Sejarah Indonesia
Kisah Terbuangnya Mertua SBY oleh Soeharto ke Negara Komunis, Padahal Jadi Sosok Pembasmi PKI
Kisah Terbuangnya Mertua SBY oleh Soeharto ke Negara Komunis, Padahal Jadi Sosok Pembasmi PKI
Enam bulan adalah waktu yang pendek bagi seorang Pangdam untuk membuktikan prestasi kerjanya.
Kalaupun ada, tentu masih sebatas pembenahan awal semata.
“Papi merasa niat baik dan semangatnya diputus sepihak,” kata Ani.
• Siapa yang Ingat Artis Ucok Baba? Kini Dirinya Alih Profesi Usai Lama Tak Muncul di Televisi Lagi
• Ternyata Modal Surat Sakti Ini, YouTuber Ferdian Paleka Bisa Kabur ke Palembang dan Lolos dari PSBB
• Sinopsis Drama Korea The World of The Married Episode 14: Ji Sun Woo akan Tinggalkan Gosan?
• HUT ke 55, Lemhannas RI Salurkan Bansos ke Masyarakat Terdampak Covid-19
Mengutip Historis, sehabis mengungkapkan kesedihannya, Sarwo Edhie mengatakan bahwa keluarga harus ikhlas ikut ke Rusia.
“Anak-anak prajurit harus siap menghadapi situasi baru, apa pun juga,” kata Sarwo Edhie yang kemudian menyarankan agar mulai belajar menari.
“Sebagai anak-anak calon duta besar, Papi ingin kami memiliki kebolehan menari yang cukup banyak. Bukan hanya tari Jawa, tapi juga tari Melayu,” kata Ani.
Namun, Ani dan saudara-saudaranya tidak bersemangat latihan menari karena terbawa suasana kesedihan ayahnya.
Ani kemudian memergoki ayahnya menjadi banyak melamun di depan rumah.
Pandangannya kosong dan menerawang. Rumah berubah menjadi senyap.
Suatu kali, Ani mendengar ayahnya berkata kepada ibunya, “kalau aku memang mau dibunuh, bunuh saja. Tapi jangan bunuh aku dengan cara seperti ini. Apa salahku sampai aku harus dihentikan begini rupa?”
“Papi amat terpukul dengan keputusan pemerintah menempatkan dirinya di Rusia, selagi karier militernya sedang begitu cemerlang,” kata Ani.
Sarwo Edhie kemudian menghubungi teman-temannya di Jakarta. Dia mempertanyakan apakah tugasnya ke Rusia murni sebagai “takdir tugas” atau karena ada hal lain.
“Aku melihat-lihat lagi koran-koran yang pernah memuat berita tentang Papi, Sarwo Edhie Wibowo yang berprestasi menumpas PKI, dengan foto Papi mengenakan seragam RPKAD kebanggaannya. Aku bisa merasakan betapa hati Papi dibuat luruh ketika dia harus melepaskan seragam militernya dan menjadi seorang duta besar,” kata Ani.
• Sejumlah Fasilitas untuk Masyarakat Tersedia di Korem 042/Garuda Putih
• Indonesia Siap-siap, AS Sepertinya Hadapi Krisis Ekonomi, Bakal Berutang Capai Rp 45 Ribu Triliun
• Pasien Positif Corona di Merangin Bertambah 5 Orang, Ini Identitasnya
• Momen Mengharukan Kehadiran Gisella Anastasia & Gempi Saat Gading Marten Ulang Tahun, Ortu Minta Ini
Tidak berapa lama, datang kabar lagi dari Jakarta. Sarwo Edhie tidak jadi diberangkatkan ke Rusia, tapi dialihkan ke Irian Barat menjadi Pangdam XVII/Cenderawasih (1968-1970).
Saat itu, di Irian Barat tengah terjadi pertempuran yang mengiringi Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969.
“Sebetulnya dibandingkan tugas di Moskow, tugas di Irian lebih mencuatkan risiko yang besar akan keselamatan. Jelas, tugasnya pun jauh lebih berat. Namun, Papi terlihat sangat bersemangat, berbanding terbalik dengan saat dia mendengar akan dikirim ke Moskow,” kata Ani.
Menurut Jusuf Wanandi, mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang anti-PKI, Sarwo Edhie dan Soeharto memang tidak pernah dekat.