Petani Karet di Sarolangun Terpaksa Berendam 10 Jam di Sungai Demi Butiran Emas

Aktivitas pendulangan emas tradisional mulai menjamur di kawasan bibir Sungai Batang Tembesi, Kabupaten Sarolangun.

Petani Karet di Sarolangun Terpaksa Berendam 10 Jam di Sungai Demi Butiran Emas
Tribunjambi/Wahyu Herliyanto
Petani karet di Sarolangun harus rela berendam air mendulang emas untuk mencukupi kebutuhan hidup. 

Petani Karet di Sarolangun Terpaksa Berendam 10 Jam di Sungai Demi Dapatkan Emas

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN-Aktivitas pendulangan emas tradisional mulai menjamur di kawasan bibir Sungai Batang Tembesi, Kabupaten Sarolangun.

Dari pantauan, pekerja yang rerata petani karet yang beralih menggantungkan hidupnya dengan mendulang emas di bawah Jembatan Beatrix.

Dengan harga komoditi karet yang semakin menurun, membuat sebagian warga harus memutar strategi agar bisa mencukupi kebutuhan.

Pagi-pagi, terlebih dahulu mereka masuk ke bibir sungai hingga tengah sungai. Berbekal sekop dan benjana (wajan) untuk mendulang emas.

Baca: Penghuni Kaget, Tiba-tiba Biaya Perawatan Meteran Air Rusunawa Bangko Naik 50 Persen

Baca: Harga Karet Turun, Warga Sarolangun Pilih Mendulang Emas

Baca: MMKSI Perkenalkan Mitsubishi New Triton di Kota Jambi

Dengan menahan rasa dinginnya air sungai, dan bertahan berjam-jam di dalam sungai demi butiran emas yang mereka inginkan.

Tak ada rasa kecewa ketika mereka melakukan aktivitas itu. Mereka pantang pulang sebelum mendapatkan butiran emas.

Terlihat juga puluhan tancapan kayu yang menandakan bahwa lokasi itu ada pemiliknya.

Salah seorang pendulang emas, Yusnaini mengaku jika sehari memang tidak menentu mendapatkan emas hasil mendulang.

Puluhan orang di Sarolangun mendulang emas di bawah Jembatan Beatrix lantaran harga karet turun.
Puluhan orang di Sarolangun mendulang emas di bawah Jembatan Beatrix lantaran harga karet turun. (Tribunjambi/Wahyu Herliyanto)

Hasil berupa butiran emas itu terkadang ia dapatkan seberat satu gram dalam waktu satu hari pendulangan.

Pendulangan ia lakukan dari waktu pagi pukul 07.00 WIB sampai sore hari pukul 17.00 WIB.

Satu gram emas yang masih dalam butiran itu ia jual seharga 500 ribu lebih. Hal ini karena ia belum mempunyai alat untuk pemadatan emas.

"Jualnyo kayak gini lah(serbuk) satu gram 500 ribu lebih, kadang kurang dari satu gram," ujarnya Yusnaini, Rabu (25/9).

Baca: Bentrokan Pecah, Dua Mahasiswa Luka dalam Aksi di Kantor Gubernur Jambi Hari ini

Baca: Seribuan Mahasiswa Duduki Kantor DPRD Provinsi Jambi, Ini yang Dituntut dari Pemerintah

Baca: Biaya Perawatan Meteran Air Rusunawa Bangko Naik 50 Persen, Penghuni: Itu Akal-akalan Pengelola

Meski demikian ia tetap memanfaatkan musim kemarau ini untuk mencari rezeki dengan mendulang emas.

Ia berharap agar harga karet bisa naik dan normal kembali dan tidak mengandalkan pendulangan emas kembali. (Cwa)

Penulis: Wahyu Herliyanto
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved