Ramadan 2020

Saudara Kita Klaster Gowa

OPTIMISME kita pasti masih tetap terjaga, karena tak terasa sudah memasuki hari kelima Ramadan, meski masih dalam suasana wabah corona dengan korban

IST
Arfan Aziz, SThI, MSoc.Sc, PhD, Wakil Dekan II Fakultas Dakwah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi 

* Oleh Arfan Aziz

TRIBUNJAMBI.COM - OPTIMISME kita pasti masih tetap terjaga, karena tak terasa sudah memasuki hari kelima Ramadan, meski masih dalam suasana wabah corona dengan korban yang bertambah.

Minggu (26/04/2020) malam lalu, pesan berantai ataupun berita dari media daring mengabarkan bahwa pasien positif Covid-19 untuk Jambi bertambah 11 orang, dari 21 orang menjadi 32 orang. Sebelas orang pasien positif baru disebut bagian dari klaster Gowa.

Entah sejak kapan istilah klaster diserap bahasa Indonesia. Tetapi sebutan klaster Gowa semakin hari semakin populer, sekaligus memojokkan.

Populer karena belum pernah ada sebelumya istilah ‘klaster’ plus ‘Gowa’ begitu deras diberitakan dan disebut hampir setiap hari, baik secara daring maupun dalam obrolan harian.

Memojokkan, karena Klaster Gowa (perkumpulan tahunan Jamaah Tabligh) dianggap sebagai salah satu penyumbang terbesar pasien Covid-19.

Pesan berantai media sosial termasuk telah membuat geger kawasan Lorong Haji Ibrahim, dimana seorang ustadz tawadu dan sederhana, pengajar madrasah tahfiz, diviralkan sebagai bagian klaster Gowa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan klaster sebagai beberapa benda atau hal yang berkelompok menjadi satu, gugus, suatu kelompok.

Kelompok sendiri dalam bahasa gerakan keagamaan di Indonesia seringkali disebut jamaah.

Maka, secara asal bisa saja klaster Gowa disebut jamaah Gowa.

Halaman
1234
Editor: budi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved