Breaking News:

Berita Selebritis

Di Sidang Lanjutan Kasus Narkob lucinta Luna, Keterangan Petugas Lab BNN Untungkan LL

JPU menghadirkan petugas laboratorium BNN pemeriksa urine dan rambut Lucinta Luna dalam sidang tersebut. Selain itu, mereka juga menghadirkan penghuni

TRIBUNJAKARTA.COM/ELGA HIKARI PUTRA
Lucinta Luna mengelap airmatanya saat menjawab pertanyaan dari Majelis Hakim. Ia tampak kebingungan karena tak didampingi kuasa hukumnya. 

TRIBUNJAMBI.COM - Sidang kasus dugaan penyalahgunaan narkoba yang menyeret nama Lucinta Luna kembali bergulir.

Persidangan yang beragendakan pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu diselenggarakan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (8/7/2020).

JPU menghadirkan petugas laboratorium BNN pemeriksa urine dan rambut Lucinta Luna dalam sidang tersebut.

Selain itu, mereka juga menghadirkan penghuni apartemen tempat Lucinta Luna tinggal.

Mengenai hal ini, kuasa hukum Lucinta Luna yang berinisial AAFS angkat bicara.

Lucinta Luna saat melakukan video call dengan pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Barat terkait tahap dua kasus yang menjeratnya.
Lucinta Luna saat melakukan video call dengan pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Barat terkait tahap dua kasus yang menjeratnya. ((Dok. Polres Jakarta Barat))

Ia menyebut kliennya merasa diuntungkan dengan keterangan saksi petugas laboratorium BNN.

“Ini saksi ahlinya, ya, yang memeriksa hasil laboratorium dari BNN. Ternyata hasil tes urine negatif, cuma hasil tes rambut positif,” kata AAFS usai sidang seperti dikutip dari Kompas.com.

“Tapi dari hasil tes rambut tidak bisa dideteksi secara akurat kapan, saudara terdakwa menggunakan ekstasi tersebut, bisa sebulan sebelumnya, bahkan sampa jangka waktu 3 bulan sebelumnya,” sambung AAFS.

Pengantin Baru di Pasuruan Bunuh dan Perkosa Bocah 5 Tahun, Alasan Butuh Uang Beli Sosis & Kopi Susu

Update Covid-19 Jambi Kamis (9/7) Tambah 1 Positif, Total 122 Kasus Virus Corona

Kuasa hukum Lucinta Luna berharap agar Majelis Hakim dapat mempertimbangkan kembali hasil keterangan saksi itu.

“Nah ini mungkin kita berharap jadi bahan pertimbangan bagi Majelis Hakim. Kita kan tidak bisa memberikan hukuman orang yang menggunakan dulu, tapi sekarang sudah tidak menggunakan lagi,” ujar AAFS.

Halaman
1234
Editor: suci
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved