FATAL! warga Nekat Gelar Pesta dan Langgar Social Distancing, Kondisi Peserta Kini Menyedihkan
Kumpulan orang dewasa mengadakan pesta ketika wabah semakin merebak. Mereka sengaja menentang perintah pemerintah untuk melakukan social distancing
Ini terjadi selama minggu pertama Maret 2020 lalu.
Kendati demikian para pemilik bisnis juga tidak bisa disalahkan, sebab mereka khawatir Covid-19 akan mempengaruhi pemasukannya.
Ditambah saat itu pemerintah memberikan pesan yang membingungkan kepada masyarakat.
Pada 27 Februari 2020 lalu, empat hari pasca-11 kota di Italia Utara dikunci, seorang pejabat Demokrat, Nicola Zingaretti, bepergian ke Milan.
Padahal saat itu setidaknya ada 17 orang yang meninggal dan 650 orang terinfeksi Covid-19.
Milan merupakan ibukota wilayah Lombardy, yang merupakan pusat penyebaran corona pertama dan terbesar di Italia.
Di sana Zingaretti justru minum-minum dengan sejumlah orang dan mengunggahnya di media sosial.
"Kita tidak boleh mengubah kebiasaan kita," tulisnya pada postingan tersebut.
"Ekonomi kita lebih kuat daripada ketakutan: mari kita pergi keluar untuk membeli aperitivo, kopi, atau makan pizza," ujarnya.
Pada hari yang sama, Wali Kota Milan, Beppe Sala, berbagi video dengan slogan "Milan tidak berhenti."
Klip itu berisi gambar orang yang saling berpelukan, makan di restoran, berjalan di taman, dan menunggu di stasiun kereta.
Sembilan hari setelah perjalanannya ke ibukota, Zingaretti mengumumkan dia terjangkit corona.
Saat itu jumlah kematian di Italia meningkat menjadi 233 dan mengonfirmasi 5.883 kasus positif corona.
Psikolog sosial Universitas Vita-Salute San Raffaele di Milan, Giuseppe Pantaleo, menyayangkan aksi para pejabat Italia ini.
"Pada awalnya orang tidak benar-benar percaya apa yang terjadi, sehingga para politisi seperti Zingaretti dan yang lainnya hanya ingin meyakinkan mereka."