Investor Perlu Tinjau Aset di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

Masa adaptasi kebiasaan baru di berbagai sektor dinilai Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai masa yang tepat bagi para investor melakukan peninjauan.

Tribunjambi/Fitri Amalia
Bursa Efek Indonesia Perwakilan Kantor Jambi. 

TRIBUNJAMBI.COM - Masa adaptasi kebiasaan baru (ABK) di berbagai sektor dinilai Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai masa yang tepat bagi para investor melakukan peninjauan atas aset investasi yang dimiliki. Hal tersebut meliputi bagaimana hasil investasi selama masa pandemi, dan melakukan penyusunan kembali alokasi aset investasinya.

Fasha Fauziah, Kepala Kantor Perwakilan BEI Jambi mengatakan, berinvestasi di pasar modal, atau dikenal dengan investasi portofolio membutuhkan rebalancing atas portofolio secara berkala. Dalam kondisi normal, rebalancing biasanya dilakukan setiap enam bulan atau minimal setahun sekali. Namun, dalam kondisi khusus, seperti saat ini, rebalancing bisa dilakukan lebih cepat.

Rebalancing adalah strategi untuk menyesuaikan kembali antara target investasi dengan alokasi investasi.

BREAKING NEWS Pasien Positif Corona di Jambi Bertambah 3 Orang, Total 112 Kasus

Harga Bawang dan Cabai Turun Lagi, Daftar Harga Sembako di Pasar Angso Duo Jambi Hari Ini

Bocah 7 Tahun di Jambi Sembuh dari Corona, Sempat Dirawat 56 Hari di Rumah Sakit

"Setiap investor tentu memiliki target atau rencana atas investasinya, misal seorang investor memiliki tujuan mengumpulkan uang untuk persiapan pensiunnya pada 10 tahun lagi, selain itu ia juga membutuhkan modal usaha untuk membangun hotel di tanah miliknya saat pensiun. Dengan menghitung dana yang dimiliki saat ia mulai berinvestasi, beserta dana yang akan secara berkala dialokasikan untuk investasi, dan dengan menghitung potensi return pada masing-masing produk investasi, maka ia mengalokasikan dananya sebanyak 50% untuk diinvestasikan pada instrumen saham, 20% pada instrumen pendapatan tetap (obligasi), dan 30% dalam mata uang dolar Amerika," jelas Fasha, Jumat (19/6).

Terjadinya wabah Covid-19 di seluruh dunia menjadi sebuah peristiwa bencana yang tidak diperkirakan sebelumnya. Semua sektor terkena dampak buruk. Sektor usaha riil banyak yang terpukul. Begitu pula pada sektor investasi portofolio di pasar modal.

Tetapi saat ini sudah mulai diberlakukan ABK. Pelaku usaha yang sempat menghentikan kegiatannya akan mulai beroperasi kembali. Perekonomian akan kembali menggeliat. Indikator investasi di pasar modal juga sudah mulai menunjukkan tanda recovery.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah mulai menanjak sejak akhir Maret lalu. Investor bisa menghitung kembali berapa komposisi nilai aset yang saat ini ada di portofolio masing-masing. Mengacu pada contoh di atas, kemungkinan, alokasi saham yang awalnya 50% sudah menurun ke 30% karena harga-harga saham terkoreksi.

Instrumen pendapatan tetap mungkin masih tetap 20%. Sementara, investasi pada mata uang dolar Amerika menjadi lebih tinggi, mungkin jadi 50%.

BREAKING NEWS Pasien Positif Corona di Kota Sungai Penuh Bertambah 2 Orang, Ini Identitasnya

Sejak New Normal, Ratusan Warga Urus KK dan KTP di Dukcapil Muarojambi dalam Sehari

Investor bisa menukarkan mata uang dolar Amerika miliknya ke dalam mata uang rupiah dan membeli saham (menambah jumlah saham miliknya) agar posisi aset alokasi di mata uang dolar AS tetap sama sesuai rencana awal, yaitu 30%.

Sementara, dengan penambahan jumlah saham, nilai aset saham kembali ke posisi 50% juga. Sehingga, alokasi portofolio menjadi sama seperti sebelum masa pandemi. Secara total, keseluruhan nilai dana investasi mungkin masih belum sama atau lebih rendah dibanding masa normal. Namun, alokasi investasi sudah kembali disesuaikan berdasarkan proporsi sebelumnya.

Saat ini, IHSG BEI masih di bawah angka ketika pandemi Covid-19 belum mewabah ke Indonesia. Pada pertengahan Januari 2020, IHSG BEI berada pada kisaran 6.325, yaitu titik tertingginya di tahun ini.

Sementara, per 16 Juni, IHSG masih ada di posisi 4.986. Artinya harga-harga saham masih jauh di bawah ketika pandemi COVID-19 belum mewabah di Tanah Air atau rata-rata sekitar 21% di bawah harga sebelumnya.

Ini tentu menjadi kesempatan baik bagi investor untuk bisa membeli saham dengan harga murah. Investor memiliki potensi keuntungan di atas 20% ketika kondisi perekonomian dan investasi kembali normal.

"Potensi hasil investasi semakin besar ketika perekonomian kembali bertumbuh pesat. Dan seperti tren historis investasi di pasar modal, semakin panjang jangka waktu investasinya, maka semakin besar potensi return di masa depan," tutupnya. *)

Penulis: fitri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved