Berawal dari Game Online, Seorang Perempuan di Australia Memutuskan Masuk Islam
Terkadang banyak peristiwa dan keajaiban yang terjadi hingga seseorang menjadi mualaf atau menjadi seorang muslim
TRIBUNJAMBI.COM - Terkadang banyak peristiwa dan keajaiban yang terjadi hingga seseorang menjadi mualaf atau menjadi seorang Muslim.
Perempuan Australia bernama Zahra Fielding tidak menyangka dirinya akan menemukan teman baru lewat sebuah permainan daring, apalagi kemudian menjadi seorang Muslim.
"Saya mengunduh game tersebut karena penasaran. Saya melihatnya di iklan Facebook, yang menurut saya kurang pada tempatnya," kata Zahra yang menganggap iklan tersebut cukup seksis.
• Donald Trump Ancam Tutup Perusahaan Penyedia Media Sosial , Diduga Dikarenakan Hal Ini
Setelah mulai memainkan, ternyata menurutnya, \'game\' tersebut tidak seksis seperti yang dijual di dalam iklan dan justru berdampak pada kehidupannya.
"Game ini hadir di momen terpenting kehidupan saya. Sebelumnya saya merasa kesepian dan tak punya arah. Saya tidak merasa bangga dengan karir, maupun kehidupan pribadi dan sudah lama melajang."
• 20 Klub di Liga Premier Siap Bertanding dan Berlatih Normal di Saat Pandemi Covid-19
Dalam \'game\' yang melibatkan kerjasama dalam kelompok untuk mengalahkan musuh, Zahra bergabung dalam kelompok yang berisi lima pemain perempuan dari Australia dan Asia.
"Dalam game ini, saya bertemu dengan sekelompok orang dari negara berbeda yang mungkin tidak akan pernah saya temui."
Khawatir akan dihakimi
Salah satu pemain dalam kelompok Zahra adalah Kim Assikin, seorang perempuan dari Singapura yang beragama Islam.
"Ketika kami mulai bertukar pesan, saya langsung merasa nyambung berbicara dengannya. Tidak tahu mengapa dan bagaimana, tapi kami betul-betul saling sahut-sahutan."
Kim awalnya sempat merasa tidak percaya diri ketika harus memasang fotonya di kelompok chat bernama Discord, yang terkenal di kalangan \'gamers\', karena ia adalah satu-satunya pemain yang mengenakan hijab.
"Saya agak khawatir tentang bagaimana teman-teman saya dalam kelompok akan melihat saya, \'apakah mereka akan menghakimi saya karena agama saya\'?" katanya.
• Inilah Klub-klub yang Setuju dan Tidak Setuju Jika Liga 1 2020 Kembali Dilanjutkan di Saat Corona
Namun, akhirnya Kim memutuskan untuk jujur kepada anggota kelompoknya, yang selalu sedia menolongnya bila ada masalah.
"Saya baru kehilangan Ayah saya sebelum saya main game ini. Jadi berhubungan dengan mereka sedikit memberikan kedamaian, dan membantu mengalihkan perhatian saya," kata dia.
"Jadi, saya tidak mau membohongi mereka. Saya yakin mereka dapat menerima saya apa adanya."