Berita Jambi

Lukah Gilo Tarian dari Desa Baru, Muaro Sebo, Antara Cerita Mistis dan Hiburan Anak-anak

Lukah Gilo Tarian dari Desa Baru, Muaro Sebo, Antara Cerita Mistis dan Hiburan Anak-anak

Lukah Gilo Tarian dari Desa Baru, Muaro Sebo, Antara Cerita Mistis dan Hiburan Anak-anak
Tribunjambi/Nurlailis
Lukah Gilo Tarian dari Desa Baru, Muaro Sebo, Antara Cerita Mistis dan Hiburan Anak-anak 

Lukah Gilo Tarian dari Desa Baru, Muaro Sebo, Antara Cerita Mistis dan Hiburan Anak-anak

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Lima orang penari remaja membawa boneka yang terbuat dari bambu.

Mereka menari mengikuti musik yang dimainkan. Perlahan-lahan gerakan penari semakin cepat dan bergerak seolah menahan diri karena mengikuti gerakan boneka.

Boneka itu disebut lukah. Jelas Ketua Komunitas Beladas Besamo, Oki. Tarian tersebut bernama lukah gilo yang berasal dari permainan anak asal Desa Baru, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muarojambi.

Bambang Widjojanto Endus Bau Sangit Kolusi Pemilihan Pimpinan KPK, Selamat Datang Otoritarianisme

Mengekspresikan Diri Lewat Tarian

Perselingkuhan Pak Kades dengan Istri Warga Terbongkar, Pernah Bersetubuh di Bawah Jembatan Gantung

"Tarian itu diciptakan agar permainan tadi masih bisa dimainkan. Kostum dan peralatan itu dikreasikan sendiri. Kalau aslinya lukah itu lebih besar dan dibisikin semacam mantra yang diucapkan pawang. Kemudian lukah itu bergerak dengan sendirinya," ungkapnya, Selasa (29/10/2019).

Menurutnya, tarian itu menceritakan sebuah permainan tradisional yang kental akan sebuah cerita mistis. Dulu permainan ini adalah hiburan untuk anak-anak desa.

Permainan lukah gilo dimainkan setelah salat magrib menjelang salat isya. Sebelum permainan dimainkan, semua kulop-kulop (anak laki-laki) dan supek-supek (anak gadis perempuan), dilarang untuk keluar rumah disaat masuk waktu salat magrib.

Tarian Lukah Gilo, yang dimainkan anak-anak
Tarian Lukah Gilo, yang dimainkan anak-anak (Tribunjambi/Nurlailis)

Itulah pantangan atau syarat besar permainan ini. Sinjo buto, itulah sebutan masyarakat lokal sini.

Sinjo buto itu adalah waktu masuknya salat magrib. Dimana pada waktu itu masyarakat sini sangat mempercayai bahwa itu waktunya makhluk halus berkeliaran. Terutama yang sangat mereka takuti itu antu kopek/ wewek gombel.

Setelah sholat magrib selesai, barulah anak-anak mereka diizinkan keluar. Untuk membujuk anak-anaknya supaya gembira lagi, dimainkan lah permainan lukah gilo tersebut.

‌"Sekarang permainan lukah gilo dimainkan untuk menyambut pesta panen dan menjadi sebuah hiburan besar bagi masyarakat sini," ujarnya.

Lukah Gilo Tarian dari Desa Baru, Muaro Sebo, Antara Cerita Mistis dan Hiburan Anak-anak (Tribunjambi.com/Nurlailis)

Penulis: Nurlailis
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved