Selasa, 5 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

STAYCATION

Rumah Tuo Rantau Panjang Rupanya Tahan Gempa, dan Jadi Rumah Raja Pada Masanya

Rumah Tuo Rantau Panjang merupakan rumah tradisional yang memiliki usia mencapai 700 tahun. Rumah Tuo Rantau Panjang terbuat dari kayu.

Tayang:
Penulis: Rohmayana | Editor: rida
instagram
Suasana Rumah Tuo Rantau Panjang 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI- Rumah Tuo  Rantau Panjang merupakan rumah tradisional yang memiliki usia mencapai ratusan tahun.

Rumah yang berbentuk panggung ini berada di Kabupaten Merangin, dan menjadi tempat tinggal bagi Suku Batin.

Berdasarkan sejumlah catatan di Museum Negeri Jambi, salah satu suku tertua di Jambi adalah suku Bathin.

Suku Bathin adalah keturunan Proto Melayu atau Melayu Tua.

Satgas Kota Jambi Bagikan 25.000 Paket Sembako, Bantu Warga Terdampak Covid-19

Rahasia Anak Luna Maya yang Hanya Diketahui Segelintir Orang, Mengapa Tak Pernah Dipaparkan

Operasi Pasar, Pemkab Batanghari Siapkan 10 Ribu Sembako Murah, Ini Isinya

Jejak tempat tinggal suku tertua di Jambi ini masih bisa dilihat hingga saat ini.

Yang paling dikenal adalah sebuah perkampungan purba di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

Jejak peninggalan Suku Bathin ini adalah Rumah Tuo.

Tampak warga yang sedang duduk di Rumah Tuo
Tampak warga yang sedang duduk di Rumah Tuo (instagram)

Oleh warga sekitar, perkampungan purba ini biasa disebut dengan Dusun Tuo.

Disebut Dusun Tuo karena di perkampungan ini terdapat sekitar 60 rumah tua peninggalan nenek moyang Suku Bathin.

Meskipun modernisasi desain rumah semakin berkembang, uniknya bentuk asli dari Rumah Tuo Rantau Panjang tetap dipertahankan hingga kini.

Konstruksinya pun sangat unik, terbuat dari kayu dan dalam pembangunannya sama sekali tak menggunakan paku.

Masyarakat setempat yang menjunjung tinggi adat istiadat, dan tradisi juga semakin menarik banyak perhatian dari wisatawan.

Trip Wisata ke Kawasan Dusun Tuo

Kawasan Dusun Tuo di Desa Rantau Panjang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin. Jika ditempuh dengan sepeda motor sekitae 45 menit menit dari Kota Bangko, atau sekitar lima sampai enam jam perjalanan darat dari Kota Jambi.

Menuju perkampungan purba di Desa Rantau Panjang serasa kembali ke masa lampau.

Deretan rumah penduduk bergaya panggung berderet di sisi kanan dan kiri jalan.

Berikut Besaran Zakat Fitrah di Provinsi Jambi Tahun Ini, Kabupaten Tanjabbar Tertinggi

Hijau perkebunan karet tua milik warga membuat perjalanan makin terasa segar dan sejuk.

Belum lagi diselingi indahnya gundukan perbukitan di sekitarnya.

Desa Rantau Panjang  merupakan desa tertua di provinsi Jambi yang memiliki rumah-rumah berusia ratusan tahun.

Penduduk desa ini adalah suku Batin keturunan proto Melayu atau Melayu tua.

Tidak seperti daerah-daerah lainnya di Jambi yang kebanyakan dihuni oleh suku Batin yang lebih muda. Suku Batin sendiri merupakan suku asli Jambi.

Rumah-rumah ini memiliki jendela yang besar dan dulunya beratap ijuk meski sekarang diganti dengan seng karena susahnya mencari ijuk.
Bentuk Rumah Tuo
Dilansir dari website resmi Pemerintah Kabupaten Merangin meranginkab.go.id bahwa Rumah Tuo Rantau Panjang terbuat dari kayu.
Rumah ini berbentuk seperti rumah panggung dengan disangga dengan beberapa tiang dibawahnya.
Bentuknya memanjang ke samping, dengan tangga pada pintu masuk dan beberapa jendela dengan ukuran besar.
Dulu, atap Rumah Tuo Rantau Panjang dibuat dari ijuk, namun karena semakin sulitnya mencari ijuk kini pun atap diganti dengan seng.
Bentuk rumah-rumah di desa ini seragam, dengan warga cokelat terang dan dibagi menjadi tiga ruangan.
Uniknya, untuk memasuki rumah wisatawan harus menunduk karena pintu rumah hanya setinggi satu meter.
Suasana Rumah Tuo Rantau Panjang
Suasana Rumah Tuo Rantau Panjang (instagram)
Hal ini juga melambangkan kesopanan dan tata krama yang senantiasa dilestarikan penduduk setempat.
 Ruang yang pertama adalah ruang pertemuan dengan lantai yang dibagi menjadi tiga bagian.
Antara bagian satu dengan lainnya dipisahkan dengan sekat kayu berukuran 10 cm. Lantai yang agak tinggi disebut Balai Melintang diperuntukkan untuk Ninik Mamak dan ulama.
Sedangkan lantai tengah untuk keluarga, serta lantai lorong yang menuju ke ruang kedua diperuntukkan bagi para pekerja. Sementara ruang kedua digunakan sebagai kamar tidur, dan ruang ketiga merupakan dapur untuk memasak.
 
Cangkok Rumah Tuo

Satu diantara rumah yang terlihat mencolok yakni rumah panggung di ujung kampung yang bewarna coklat terang, rumah yang ditempati oleh Iskandar ini konon merupakan satu diantara rumah tertua di sana berumur sekitar 700 tahun.

Rumah tuo ini saat ini juga berfungsi sebagai museum bagi Suku Batin di Dusun Tuo.

Sebelum mempersilahkan masuk ke dalam rumah, suguhan adat seni budaya ditampilkan di halaman depan rumah tuo yang lapang.

Tanah lapang yang dikelilingi rumah-rumah panggung penduduk Desa Tuo ini merupakan tempat dimana masyarakat berkumpul dan melakukan aktivitas bersama-sama, masyarakat, masyarakat Desa Tuo memang dikenal masih menjunjung tinggi budaya gotong royong kebersamaan bahkan hingga kini.

Suguhan Tari Semayo ditarikan oleh enam orang remaja putri, mengenakan baju bewarna hitam, dipadu dengan kain dan kepala dibalut tengkuluk warna putih, para remaja putri ini terlihat kompak menarikan tarian berirama rancak ini.

Ruang tengah Rumah Tuo

"Tarian Semayo artinya perundingan, kesepakatan ini juga ditarikan untuk menyambut tamu," kata Iskandar keturunan ke 14 dari Puyang Bungkuk pendiri dari Dusun Tuo Rantau Panjang. Usai tarian Semayo, dilanjutkan dengan tampilnya dua orang bocah memperagakan silat khas dari dusun tersebut.

Meski bernama Puyang Bungkuk namun menurut Iskandar perawakanannya tidak bungkuk seperti namanya,

Iskandar mengatakan ceritanya rumah-rumah di dusun tuo hanya terdapat 19 rumah.

Rumah ini berarsitektur panggung dengan ditopang beberapa tiang di bagian kolong rumah dan dinding kayunya dihiasi ukiran-ukiran.

"Rumah pertama kali dibangun sejak pindah dari Kerajaan Koto Rayo, hampir 700 tahun yang lalu, semuanya dibangun dengan kayu tanpa paku hanya memakai pasak dan ikat," kata Iskandar. Rumah Tuo yang kini dihuni dirinya bersama keluarganya diceritakannya merupakan rumah raja.

Penduduk Dusun Tuo Rantau Panjang yang awalnya penganut animisme yang percaya kepada makhluk halus dan roh sejak tahun 1600 an telah memeluk Agama Islam.

Meski merupakan komunitas tersendiri, akan tetapi mereka juga tidak anti terhadap asimilasi kebudayaan. Masyarakatnya yang ramah ini kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani.

Kaum pria pergi menyadap karet sementera kaum wanita bekerja di sawah. Andi Sekretaris Pengurus Rumah Tuo mengatakan sejak dicanangkan sebagai Desa Wisata, pemerintah telah banyak membantu untuk melakukan rehab rumah disana.

Isi Rumah Tuo

Rumah Tuo Rantau Panjang juga memiliki lumbung padi seperti rumah tradisional Melayu pada umumnya yang terletak terpisah dari rumah utama.

Tak hanya unik, Rumah Tuo Rantau Panjang juga memiliki konstruksi kokoh serta dirancang tahan terhadap guncangan gempa bumi.

Hal ini bisa terjadi karena adanya Kayu Sendi yang digunakan sebagai bantalan tiang penyangga.

Selain kayu sendi, rahasia keawetan rumah panggung berusia ratusan tahun ini terletak pada getah pohon ipuh yang dioleskan pada kayu-kayu setiap lima tahun sekali.

Dari sekian banyak rumah panggung di Desa Rantau Panjang, ada satu rumah yang paling menyita perhatian.

Rumah tersebut terletak di ujung kampung dan konon menjadi rumah paling tua dari deretan rumah panggung lainnya.

Rumah Tuo Rantau Panjang ini selain menjadi tempat tinggal juga merupakan museum dengan koleksi benda-benda tradisional didalamnya.

Dinding rumah dihiasi dengan ukir-ukiran indah, serta ditemukan pula ukiran pada tiang penyangga rumah.

Selain itu masih banyak lagi yang bisa dilihat wisatawan seperti hiasan kepala kerbau, tempat sirih, keramik-keramik kuno, dan juga ambung yang sering digunakan untuk membawa hasil pertanian masyarakat setempat. (Rohmayana/ Tribun Jambi)

Artikel ini telah tayang di Tribunjambi.com dengan judul Eksotisme Rumah Raja Berusia Ratusan Tahun di Merangin (1) 

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved