Berita Tanjabtim
Ekspor Udang Ketak Terhambat, Pemkab Belum Miliki Solusi Taktis, Ini Alternatif Sementara Nelayan
Sejak merebaknya isu Virus Corona dan berdampak pada penjualan udang ketak di Tanjab Timur
Penulis: Abdullah Usman | Editor: Nani Rachmaini
Ekspor Udang Ketak Terhambat Pemkab Belum Miliki Solusi Taktis, Ini Alternatif Sementara Bagi Nelayan
Laporan Wartawan Tribunjambi.com, Abdullah Usman
TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Sejak merebaknya isu virus Corona dan berdampak pada penjualan udang ketak di Tanjab Timur, hingga saat ini pemerintah belum memiliki solusi, Minggu (16/2).
Tercatat sejak 5 Februari lalu hingga saat ini para nelayan udang ketak belum bisa mencari udang maksimal karena keterbatasan nilai jual. Selain itu para nelayan juga masih menunggu kejelasan kapan ekspor udang ketak dapat kembali normal.
Keluhan para nelayan tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya nyaris satu bulan sejak toke tidak lagi menerima udang ketak. Para nelayan udang terpaksa harus beralih profesi dan mencari pendapatan lain.
Terkait keadaan tersebut Pemerintah Tanjabtim melalui Kabag Ekonomi Awaluddin saat dikonfirmasi mengatakan, terkait hal tersebut pihaknya akan mencoba berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Provinsi.
• Harga Cabai dan Bawang Meroket di Tanjabtim, Stok Kosong Sejak Dua Pekan Terakhir
• Aurel Hermansyah Beri Kado Valentine Mobil Senilai Rp 2 Miliar, Ashanty Malah Curiga Jangan-jangan
• Gedung Putih AS Curigai China Tak Jujur Soal Jumlah Penderita Virus Corona, Sebut Sangat Kecewa
Karena memang kejadian ini tidak hanya terjadi di Tanjabtim saja melainkan juga terjadi di kabupaten lain.
"Terkait tidak maksimalnya ekspor udang ketak terkait adanya isu Corona, kita akan koordinasi secara teknis lagi bersama provinsi. Tentunya terkait penangannya seperti apa," ujarnya.
Juga tentunya akan melibatkan pihak terkait lainnya termasuk pihak karantina Provinsi. Berdasarkan informasi yang kita terima memang karena ada pembatasan ekspor yang menjadi penyebab.
Namun untuk solusi sementara para nelayan, dapat memasok udang tangkapan mereka ke pasar-pasar kalangan atau pasar yang sudah ada. Sebagai alternatif sementara jelang pasar udang ketak dunia kembali normal.
"Kalo kita lihat sekarang pasokan udang ketak di pasar-pasar kalangan jumlahnya memang lebih banyak dari hari biasanya, dan itu tidak lain karena para nelayan harus mau tidak mau mengubah pasar penjualan mereka sementara," jelasnya.
"Tentu dengan pasar yang berbeda berpengaruh dengan pendapatan yang mereka peroleh," tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, Samsu (45) seorang nelayan udang ketak di Lambur Luar menuturkan, sudah sepekan ini tidak lagi memburu udang ketak karena tidak lagi ada penampung yang mau mengambil udang ketak.
"Alasanya selain dampak wabah virus corona, selain itu toke besar di Jakarta tidak dapat mengekspor udang keluar sehingga barang mubazir," ujarnya.
Keadaan membuat para nelayan udang ketak kebingungan, sebab menangkap udang ketak sudah menjadi mata pencaharian mereka.