak, otomatis harga naik tapi kalau sedikit sementara hasil udang banyak ya harga jual rendah, atau seperti sekarang, di stop pengirimannya," ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Yanto, petugas gudang udang ketak lainnya. Ia menyebutkan bahwa karena kondisi permintaan yang sedikit sementara hasil udang ketak banyak membuat harga jual udnag ketak rendah.
"Sekarang harga jual ke Jakarta itu rendah. Harga kadang tinggi kadang rendah, jadi kita tidak bisa tentukan harga. Tadi malam masih Rp85 ribu perekor, hari ini Rp50 ribu, kan turunnya kuat," sebutnya.
Sementara itu, untuk pengiriman juga tidak sebanyak beberapa bulan terakhir. Saat ini katanya, untuk pengiriman ke Jakarta sekitar dua hari sekali. Sementara pada bulan-bulan lalu bisa setiap hari.
"Paling sekarang itu dua hari sekali itu paling cepat," terangnya.
Terhadap kondisi tersebut para pengusaha udang ketak tidak bisa berharap banyak. Kecuali berharap agar udang ketak yang ditampungnya dapat bertahan hidup lebih lama. Bahkan jika memang tidak dapat bertahan hidup, mau tidak mau pengusaha udang ketak menjual udang tersebut dengan harga murah.