MAHFUD MD Sindir Rizal Ramli di ILC, Singgung Kucing Diberi Kalung hingga Masalah Akhlak

TRIBUNJAMBI.COM - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD

Editor: ridwan
Instagram @mohmahfudmd
Mahfud MD 

TRIBUNJAMBI.COM - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD menyindir Ekonom,Rizal Ramli, saat keduanya hadir di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa, (11/2/2020).

Mahfud MD mengatakan, saat ini yang menjadi masalah adalah apakah semua pihak mau bekerja sama membangun demokrasi Indonesia.

Menurut Mahfud MD, untuk memperbaiki demokrasi itu terletak pada memperbaiki partai politiknya.

 

 

"Nah sekarang pilihan kita mau membangun demokrasi apa tidak, ini persoalannya," kata Mahfud MD dikutip channel YouTubeIndonesia Lawyers Club pada Selasa (11/2/2020).

"Kalau membangun demokrasi kuncinya memperbaiki partai politik," imbuhnya.

Tim Pemenangan Sy Fasha: Minggu Depan Akan Ada Kepastian dari PPP

Lalu, Mahfud MD menyindir Rizal Ramli bahwa banyak pihak gemar mengkritik namun saat ditanya solusi tidak bisa menjawab.

Hal itu diibaratkan dengan cerita Konferensi Internasional tikus-tikus di Kairo

"Tapi saat ditanya bagaimana cara memperbaikinya kok semuanya mengeluh gitu."

"Ya sama saja dengan cerita Konferensi Internasional tikus-tikus di Kairo itu kesimpulannya kucing harus dikasih kalung."

VIDEO: Jokowi Buka Peluang untuk Anak Yatim Piatu Eks ISIS Pulang ke Indonesia

"Tapi ketika dikatakan gimana cara masang kalung kelentengan ke kucing ndak ada yang berani, sama juga kita juga seperti itu begitu Pak," ujar Mahfud MD.

 

Lantas, Mahfud MD menyinggung soal akhlak yang sebelumnya juga sudah dibahas oleh Rizal Ramli.

"Oleh sebab itu saya katakan ayo dong kita ini sebisa-bisa kerja dari posisi kita masing-masing, dari yang mungkin sehingga akhlak itu menjadi kata kunci," lanjut Mantan Menteri Pertahanan ini.

Mahfud MD tidak setuju pernyataan Rizal Ramli yang menyebut akhlak dan ilmu itu beda persoalan.

DUA Guru SMA Tak Segan Duel di dalam Kelas Hanya Karena Masalah Sepele Disaksikan Siswanya

Menurutnya, ilmu itu adalah bagian dari akhlak.

"Mulai ditanamkan sungguh-sungguh meskipun kata Mas Rizal akhlak enggak ada ilmunya enggak ada gunanya."

"Ilmu itu akhlak juga, akhlak itu ilmunya itu sunahnya," ucapMahfud MD.

Sehingga, menteri asal Madura ini meminta agar soal akhlak itu dipisah dari ilmu.

Bahkan, kemampuan manajerial juga bagian dari akhlak.

Belum Jadi Presiden, Soeharto Pernah Ditampar Alex Kawilarang Karena Soekarno Marah Lewat Telepon

Mahfud MD (kiri) dan Rizal Ramli (kanan) saat menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club pada Selasa (11/2/2020).
Mahfud MD (kiri) dan Rizal Ramli (kanan) saat menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club pada Selasa (11/2/2020). (Capture YouTube Indonesia Lawyers Club)

 

"Maka jangan dibilang orang ilmu ndak punya akhlak, orang berakhlak itu ya ilmu juga bagian dari akhlak."

"Akhlak itu bukan hanya sopan santun, kejujuran, apa itu juga kecerdasan kemampuan manajerial itu bagian dari akhlak asal dilaksanakan dengan baik," jelas Mahfud MD.

Lihat videonya mulai menit ke-7:51:

Rizal Ramli Sindir Partai Politik di ILC

Ekonom Senior Rizal Ramli menjelaskan apa yang menyebabkan perekonomian di Indonesia tidak bisa berkembang dan terus maju.

Kapolda Jambi Berganti, Irjend Pol Muchlis: Firman Bukan Perwira Sembarangan

Ia mengatakan pusat permasalahannya ada di sistem money politics (politik uang) yang mengakibatkan orang-orang bagus tidak bisa masuk ke tubuh pemerintahan.

Rizal Ramli juga menyindir partai-partai politik yang dikelola bagai perusahaan keluarga.

Dikutip TribunWow.com dari video unggahan kanal YouTube Indonesia Lawyers Club, Selasa (11/2/2020), Rizal Ramlimenyebut, tidak semua orang yang bergabung dengan Parpol, memiliki kesempatan untuk menjadi Ketua Umum (Ketum).

"Yang menghancurkan ini (kesempatan Indonesia menjadi negara baik) semua adalah money politics," kata Rizal Ramli.

"Akibat money politics, pemilihan," tambahnya.

Demi Imbalan Rp15 Juta, Wanita Ini Simpan Sabu di Kemaluannya, Tahan Sakit dari Malaysia ke Surabaya

Ia kemudian pernah bercerita bagaimana sistem politik di Indonesia berbeda jauh dengan di negara-negara lain.

Rizal Ramli menceritakan pengalamannya bertanya kepada Perdana Menteri Belanda, berapa uang yang dikeluarkannya untuk mendapatkan posisi jabatan perdana menteri.

Merasa tersinggung, PM Belanda itu mengatakan hal yang dijualnya adalah ide, bukan uang.

Rizal Ramli lanjut membandingkan kejadian tersebut dengan realita yang terjadi di Indonesia.

Di Indonesia menurut penjelasan Rizal Ramli, diperlukan banyak uang untuk menempati posisi-posisi tertentu.

JANGAN Sepelekan Bila Merasakan Gejala Stroke Otak, Seperti Sakit Kepala & Kesulitan Berbicara

"Padahal mau jadi Bupati di Indonesia paling enggak Rp 10 miliar sampai Rp 50 miliar, mau jadi gubernur berapa sampai berapa," paparnya.

"The whole system (sistem keseluruhan), the mother of corruption (induk korupsi) di Indonesia itu is money politics," tambah Rizal Ramli.

Ekonom Senior Rizal Ramli di acara indonesia lawyers club, Selasa (11/2/2020)
Ekonom Senior Rizal Ramli di acara indonesia lawyers club, Selasa (11/2/2020) (youtube indonesia lawyers club)

 

Sindir PDIP, Gerindra, Demokrat

Pria yang pernah menjabat sebagai menteri di beberapa bidang itu mengatakan sudah saatnya partai politik di Indonesia dibiayai oleh pemerintah untuk mengakhiri praktik politik uang.

"Oleh karena itu, menurut saya sudah waktunya, partai-partai politik kita dibiayain saja oleh negara, seperti di Eropa, Australia, New Zealand," katanya.

Terdakwa Narkoba di Rantau Keloyang Dituntut 9,5 Tahun Penjara, Mang Cek Ngaku Jadi Tulang Punggung

Ia mengatakan untuk pembiayaan Parpol bisa menghabiskan pemerintah Rp 6 triliun per tahun.

Menurutnya hal tersebut lebih baik ketimbang Parpol memainkan politik uang dan mengakibatkan kerugian yang lebih besar.

"Perlu Rp 6 triliun satu tahun."

"Mereka nyolong ramai-ramai partai-partai ini, estimate saya Rp 50 triliun sampai Rp 70 triliun satu tahun," tambah Rizal Ramli.

"Kita hentikan, kita ubah criminal democracy (demokrasi kriminal) ini, jadi democracy yang amanah, yang good governance, sehingga orang-orang baik, orang-orang bagus bisa masuk ke dalam sistem."

Rizal Ramli menegaskan selama Indonesia masih marak praktik politik uang, Indonesia tidak akan bisa maju.

Terdakwa Narkoba di Rantau Keloyang Dituntut 9,5 Tahun Penjara, Mang Cek Ngaku Jadi Tulang Punggung

"Selama kita money politics mendominasi politik Indonesia, enggak usah mimpi yang aneh-aneh, survive (bertahan) saja sudah lumayan," katanya.

Ia juga menyindir beberapa partai politik yang petingginya hanya diisi oleh orang yang itu-itu saja, seperti PDI, Gerindra, dan Demokrat.

Rizal Ramli menginginkan semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dalam sebuah partai politik.

"Jadi kita perlu segera ubah sistem pembiayaan partai politik kita, tapi tidak bisa hanya dibiayai negara."

"Sementara partai politik dikelola bagaikan perusahaan keluarga, mana bisa kita teriak demokrasi, partai politiknya tidak di-run (dijalankan) dengan demokrasi," jelasnya.

Universitas Jambi Masuk Peringkat 37 Kampus Terbaik di Indonesia Versi UniRank

 

Lihat videonya di bawah ini mulai menit ke-5.55:

(TribunWow.com/Mariah Gipty/Anung Malik)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved