Terbelit Hutang, Akankah Sriwijaya Air Bernasib Sama dengan Merpati & Mandala Airlines?

Maskapai Sriwijaya Air tengah dirundung masalah. Maskapai tersebut terancam tak lagi mengudara di langit Indonesia.

Editor: Suci Rahayu PK
Kontan
Sriwijaya Air 

Sriwijaya Air dianggap belum berhasil melakukan kerja sama dengan JAS Engineering atau MRO lain terkait dukungan line maintenance.

Hal ini berarti risk index masih berada dalam zona merah 4A (tidak dapat diterima dalam situasi yang ada), yang dianggap bahwa maskapai tersebut dianggap kurang serius terhadap kesempatan yang diberikan pemerintah untuk melakukan perbaikan.

Atas dasar itu, maka pemerintah sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air stop operasi karena berbagai alasan.

Sehubungan dengan hal tersebut dan setelah diskusi dengan Direktur Teknik dan Direktur Operasi sebagai pelaksana safety, maka direkomendasikan Sriwijaya Air menyatakan setop operasi atas inisiatif sendiri (perusahaan) atau melakukan pengurangan operasional disesuaikan dengan kemampuan untuk beberapa hari ke depan, karena alasan memprioritaskan safety.

Namun, rekomendasi tersebut tak diindahkan oleh Plt Dirut Sriwijaya Jefferson.

Karena tak mau menanggung resiko yang mungkin terjadi, Direktur Operasi Sriwijaya Air Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Sriwijaya Air Ramdani Ardali Adang mengundurkan diri dari jabatannya.

“Kami memutuskan untuk mengundurkan diri untuk menghindari conflict of interest," ujar Fadjar di Jakarta, Senin (30/9/2019).

Jika permasalahan yang menerpa Sriwijaya tak kunjung diselesaikan, bukan tak mungkin maskapai itu akan bernasib sama seperti Mandala dan Merpati Airlines.
Karena masalah utang, Mandala berhenti beroperasi pada tanggal 12 Januari 2011.

Akhir Februari 2011, para kreditur menyetujui restrukturisasi utang Mandala menjadi saham dan kembali beroperasi pada bulan Juni 2011.

Sebagai bagian restrukturisasi, pemegang saham mayoritas adalah PT Saratoga Investment Group (51 persen), Tiger Airways dari Singapura (33 persen), serta pemegang saham lama dan para kreditur (16 persen).

Namun, Mandala menghentikan kegiatan operasionalnya mulai 1 Juli 2014 lantaran kondisi pasar turun dan biaya operasional membengkak karena depresiasi rupiah.

Hal yang sama juga menimpa Merapati Airlines.

Maskapai milik pemerintah Indonesia yang didirikan pada 6 September 1962 itu berhenti beroperasi pada 1 Februari 2014.

Alasannya karena permasalahan keuangan akibat terlilit utang sebesar Rp 10,72 triliun.

Nah semoga drama Sriwijaya Air ini tidak berlarut-larut dan bisa berakhir dengan baik untuk semua pihak.

Sehingga tak harus menyusul Mandala Airlines maupun Merpati...

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Akankah Sriwijaya Air Tak Terbang Lagi Menyusul Merpati dan Mandala Airlines?", https://money.kompas.com/read/2019/10/01/073800326/akankah-sriwijaya-air-tak-terbang-lagi-menyusul-merpati-dan-mandala-airlines-?page=all.
Penulis : Akhdi Martin Pratama

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved