Warga Desa Arang Arang Mulai Terpapar Asap Kebakaran Gambut
Suasana kabut pekat terasa mengeringkan kelopak mata, meski masker dikenakan aroma pekat asap pembakaran dari tanah gambut begitu menyengat.
Penulis: Dedy Nurdin | Editor: Teguh Suprayitno
Sarkim (54) yang juga rekan kerja Zulkarnain diperusahaan dan MPA mengatakan lokasi kebakaran gambut saat ini juga pernah terbakar di tahun 2015 lalu.
Baca: Konser Band Kotak di Sarolangun Sempat Terhalang Ketentuan Adat, Polisi dan Pemda pun Turun Tangan
Baca: Sinopsis Film Terminator Salvation Tayang Hari Ini, Bioskop Trans TV, Aksi John Connor Lawan Skynet
Baca: Manfaat yang Luar Biasa Baca Surat Yasin pada Malam Jumat, Ini Penjelasan Ustaz Abdul Somad
Baca: Konser Band Kotak di Sarolangun Sempat Terhalang Ketentuan Adat, Polisi dan Pemda pun Turun Tangan
Bahkan upaya pemadaman juga sulit, menurutnya salah satu cara yang bisa meredam meluasnya lokasi kebakaran dengan menggunakan nozel air yang bisa ditusukkan langsung ke dalam tanah.
"Kita alatnya tidak ada, kalau ada mungkin lebih efektif. Tahun 2015 saya ikut juga memadamkan dan itu pun sulitnya sama seperti sekarang," ujarnya.
Ia mengatakan sudah 11 hari terakhir jarang pulang ke rumah. Sepanjang hari ia bekerja memadamkan kebakaran ia berharapa agar kebakaran tahun 2015 lalu dan dampaknya tar terulang lagi.
"Bahaya ngeri soalnya, ini aja jarang pulang rumah. Setiap hari pake masker dan banyak minum air putih, kalau ndak bisa sesak nafas di sini. Kalau ngingat tahun 2015 lalu wah itu ngeri lah," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/08082019_kebakaran.jpg)