Kisah Militer RI
SOSOK Tatang Koswara, Sniper Kopassus Habisi 49 Musuh hingga Sisakan 1 Peluru untuk Diri Sendiri
TRIBUNJAMBI.COM--Kendatipun umurnya sudah 69 tahun, namun postur tubuhnya masih tegap. Dan bicaranya masih lancar, begitu pula daya ingatnya tajam.
TRIBUNJAMBI.COM--Kendatipun umurnya sudah 69 tahun, namun postur tubuhnya masih tegap. Dan bicaranya masih lancar, begitu pula daya ingatnya tajam.
Dialah sosok legendaris sniper kelas dunia, Peltu (Purn) TNITatang Koswara, veteran perang Timor Timur ketika pertama kali bertemu penulis di bulan Januari awal 2014.
Dalam misi tempur sebagai seorang sniper di medan tempur Timor Timur, salah satu tugas Pak Tatang adalah memburu pimpinan tertinggi Fretilin saat itu (1975), Nicalau Lobato.
Sebagai sasaran paling potensial yang bernilai tinggi, Pak Tatang melaksanakan perburun total terhadap orang nomor satu Fretilin ini secara maksimal. Kadang operasi perburuan Lobato sampai menggunakan helikopter.

Tak hanya Pak Tatang yang ditugaskan secara khusus untuk memburu Lobato, tim dari Pasukan Khusus TNI yang saat itu dipimpin Kapten Prabowo Subianto juga turut diterjunkan dalam operasi tempur bersandi Operasi Nanggala 28 .
• Lihat Banyak Anak Muda di Semak-semak, Sekda Lahat Terkejut, Minta Anak Perempuan Tak keluar Malam
Butuh perjuangan keras untuk memburu Lobato karena tokoh nomor satu Fretilin itu dijaga secara berlapis. Dalam pertempuran sengit untuk mengejar Lobato, Pak Tatang bahkan tertembak di betis kaki kirinya.
Tapi setelah membebat luka tembak dengan bendera merah putih seukuran sapu tangan yang selalu dibawanya, Pak Tatang tetap melanjutkan pertempuran.
‘’Seorang sniper sejati sebenarnya yang bertempur hingga gugur di medan perang. Tapi saya bersyukur bisa selamat dari medan perang dan bisa pulang serta bercerita mengenai pengalaman tempur saya,’’ papar Pak Tatang.
Kisah Perang Pak Tatang
Ketika konflik bersenjata di Timor-Timur makin merugikan pasukanTNI, Tatang yang saat itu sudah selesai mengikuti pendidikan sniperdan kursus antiteror yang diselenggarakan oleh personel pasukan Baret Hijau militer AS (Green Beret) di Pusat Pendidikan Kopassus Batu Jajar, Bandung dengan hasil memuaskan benar-benar telah tercetak sebagai prajurit sniper yang siap tempur.
• Aktor Gaek Jeremy Thomas Jadi Tersangka, Dituduh Menculik Patrick Moris, Ngaku Diculik Jam 2 Pagi
Namun, sebagai personel organik di satuannya, Tatang juga masih aktif bertugas di lingkungan Pussenif dan menjabat sebagai Bintara Komandan Peleton Komunikasi (Baton Tonkom) berpangkat Sersan Satu (Sertu).
Tugas utama Tatang di Pussenif adalah menguji persenjataan tempur ringan TNI AD setelah diperbaiki atau dikembangkan seperti senapan AK-47 dan G-3. Kadang Tatang menguji banyak senapan serbu dengan cara menembakkan ke sasaran sehingga melalui kesempatan uji senjata itu akurasi tembakan jitunya selalu terpelihara.
Tatkala tiba di Timor Timur pada tahun 1977, Tatang yang membawa lengkap perlengkapan tempur sniper seperti pakaian kamuflase, senapan andalan Winchester M-70 yang sudah dilengkapi peredam, teleskop untuk keperluan tempur siang dan malam, peluru-peluru kaliber 7.62 mm yang dibuat khusus oleh AS, dan senapan serbu AK-47 sebagai wahana untuk melancarkan raid, sudah gatal untuk segera bertempur bersama para sniper dari satuan Kopassus.
Tapi tugas awal Tatang, seperti diperintahkan oleh Kolonel Edi Sudarajat sendiri, ternyata hanya mengawal Dansatgas Pamungkas itu yang dalam perannya sebagai Dansatgasus juga harus turun ke medan tempur.
• SIAPA Sangka Artis Cantik Ini Punya Tambang Batubara & Bisnis Konstruksi: Diwariskan ke 2 Anaknya
Pengawalan Tatang terhadap Kolonel Edi pun bersifat pribadi dalam artian jika Dansatgasus itu diserang musuh, Tatang harus siap sebagai tameng hidup dari terjangan peluru.