Breaking News:

Berita Nasional

Tokoh Pemuda Maluku Ungkap Bukan Tanah, Perseteruan John Kei dan Nus Kei Ternyata Karena Urusan Ini

Tokoh Pemuda Maluku Ungkap Bukan Tanah, Perseteruan John Kei dan Nus Kei Ternyata Karena Urusan Ini

Editor: Andreas Eko Prasetyo
WARTA KOTA Nur Ichsan / TRIBUNNEWS Jeprima
Nus Kei (Kiri) dan John Kei (kanan) 

"Saya tidak memiliki data empiriknya," kata Kisnu ketika dihubungi Wartakotalive.com, Rabu (24/6/2020). 

Selain itu, Kisnu juga mengaku tidak mengikuti kasus yang tengah ramai terkait kelompok John Kei, dan tidak tahu tokoh-tokoh dalam kelompok itu. 

Sehingga, Kisnu menyebut ia sama sekali tidak bisa memberi analisa atau pandangannya terkait keributan di dalam kelompok John Kei. 

Tapi secara teoritis, Kisnu Widagso mengaku dapat menjelaskan soal teori pergantian kepemimpinan dalam organisasi kriminal. 

Namun, lagi-lagi Kisnu memberi penjelasan bahwa ia tidak sedang berbicara tentang kelompok John Kei.

Pemilik 3 Zodiak Ini Diprediksi Bernasib Baik di Bulan Juli 2020 - Pisces Bersinar Terang

Alat Uji Swab Mandiri dengan Metode PCR di Jambi Masih Menunggu Validasi Kemenkes

Sebab, kata Kisnu, untuk menyebut kelompok John Kei adalah organisasi kriminal, perlu penelitian lebih jauh dan panjang. "Saya juga tidak memiliki data-datanya untuk meneliti itu. Ini dislaimer saya," ujar Kisnu. 

"Jadi ini hanya teoritik saja tentang pergantian kekuasaan dalam organisasi kriminal dalam ilmu krimonologi," kata Kisnu menyampaikan disclaimernya.  

Menurut Kisnu, seorang pemimpin dalam organisasi kriminal memang dapat disuksesi atau digantikan.

"Masalahnya pergantian kepemimpinan dalam organisasi kriminal itu sulit. Mengapa sulit? Karena suksesi di organisasi kriminal baru akan terwujud jika organisasinya mengalami krisis," kata Kisnu

Ada beberapa krisis yang dapat berubah jadi suksesi, yakni krisis kepemimpinan, krisis pengakuan,  krisis teritorial karena direbut oleh kelompok lain, dan krisis karena banyak anggota ditangkapi aparat. 

Terkait krisis pengakuan, Kisnu menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang pengakuannya sebagai pemimpin digerogoti dan tidak diakui masyarakat pun dapat membuat terjadinya suksesi dalam organisasi kriminal. 

"Termasuk juga ketika organisasi ini sedang dipolisikan. Anggota-anggotanya banyak banget yang ditangkepin sama polisi. Ini satu situasi krisis yang juga bisa berujung pada suksesi kepemimpinan," kata Kisnu. 

Namun, kata Kisnu, proses suksesi itu tidak mudah, dan pasti berdarah-darah.

"Pasti harus ada konfrontasi, bahkan bisa terjadi pembunuhan-pembunuhan di antara pendukungnya, bahkan pemimpinnya sendiri," kata Kisnu.  

Nantinya, kata Kisnu, mereka yang akan menjadi pemimpin baru bukan hanya sosok yang kuat dalam arti fisik saja, tetapi sosok yang cerdas dan cerdik.

Kisah John Kei Sukses Bangun Bisnis di Jakarta

Tapi bagaimana sebenarnya John Kei memulai bisnisnya di Jakarta.

John Kei pernah mengaku bahwa kekuatan di Jakarta terbangun seusai ia terlibat kasus pembunuhan dan dipenjara. 

John Kei pernah menceritakan kisah kehidupannya saat diwawancara Pendeta Gilbert Lumoindong, dan diposting dalam program #KAMUHEBAT Pendeta Gilbert di akun youtubenya dengan judul 'John Kei Menangis Ingat Keluarga. 

John Kei memulai ceritanya dengan mengisahkan peristiwa ketika ia keluar dari kampungnya pada tahun 1986.

John Kei berbohong pada ibunya untuk bisa pergi ke Jawa. 

Dia mengaku hanya akan pergi ke Dobo sekitar 1 bulan lamanya. 

Dobo tidak jauh dari kampung halamannya di Kei, Maluku Tenggara. 

Tapi nyatanya John Kei justru pergi ke Surabaya tanpa sepeser pun uang. 

Di Surabaya, John Kei tinggal bersama keluarganya.

Dia lalu sempat mencoba mendaftar menjadi prajurit TNI Angkatan Laut pada tahun 1987. 

Dia kemudian gagal mengikuti tes lantaran memukul peserta lain saat proses seleksi. 

"Ada peserta yang panggil Ambon Itam..Ya saya hajar," ujar John Kei.

Akibat perkelahian itu, John Kei tidak sempat ikut tes, ia lekas dikeluarkan. 

"Setelah itu saya tato badan untuk melupakan masuk Angkatan Laut," ujar John Kei. 

Tahun 1988, John Kei pergi ke Jakarta. 

Di Jakarta ia ditampung di rumah kerabatnya yang lain di kawasan Berlan. 

Lucunya, saat itu John Kei tidak tahu rumah kerabatnya di Jakarta.

Dia hanya diberitahu bahwa rumahnya ada di kawasan Berlan. 

John Kei sempat bingung mencari rumah kerabatnya sampai melihat sebuah celana jins tergantung depan sebuah rumah. 

John Kei ingat bahwa itu celana jins milik kerabatnya ketika datang ke Surabaya. 

John Kei pun memilih masuk ke dalam rumah, dan ternyata benar. 

Pendeta Gilbert Lumoindong tertawa lebar mendengar cerita bagaimana John Kei tiba di Jakarta pertama kali. 

Dari sanalah John Kei mulai mengenal kehidupan malam. 

Ia bekerja dari satu pub ke pub lain. 

Pekerjaan di diskotek ini ia mulai kerjakan tahun 1988. 

Sampai akhirnya bekerja menjadi Satpam di salah satu diskotek di Jalan Jaksa.

Ia memperoleh gaji Rp 200.000 per bulan. 

"Tapi tiap bulan terima kertas aja karena banyak utang," ujar John Kei. 

Tapi ia tak lama menjadi Satpam karena berkelahi dengan bosnya. 

Dia menghancurkan semua barang-barang bosnya, lalu kembali ke kampung halamannya di Pulau Kei. 

John Kei menceritakan bahwa ketika ia pulang ke kampung halamannya, kondisi keuangannya sudah jauh lebih baik. 

Bahkan ibunya sampai terharu dengan apa yang bisa didapatkan John Kei. 

Dia kemudian kembali bekerja di Jalan Jaksa, lalu terlibat kasus pembunuhan di jalan jaksa di tahun 1992. 

Dia divonis 5 tahun penjara, dan bebas pada tahun 1995. 

Menurut John Kei, setelah ia keluar penjara untuk pertama kalinya, saat itulah kekuatannya mulai terbangun. 

Dia jadi memiliki anak buah, dan banyak orang mulai memilih bergabung dengannya. 

Hal itu membuatnya jadi seperti pimpinan geng. 

Saat itu, John Kei mengklaim bahwa dirinya sudah memiliki pasukan di mana-mana. 

Di awal bisnisnya, John Kei paling anti dengan pekerjaan menjaga tempat hiburan. 

"Jadi kalau saya ketemu pengusaha, you kasih kerjaan saya kerja. Tapi kalau kerja jadi security saya tidak," kata John Kei. 

"Tapi kalau ada kerjaan jadi debt collector, itu pasti saya mau," ujar John Kei.

Makanya kemudian John Kei menggerakan anak buahnya untuk menjadi debt collector. 

Ketika bisnisnya makin membesar, John Kei mengatakan punya 500 - 600 orang yang sangat setia kepadanya. 

"Saya punya 500 - 600 orang yang kalau saya suruh pergi ke neraka, mereka pergi ke neraka," ujar John Kei. 

Tapi di luar itu, John Kei masih memiliki banyak anak buah lain. 

Bahkan, kekuatan anak buah John Kei tak terbatas. Segalanya sesuai kebutuhan John Kei. 

"Kalau saya butuh berapa, maka mereka kumpul," ujar John Kei.  

2 Jenis Bisnis yang Dihindari John Kei

John Kei juga menceritakan bahwa ada 2 jenis bisnis yang paling dia hindari. 

Seingat John Kei, dia hanya pernah terlibat dengan bisnis menyangkut tanah satu kali saja. 

Selain itu,  selama menjadi bos preman, John Kei ternyata tidak mau menjalankan bisnis narkoba.

"Dari dulu saya tidak mau transaksi narkoba," ujar John Kei. 

Jadi ada 2 jenis bisnis yang paling ia hindara. Pertama, menyangkut tanah. Kedua, menyangkut narkoba. (cc)

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Daud Kei Sebut Jumlah Anak Buah John Kei Kini Sudah Sedikit, Nus Kei juga Tak Mau Gabung Lagi

Artikel ini telah tayang di tribunmanado.co.id dengan judul Bukan Tanah, Ternyata Ini Alasan Perseteruan John Kei dan Nus Kei, Diungkap Tokoh Pemuda Maluku,


IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved