unik

64 Ribu Penyu Migrasi Ke Pulau Ini, Untuk Cegah Kepunahan, Dari Atas Terlihat seperti Bintik-Bintik

Populasi mereka terus menurun akibat kerusakan habitat dan eksploitasi sumber daya.

National Geographic Indonesia
penyu hijau (Chelonia mydas) di perairan Kona, Hawaii. 

TRIBUNJAMBI.COM - Fenomena alam seperti lumba-lumba atau penyu dan hewan laut lainnya selalu membikin mata sejuk. Seperti yang tertangkap kamera ini.

Sekitar 64 ribu penyu hijau yang terancam punah tertangkap kamera sedang bermigrasi di Pulau Raine, Australia—penangkaran penyu hijau terbesar di dunia.

Fenomena tersebut direkam pada 2019 lalu sebagai bagian dari Raine Island Recovery Project, sebuah upaya yang didekasikan untuk melestarikan karang yang terpencil.

Harta Nazi Ini Disembunyikan Karena Nilainya Triliunan Rupiah, Tempat Persembunyiannya Banyak

Bikin Merinding, Foto Luar Angkasa yang Jadi Viral setelah Dibuat NASA Pakai Musik

Para peneliti bekerja sama untuk membangun kembali pantai agar para penyu bisa bersarang dengan tenang.

Mereka juga memasang pagar untuk mencegah kematian penyu. Diketahui bahwa sekitar 60 ribu penyu hijau betina datang ke wilayah tersebut setiap tahun untuk bertelur dan menciptakan fenomena “migrasi hewan terbesar” di dunia.

Danau India Warna Pink Ini Sebelumnya Punya Warna Lain, Kata Peneliti Ini Penyebabnya

Timbul Tenggelam, Kota Hantu Ini Akan Buka Lagi Untuk Wisata

Penyu hijau (Chelonia mydas) sendiri masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) sebagai hewan terancam punah.

Populasi mereka terus menurun akibat kerusakan habitat dan eksploitasi sumber daya.

Sejak 1984, para peneliti telah memperkirakan populasi penyu di Pulau Raine. Mereka melakukannya dengan menandai ribuan penyu dengan cat—tugas yang sulit dan memakan waktu—sebelum menghitung kembali spesies tersebut secara individu.

“Dari perahu kecil, kami kemudian menghitung penyu yang dilukis dan yang tidak. Namun, mata kami lebih tertarik pada penyu dengan garis putih cerah dibanding yang tidak memiliki cat. Alhasil, cara tersebut menghasilkan angka yang bias dan mengurangi akurasi,” imbuhnya.

Halaman
12
Editor: Jaka Hendra Baittri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved