Breaking News:

Warga Desa Arang Arang Mulai Terpapar Asap Kebakaran Gambut

Suasana kabut pekat terasa mengeringkan kelopak mata, meski masker dikenakan aroma pekat asap pembakaran dari tanah gambut begitu menyengat.

Tribunjambi/Deddy Nurdin
Dua orang petugas memadamkan kebakaran di lahan gambut di perbatasan desa Sipin Teluk Duren dan desa Arang-Arang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi pada Rabu (7/8/2019). 

"Malah beberapa hari ini ada water bombing dari helikopter, tetap juga karena api di dalam bukan di atas tanah. Makanya padam di atas di bawah tetap nyala seperti dalam sekam," ujarnya.

Dalam waktu 11 hari kebakaran, saat ini warga di Desa Arang-Arang dan Sipin Teluk Duren pun mulai merasakan dampaknya.

Asap pun dalam beberapa hari terakhir mulai merambah pemukiman warga, terutama di malam hari. Asap pekat tak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga pernafasan warga.

"Dia terasanya malam, jam 9 malam ke atas asapnya turun pekat, jadi bernafas itu terasa kering terus hidung dan tenggokan," kata Zulkarnain.

Namun sampai sejauh ini Zulkarnai mengatakan belum ada dampak langsung yang terasa akibat paparan kabut asap di desanya. "Sekarang belum yang mengeluh seperti apa yang jelas kami rasakan kalau malam sampai di dalam kamarpun asapnya masuk. Dan bernafas terganggu rasanya," katanya.

Sarkim (54) yang juga rekan kerja Zulkarnain diperusahaan dan MPA mengatakan lokasi kebakaran gambut saat ini juga pernah terbakar di tahun 2015 lalu.

Baca: Konser Band Kotak di Sarolangun Sempat Terhalang Ketentuan Adat, Polisi dan Pemda pun Turun Tangan

Baca: Sinopsis Film Terminator Salvation Tayang Hari Ini, Bioskop Trans TV, Aksi John Connor Lawan Skynet

Baca: Manfaat yang Luar Biasa Baca Surat Yasin pada Malam Jumat, Ini Penjelasan Ustaz Abdul Somad

Baca: Konser Band Kotak di Sarolangun Sempat Terhalang Ketentuan Adat, Polisi dan Pemda pun Turun Tangan

Bahkan upaya pemadaman juga sulit, menurutnya salah satu cara yang bisa meredam meluasnya lokasi kebakaran dengan menggunakan nozel air yang bisa ditusukkan langsung ke dalam tanah.

"Kita alatnya tidak ada, kalau ada mungkin lebih efektif. Tahun 2015 saya ikut juga memadamkan dan itu pun sulitnya sama seperti sekarang," ujarnya.

Ia mengatakan sudah 11 hari terakhir jarang pulang ke rumah. Sepanjang hari ia bekerja memadamkan kebakaran ia berharapa agar kebakaran tahun 2015 lalu dan dampaknya tar terulang lagi.

"Bahaya ngeri soalnya, ini aja jarang pulang rumah. Setiap hari pake masker dan banyak minum air putih, kalau ndak bisa sesak nafas di sini. Kalau ngingat tahun 2015 lalu wah itu ngeri lah," ujarnya.

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved