New Normal, Matinya American Dream

Orang Jawa mengatakan, “ara-eru kedawa-dawa ing Amerika, kratone suwung tanpa ratu” atau huru hara yang berkepanjangan di Amerika, membuat keraton ...

Istimewa
Duduk paling kanan - AM Putut Prabantoro menjadi salah satu narasumber dalam FGD Tentang Ketahanan Pangan Nasional Yang Diselenggarakan PT Petrokimia Gresik, April 2017 

BISA jadi, jika huru hara di dalam negeri tidak dapat dihentikan, Amerika Serikat akan kehilangan pemimpin tertingginya.

Orang Jawa mengatakan, “ara-eru kedawa-dawa ing Amerika, kratone suwung tanpa ratu” atau huru hara yang berkepanjangan di Amerika, membuat keraton kosong tanpa raja.”

Negara adi daya ini tidak hanya kehilangan presidennya tetapi juga sulit mendapatkan penggantinya.

Jikapun ada, penggantinya tidak secara sukarela menduduki posisi tersebut karena lima alasan utama.

Demikian ditegaskan oleh Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro kepada media di Jakarta, Minggu (7/6/2020).

Sampai Disebut Pernah Santet Presiden Amerika Serikat, Begini Sepak Terjang Ki Gendeng Pamungkas

New Normal! Ini Syarat yang Harus Dilengkapi Penumpang Maskapai Garuda, Lion Air, Citilink

Alasannya adalah, siapapun yang akan menjadi Presiden Amerika harus menghadapi ujian berat yakni, menghentikan demo nasional, harus menyediakan pekerjaan bagi 40 juta pengangguran akibat pandemi Covid-19, memberi makan kepada rakyatnya, menyelesaikan beban hutang sebesar $25 triliun, dan pemulihan ekonomi nasional secara cepat.

Dalam konteks ini, menurut Putut Prabantoro, Indonesia harus mengambil pelajaran secara bijaksana untuk tidak lagi mengagungkan “American Dream” yang menjadi dasar berkembangnya ekonomi kapitalisme.

Indonesia harus kembali ke nilai luhurnya gotong royong dan meyakini. sistem ekonomi Pancasila sebagaimana yang menjadi amanat Pasal 33 UUD 1945 (asli) merupakan sistem ekonomi yang paling sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

“Meskipun secara konstitutif, Indonesia menganut sistem ekonomi sendiri yakni Sistem Ekonomi Pancasila, pada praktiknya ekonomi Indonesia menganut paham kapitalisme. Tambahan dua pasal sebagai amandemen pada Pasal 33 UUD 1945 (amandemen) menjelaskan adanya campur tangan pihak asing dalam mengatur perekonomian Indonesia dengan memasukan kapitalisme,” ujar Putut Prabantoro.

AM Putut Prabantoro  Saat menjadi narasumber tentang Indomesia Raya Incorporated  (IRI) di Universitas Riau, Mei 2017.
AM Putut Prabantoro Saat menjadi narasumber tentang Indomesia Raya Incorporated (IRI) di Universitas Riau, Mei 2017. (Istimewa)

Dalam kurun tahun 1999-2002, menurut Putut Prabantoro, National Democratic Institution (NDI) di bawah Partai Demokrat Amerika Serikat telah mengeluarkan 45 juta dolar AS untuk mengawal amandemen konstitusi Indonesia.

Halaman
1234
Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved