Berita Nasional

3 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Kopassus & Denjaka Pernah Diturunkan Buru Perompak Filipina Itu

3 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Kopassus & Denjaka Pernah Diturunkan Buru Perompak Filipina Itu

3 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Kopassus & Denjaka Pernah Diturunkan Buru Perompak Filipina Itu
Kolase/ist
Denjaka dan Kopassus 

3 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Kopassus & Denjaka Pernah Diturunkan Buru Perompak Filipina Itu

TRIBUNJAMBI.COM - Militan Abu Sayyaf lagi-lagi cari masalah dengan Indonesia, tiga Warga Negara Indonesia (WNI) disandera kelompok militan asal Filipina itu.

Sebelumnya juga, Abu Sayyaf menjadikan nelayan Indonesia dan Malaysia sebagai sandera untuk tebusan, mengancam akan memenggal kepala semua sanderabila tebusan belum dikirimkan.

Video yang muncul di Facebook pada 14 Februari lalu memaparkan seorang lelaki Indonesia dengan leher diancam pakai pisau meminta Presiden Indonesia dan pihak berkuasa agar berunding untuk membebaskan mereka.

Video itu dinaikkan seorang pengguna facebook dengan nama Kim Hundin pada jam 5 pagi waktu setempat.

Kedua sandera dengan wajah tertutup terlihat dalam rekaman, diyakini sebagai warga Indonesia, yakni Heri Ardiansyah (19) dan Hariadin (45)

 Abu Sayyaf Kembali Sandera WNI, Prabowo Ngaku Tolak Beri Tebusan, Kopassus dan Denjaka Turun Tangan?

 Taktik Prabowo & Mahfud MD Bebaskan 3 WNI Sandera Kelompok Abu Sayyaf di Filipina, Tak Beri Rp 8,3 M

 Permintaan Khusus Fadli Zon, Kivlan Zen Diterjunkan Untuk Bebaskan 3 WNI dari Abu Sayyaf

 Rekam Jejak Kivlan Zen, Bebaskan 18 WNI dari Kelompok Abu Sayyaf Filipina Hingga Meringkus OPM

 Cari Gara-gara Lagi, Militan Abu Sayyaf Sandera WNI Kembali, Denjaka & Kopassus Pernah Diturunkan

Mereka diculik bersama seorang lagi warga Malaysia bernama Jari Abdulla (24) dari kapal nelayan yang berlabuh di Sandakan, di gugus kepulauan Tawi Tawi Filipina, 5 Disember 2018.

Video tersebut muncul beberapa hari selepas isteri Jari Abdulla, Nadin Junianti Abdullah dihubungi anggota Abu Sayyaf yang memberitahu, mereka tidak asal menerima komunikasi dari pihak berkuasa Malaysia atau perunding untuk membicarakan mengenai pembebasan semua tawanan.

Anggota yang menghubungi dalam bahasa Melayu.

Ketika ditemui di Sandakan pada 14 Februari, Nadin menggesa pihak berkuasa Malaysia agar membebaskan suaminya segera.

Dilansir media malaysia, Bharian, wanita itu mengatakan sudah dihubungi sebanyak dua kali oleh militan tersebut. 

Halaman
1234
Editor: ekoprasetyo
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved