Cerita Penjahit di Pasar Tingkat saat Ramadan, Mencari Rezeki di Tengah Pandemi

Suasana Ramadan tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Begitulah yang dirasakan para penjahit di Pasar Tingkat, Kota Jambi.

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Mareza
MENJAHIT - Para penjahit di Pasar Tingkat tengah menyelesaikan pesanan jahitan yang mereka terima. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Suasana Ramadan tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Begitulah yang dirasakan para penjahit di Pasar Tingkat, Kecamatan Pasar, Kota Jambi. Hari-hari menjelang Idul Fitri tahun ini, tidak seramai tahun-tahun yang lalu.

Hujan deras sempat mengguyur sekitaran pasar pada Kamis (14/5/2020) siang. Di lantai dua Pasar Tingkat, para penjahit sibuk melanjutkan aktivitasnya. Tapi, aktivitas yang mereka lakukan tidak sesibuk hari-hari Ramadan menjelang Idul Fitri, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Suara mesin jahit milik Jasman samar-samar terdengar di antara air yang menghujani atap bangunan tua itu. Dia tengah menyelesaikan pesanan yang ditargetkan selesai sebelum Juni berakhir.

Alat Rapid Test di Merangin Menipis, Ratusan Orang Lakukan Tes Cepat Covid-19

Pantau Perkembangan Covid-19, Danrem 042/Garuda Putih Kunjungi Bupati Muarojambi

VIDEO Jelang Lebaran Pasar Jambi Sepi, Dampak Corona

"Pesanan-pesanan sejak sebelum puasa. Alhamdulillah, ada rezeki sedikit-sedikit," ujar dia, saat disambangi di kios Penjahit Cerdas miliknya, di sudut lantai dua bangunan Pasar Tingkat itu.

Pria 73 tahun itu tetap menekuni pekerjaan yang dia geluti sejak tahun 1971 silam. Menurutnya, tahun ini pesanan pakaian untuk dijahit jauh merosot dibandingkan tahun-tahun lalu.

Biasanya, dua pekan menjelang hari raya, dia tidak lagi menerima pesanan masuk, karena sudah kewalahan menyelesaikan pesanan yang ada.

Beda dengan tahun ini, dia berujar, sejak awal Ramadan, nyaris tidak ada pesanan masuk. Hanya ada beberapa yang, menurutnya, tidak sampai merepotkan.

Dia mengaku tidak sampai keteteran menyelesaikan jahitannya. Buka sekitar pukul 08.30 WIB dan tutup pukul 15.00 WIB, dia merasa masih bisa santai di sela-sela aktivitasnya.

Jasman menjelaskan, satu dasar kain yang sudah dipotong, bisa dijahit menjadi pakaian paling lama satu setengah jam. Karena pesanan yang tidak pula banyak, dia masih bisa beristirahat barang sejenak.

"Yang penting kita ikhtiar. Rezeki kan, sudah ada yang atur," tuturnya.

Kurangnya pesanan ini, ditengarainya, juga tidak luput dari pandemi Covid-19. Namun, itu tidak mengendorkan semangatnya untuk mengejar rezeki sembari menunaikan ibadah puasa di bulan suci.

Jika Jasman biasanya tidak menerima pesanan jelang Idul Fitri, lain lagi dengan Haji M Nur. Pria yang mulai menekuni usaha jahit sejak 1981 ini biasanya mengandalkan karyawan untuk membantu menuntaskan jahitan.
Biasanya, di kios usaha Penjahit Abadi miliknya, ada beberapa tukang jahit yang dia minta untuk membantu menyelesaikan pesanan. Walakin, tahun ini berbeda.

Gadis Yatim Piatu di Jepara Diduga Dibunuh Saat Sedang Salat, Korban Masih Pakai Mukena

7 Tempat Ini Pernah Diazab Allah SWT Karena Perbuatan Manusia, Diantaranya Laut Mati dan Laut Merah

"Sekarang, jangankan tukang, yang mau dijahit itu nian yang tidak ada," ucapnya, mengumpamakan.

Namun menurutnya, begitulah perubahan alam. Ada masa pasang-surutnya, masa ramai dan sepi.

Mereka tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Bahkan ketika belum ada bantuan pemerintah bagi sektor informal seperti mereka, tidak ada yang mengeluh. Bagi Jasman dan Haji M Nur, menjahit adalah upaya mencari rezeki yang halal tanpa menengadah pada siapa pun.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved