Riwayat RA Kartini, Meski Sudah Menikah dengan Bangsawan, Tapi Tetap Perjuangkan Emansipasi Wanita

Ada beberapa pahlawan wanita Indonesia yang turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Satu diantaranya adalah RA Kartini.

Editor: Deni Satria Budi
RA Kartini(WIKIMEDIA COMMONS/GPL FDL)
RA Kartini 

Tulisan-tulisan yang dimuat dalam majalah dan yang dikirim ke teman-temannya dibukukan oleh Jacques Henrij Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda.

Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht atau Dari Kegelapan menuju Cahaya.

Ternyata 5 Cara Ini Mampu Hindari Haus atau Dehidrasi saat Puasa Bulan Ramadan 2020

BREAKING NEWS Dua Warga Muarojambi Positif Rapid Test Pasca dari Gowa, KIni Dirawat di RSRM Jambi

Pada 1922, tulisan itu diterbitkan menjadi buku kumpulan surat Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang : Boeh Pikiran, oleh Balai Pustaka.

Buku itu memperoleh respon positif dari masyarakat dan mendapat dukungan di Belanda. Bahkan dibentuk Yayasan Kartini pada tahun 1916.

Yayasan itu kemudian mendirikan sekolah perempuan di beberapa daerah seperti Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang hingga Cirebon.

Meninggal

RA Kartini meninggal pada 17 September 1904 di usia 25 tahun setelah beberapa hari melahirkan. Kartini dimakamkan di Desa Bulu Kabupaten Rembang.

RA Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 oleh Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden No 108 Tahun 1964.

Tidak hanya itu, tanggal lahir RA Kartini 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Ini untuk menghormati jasa-jasanya dalam memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia.

Beruntung, Kartini memperoleh pendidikan di ELS (Europes Lagere School). Karena Kartini adalah anak dari Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat, Bupati Jepara.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Biografi RA Kartini, Pejuang Emansipasi Perempuan",

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved